59 ; Precious Gift

2674 Kata

Vigo mengerutkan keningnya. Saat yang menyambutnya di pintu masuk adalah Bude Sari, bukan Yena. Padahal biasanya Yena selalu menyambutnya dengan senyuman manis. Langsung dihadiahi pelukan hangat. Membuat rasa lelah setelah bekerja seharian menguap begitu saja. “Ibu ada di ruang tengah, Pak. Dari tadi pusing dan mual. Badannya juga panas. Sudah dibujuk ke dokter tapi ndak mau,” jelas Bude Sari. Memahami kebingungan yang tergambar jelas dari wajah Vigo. Anggukan singkat. Raut bingung itu berubah khawatir. Apalagi saat mendapati Yena yang berbaring di sofa panjang ruang tengah. Matanya terpejam erat dengan bibir pucat. Mbak Laras ada di sana. Duduk lesehan sembari memijat kaki Yena. Telapak tangannya menyentuh kening Yena untuk memeriksa suhu tubuh. Ya, badan Yena panas. Vigo merendahkan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN