"Katanya tadi mau ngomong, emang mau ngomong apa, sih?" tanya Juna meletakkan dagu di puncak kepala Diva. Ia memeluk gadis itu dari belakang, membiarkan Diva bersandar di dadanya. Diva langsung memutar tubuh mendengar pertanyaan itu. Dia baru mengingatnya sekarang, mengapa meminta Juna untuk bertemu di sini. Hampir saja dia lupa karena kelembutan pemuda itu. Sebenarnya nggak terlalu penting, sih." Diva tersenyum madu. "Nggak yakin juga kamu mau. Lagian kayaknya kamu nggak bakalan bisa, deh, Juna." Pemuda itu mengerutkan alis, bingung dengan apa yang dikatakan gadisnya. "Apaan, sih, Be?" tanyanya penasaran. "Apa yang aku nggak bisa?" Diva mengerucutkan bibir, dia ragu untuk meminta pada Juna. Namun, dia juga tidak bisa membiarkan Juna selalu tiba di sekolah selalu hampir bertepatan den

