Agam terus memperhatikan Kirana yang tengah menyapu lantai dengan ceria, sepertinya Kirana memang gadis yang periang. Jauh dari perkiraan Agam Kirana saat ini justrul tengah memikirkan bagaimana caranya ia bisa mempertahankan beasiswa di sekolahnya sekarang. Resiko berat sedang Kirana tanggung karena masa depannya nanti harus ia perjuangkan saat ini.
Samsul melirik Kirana, "Na lo nyapu aja ceria amat." celetuknya kemudian heran.
Kirana menoleh, sapu yang ia pegang miring kini tegak ditangannya "Lo mah gue semangat lo ngomong. Gue gak mood lo omongin juga. Dasar manusia," balas Kirana kesal, kemudian ia melanjutkan lagi menyapu lantai yang masih kotor.
"Jangan dengerin dia, emang rada rada ni anak." Bela Agam pada Kirana, sebenarnya bukan membela lebih tepatnya setuju pada ucapan Kirana karena mereka memiliki ketua kelas yang cukup rempong dalam segala hal. Padahal ia laki laki, apalagi jika ketua kelas mereka perempuan mungkin beda lagi ceritanya yang akan terjadi nanti.
"Hmmm sejak kapan kalian sekongkol jatuhin gue." Samsul melirik sinis Agam dan Kirana.
Ani yang kini tengah fokus membaca buku pun ikut berkomentar karena kesal dengan keganduhan tersebut, "Woy berisik ih. Samsul lo diem napa gue lagi belajar nih."
"Oh lo juga ikutan mojokin gue?"
"Ish gue bukan mojokin elo, tapi emang lo berisik." Kesal Ani karena Samsul salah paham dengan ucapannya.
"alah, noh si Agam sama Si Kirana aja berisik gak lo omelin."
Kirana menoleh, "Ani lo belajar di luar aja yah biar gue yang dengerin ceramah ketua kelas yang baik hati ini." Ani tersenyum dengan ucapan Kirana, tanpa pikir panjang ia langsung keluar meninggalkan mereka bertiga di dalam kelas.
"Lo sih berisik," Ledek Agam yang kini membantu Kirana menyapu lantai karena semua kursi sudah ia angkat ke atas meja sesuai intruksi dari sang ketua kelas.
"Demi kalian gue kayak gini," bela Samsul tidak ingin harga dirinya jatuh dengan ucapan Agam barusan.
Kirana menghentikan percakapan mereka "Gam lo mau bantuin ngepel lantainya gak?" ucapan Kirana membuat Agam mengangguk.
"Oke yuk ambil ember," ajak Kirana.
"Samsul tolong ini dikit lagi beresin yahhh." Kirana menyerahkan sapu ditangannya pada Samsul.
Smasul terdiam saat Kirana mengambil tangannya lembut. "Eh kok gue?" sadarnya seketika.
"Gue sama Agam mau ambil lap pel sama ember di bawah."
"Tolong yah." Timpal Agam kemudian berlalu sambil menarik tangan Kirana keluar.
Samsul membanting sapu yang ia pegang "Ogah woy." teriaknya karena Agam dan Kirana meninggalkannya begitu saja.
Namun teriakannya percuma saja karena Kirana dan Agam sepertinya tidak peduli dengan teriakan Samsul.
Jam pelajaran pertama sudah dimulai sejak lima menit yang lalu, guru matematika di depan sana kini begitu bersemangat menjabarkan rumus demi rumus yang menurut Kirana semua siswa dan siswi sangat membosankan tapi itu tidak berlaku bagi Kirana.
Kirana sebisa mungkin harus benar-benar menguasai semua mata pelajaran yang ada. Demi satu tujuan, yaitu mempertahankan beasiswa yang sudah ia dapatkan dengan susah payah.
"Pak ribet amat rumusnya," Celetuk Agam dengan santai.
"Kalau pengen mudah gak usah sekolah." balas Pak Rio guru matematika mereka saat ini.
"Gimana yang belakang keliatan gak tulisan bapak ini?" Tanya pak Rio pada barisan muridnya yang duduk di posisi paling belakang.
"Keliatan Pak."
"Oke, tugasnya simple banget kok. Kalian cukup kerjain tugas yang ada dibuku dengan mengacu pada rumus yang bapak tulis ini." Pak Rio nampak membuka bukunya dan mengamati dengan seksama.
"masing masing pak?" tanya Kirana memastikan karena tugas yang begitu banyak tersebut.
"Enggak, kali ini tugasnya berkelompok dulu. itung-itung kalian saling mengenal satu sama lain." Jawab Pak Rio.
Semua murid tersenyum bahagia sekaligus was-was takut jika mereka mendapat anggota kelompok yang malah tidak paham apa-apa.
"Kocok aja pak kelompoknya!" saran Samsul percaya diri.
"Bagi aja pak sama bapak."
"Milih sendiri aja pak."
"Eh kok jadi berisik gini sih, gimana bapak dong mau pakai cara apa." lerai Pak Rio. kelas benar-benar berubah menjadi gaduh. Mereka tidak ingin mengerjakan tugas matematika sendiri-sendiri karena merasa tidak yakin dengan kemapuannya.
"Oke ini bapak udah ada pilihan yah, ada dua gelas yang isinya masing masing nama kalian." tunjuk pak Rio pada dua gelas yang ia pegang ditangannya menunjukkan sebagai contoh saja.
"kok dua pak? emang mau dibagi dua kemlompok?" tanya Samsul heran.
"enggak, satu kelompok terdiri dari dua orang saja." ucapan pak Rio membuat semuanya menghela nafas berat itu artinya mereka hanya akan mendapatkan satu teman kelompok.
"mudah mudahan gue samao yah." ucap Natasya pada Kirana karena ia benar benar berharap akan satu kelompok dengan yang tepat. dan sejauh ini Kirana masih memjadi orang yang handal dalam hal.pelajaran disekolahmya.
bersambung.