Ibu menggenggam tanganku yang dingin. "Terimakasih sudah memulangkan Ranisa dengan baik-baik pada kami," ucap Ibu. Mas Arya tak menjawab, ia pun kini lebih banyak menunduk. Cincin pernikahan yang selama enam tahun ini tak pernah terlepas di jari manis ku lepaskan di hadapan Mas Arya. Sebagai tanda, bila aku menerima talak satu yang ia berikan. Tak ada lagi perbincangan di antara kami yang serius, bahkan harta pun tidak kami bahas. Mas Arya hanya pernah mengatakan aku boleh mengambil semua yang aku inginkan, ia tak akan sama sekali melarang. Tapi aku tidak serakus itu, aku hanya meminta hak yang seharusnya aku dapatkan. Tak ada yang kami bicarakan lagi, baik aku atau dia kami larut dalam kepasrahan. Aku mengantarkannya sampai ke mobil, rintik hujan turun sejak tadi tanpa menderas. Aku

