PEMBUKAAN KANTOR CABANG

1513 Kata
Suasana rumah keluarga Salim nampak sedikit sibuk malam itu. Pak Salim nampak sudah siap dengan dandanan jas warna hitamnya, sementara istrinya sudah rapi dengan kebaya dan sanggul besar di kepalanya. Raut muka mereka nampak begitu sumringah. Apalagi yang bisa membuat mereka bangga selain pelantikan putra semata wayangnya, Dhani Hendrawan Salim, sebagai Kepala Cabang kantor barunya yang diresmikan beberapa saat lagi. Dhani, keluar dari kamarnya dengan setelan jas warna navy, sementara Soraya sudah terlihat seksi dengan dress panjang ketat yang memperlihatkan lekuk tubuhnya dengan warna senada dengan suaminya. Seharusnya Aira lah yang malam ini mendampingi suaminya itu dalam pelantikan malam ini. Tapi apalah daya, malang tak dapat ditolak untung tak dapat diraih. Dhani telah memiliki pendamping lain untuk acara membanggakannya malam ini. Istri mudanya yang juga berprofesi sebagai sekretarisnya selama ini. "Ayo buruan, Le. Nanti kita terlambat lho!" teriak sang Ibu dari ruang tamu. "Iya, Bu. Ini sudah selesai kok. Tinggal berangkat," sahut Dhani sambil berjalan menghampiri kedua orang tuanya yang sedari tadi sudah duduk dengan tidak tenang di ruang tamu. Mereka semua tidak sabar dengan acara malam ini. Melihat Dhani yang akan menjabati posisi barunya sebagai pimpinan cabang, betapa sangat membuat kedua orang tua yang gila harta dan kedudukan itu begitu bangga. "Aira apa kamu suruh untuk datang juga, Le?" tanya si Ibu saat mobil Dhani mulai melaju meninggalkan pelataran rumah. "Nggak, Bu. Aku sudah bilang sama boss kalau istriku sibuk ngurusi anak-anak. Jadi boss akan maklum dengan itu," jawab Dhani di belakang stir dengan santainya. "Oh, baguslah kalau begitu. Jadi nanti boss kamu tidak akan curiga kalau kamu didampingi Soraya. Dia akan tetap jadi sekretaris kamu kan di kantor barumu nanti?" tanya ibunya lagi. "Iya lah, Bu. Aku sendiri yang minta sama pak Hermawan agar Soraya ikut dipindah ke sini juga. Kebetulan kan kota tempat tinggalnya juga dekat. Jadi Pak Hermawan oke oke saja." Kedua orang tuanya nampak mengangguk senang. "Ngomong ngomong, kamu sudah jadi ketemu sama anak-anakmu, Dhan?" tanya sang bapak. "Belum Pak. Alif sepertinya marah. Dia nggak mau ketemu aku." "Ya sudah, biarkan saja dulu. Nanti kalau marahnya sudah reda, pasti semuanya akan normal seperti biasa. Tenang saja, Dhan. Bapakmu ini sudah pengalaman soal itu." Dia terkekeh. "Iya, Pak." "O iya, Soraya, rencana kamu nanti apa akan terus bekerja kalau kehamilanmu sudah semakin besar, Nduk?" "Biar nanti Soraya di rumah saja, Bu. Ngurusin anak kami kalau sudah waktunya mendekati kelahiran," sahut Dhani. "Nggak, Mas. Aku nggak mau. Aku tetep mau bekerja jadi sekretarismu," rengek wanita itu. "Lho, lha nanti anak kita gimana? Siapa yang ngurus kalau kamu bekerja?" "Ya gampang lah, Mas. Kan bisa cari baby sitter. Aku nggak mau kamu nyeleweng nanti kalau ada sekretaris baru di kantor yang nemenin kamu." Soraya terlihat cemberut. "Lhoh, lhoh, berarti kamu nggak percaya, Nduk, sama suamimu. Sebagai perempuan ya tugasmu harusnya di rumah, mengurus dan mendidik anak-anakmu. Biar bisa jadi anak-anak yang pinter," ceramah sang ibu mertua. "Tapi mas Dhani itu kalau di kantor genit, Bu. Makanya Soraya sampai klepek klepek. Kalau nanti dia punya sekretaris baru trus digenitin lagi, nikah lagi. Trus Soraya gimana?" rengeknya lagi. "Ealah, lha kok malah jadi gini." Sekarang bu Salim malah terkikik mendengar celotehan Soraya yang ngalor ngidul. Sementara Dhani dan Pak Salim menggeleng gelengkan kepala. "Soraya, Soraya, ada ada saja kamu ini!" . . . Kurang dari satu jam perjalanan, akhirnya rombongan Dhani sampai di hotel tempat diadakannya acara pelantikan. Satu ruang pertemuan yang disewa khusus untuk acara pembukaan cabang baru dan di kota itu. Dhani nampak sangat percaya diri saat memasuki ruangan dan langsung menemui direktur utama perusahaan, pak Hermawan. Mulai dari lobby hotel tadi, sudah ada beberapa karangan bunga bertuliskan ucapan selamat untuk pembukaan kantor baru dan pelantikan kepala cabang Bapak Dhani Hendrawan Salim. Dan itu pastilah dari teman-teman Dhani. Pak Hermawan dan istri nampak menyambut Dhani dengan sikap wajar. Lalu mereka pun menempatkan diri di kursi depan, sementara para tamu undangan mulai berdatangan dan kursi untuk karyawan-karyawan baru yang telah direkrut pun nampak terisi penuh. . . . Aira bergegas menuju mobilnya saat Alif mengejarnya. "Buk, biarin Alif ikut," rajuknya. "Nggak, Mas. Kamu di rumah aja. Biar Ibu sendiri yang kesana." Aira berhenti di depan pintu mobil. Mencoba memberi pengertian pada anak sulungnya. "Tapi Alif khawatir ibu kenapa napa nanti di sana." "Nggak akan kenapa napa, Sayang. Ibuk bisa jaga diri. Ya? Jangan khawatir!" Aira memegang pipi sang buah hati, lalu buru-buru membuka pintu mobil. Sebentar kemudian, mobil pun melaju dengan cepat meninggalkan rumah diiringi tatapan mata Alif yang penuh kekhawatiran. "Ibuk mau kemana sih, Mas? Kok buru buru gitu?" Shofia rupanya sudah memperhatikan dari tadi obrolan ibu dan kakak sulungnya itu. "Enggak tau, Dek. Mungkin kondangan," kata Alif sekenanya. Lalu melangkah masuk merangkul bahu sang adik. "Ibuk cuma mau kondangan kok Mas Alif mukanya begitu. Kayak cemas gitu?" "Siapa yang cemas? Enggak kok. Mas nggak cemas. Biasa aja." "Shofia tau kok Mas, kalian tadi ngributin apa." "Kalian siapa?" "Mas Alif ... sama Ibuk." "Ngributin apa memangnya?" Alif mengerutkan dahinya. "Ibuk mau ke acara pengangkatan ayah jadi pimpinan kantor kan? Kenapa ibuk nggak dijemput ayah? Apa ayah sudah pergi sama istrinya yang baru?" Alif mendesah. Kasihan melihat adiknya. "Dah lah, Shofi nggak usah ikut mikirin itu. Itu urusan orang tua. Yang penting Shofi sekarang sekolah yang bener. Ya?" "Mas Alif juga masih sekolah, tapi Ibu ngebolehin Mas Alif ikut mikir. Kenapa Shofi nggak boleh? Shofi mau ke tempat Eyang. Shofi mau bicara sama ayah. Kalau perlu, Shofi mau usir istrinya ayah itu dari rumah eyang. Shofi benci sama dia." "Sssst! Ngomong apa sih? Udah ah, masuk kamar aja ya? Biar Mas Alif yang nungguin ibu." "Enggak. Shofi juga mau nungguin ibuk. Kasian Ibuk. Huhuhuhu." Dan anak itupun menangis sesenggukan. Alif yang melihat itu segera merengkuh adiknya dalam pelukan.. "Udaah. Nggak usah nangis. Kalau shofi sedih, nanti ibu juga ikutan sedih." "Tapi Shofi kasihan Mas sama Ibuk." "Kalau Shofi kasihan sama Ibu, makanya Shofi harus rajin belajar, biar besok jadi orang sukses. Bikin bangga ibuk. Ya?" Dan anak itu pun mengangguk. . . . Aira tiba di pintu ruang acara pelantikan tepat pada saat Pak Hermawan naik ke podium untuk memberikan kata sambutannya. Dalam posisi berdiri, Aira bisa melihat tamu-tamu yang sedang duduk melingkari meja meja bundar di ruangan itu dengan jelas. Termasuk suami dan istri barunya serta kedua mertuanya. Mereka berempat nampak begitu bahagia. Raut wajah yang penuh senyum menatap fokus ke podium. Sesekali saling bicara lalu tertawa kecil. Aira menghela nafas. Seharusnya dia yang ada di sana saat ini. Aira mengangguk saat petugas mempersilakannya duduk di meja bagian belakang karena hanya di sana yang masih ada sisa kursi kosong. Rupanya memang tidak ada yang mengenali Aira di tempat itu. Wajar karena kebanyakan karyawan-karyawan baru dan kantor cabang yang baru. Tidak ada satu pun yang tahu bahwa Aira adalah istri sah dari orang yang mereka sangka akan menduduki jabatan kepala cabang di kantor baru itu sebentar lagi. "... Sebelum saya laksanakan acara pelantikan untuk kepala cabang di kantor baru ini, ijinkan saya sedikit mengucapkan beberapa patah kata terlebih dahulu." "Selama beberapa tahun ini, saya memiliki seorang karyawan teladan dengan dedikasi kerja yang sangat bagus. Kinerjanya juga tak perlu diragukan lagi. Dia adalah Bapak Dhani Hendrawan Salim yang berasal dari kota ini juga. Dan perlu semua tahu bahwa salah satu alasan saya mau mengembangkan cabang di kota ini adalah juga karena beliau ini. Saya sangat mempercayai beliau sehingga saya bermaksud mempercayakan sebuah cabang baru untuk dipimpinnya. Awalnya seperti itu." "Namun ternyata, ada satu hal yang membuat saya begitu kecewa dari Pak Dhani ini, ..." Pak Hermawan nampak menghentikan kalimatnya. Sementara di mejanya, Dhani dan keluarganya nampak kebingungan. Apakah direkturnya ini bermaksud ingin mengerjainya dulu untuk kemudian memberi kejutan? Dan para undangan mulai berbisik -bisik di meja mereka. Mereka pun terlihat bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi. "Pak Dhani ini, di belakang saya, ternyata menjual nama baik saya hanya demi untuk melancarkan keinginannya memiliki istri lagi. Dia mengkhianati istrinya yang setia dan menikah dengan sekretarisnya." Dan hebohlah seluruh ruangan. Riuh rendah mulai terdengar. Sementara wajah Dani dan Soraya nampak merah padam. Begitu pun dengan kedua orang tuanya. "Saya pribadi sangat membenci pengkhianatan. Apalagi itu mencatut nama saya yang dijadikan alasan atas pengkhianatan itu." "Jadi dengan ini, Saya selaku direktur utama sekaligus pemilik perusahaan ini menyatakan pembatalan atas pelantikan bapak Dhani Hendrawan Salim sebagai kepala cabang kantor baru saya malam ini. Tetapi mengingat dedikasinya pada perusahaan selama ini, saya masih mentolerir dengan menurunkan jabatannya menjadi karyawan biasa jika beliau masih ingin tetap bekerja di sini. Dan untuk sekretarisnya, Ibu Soraya, dengan sangat menyesal, saya berhentikan dari jabatannya." "Apa apaan ini, Pak?! Kenapa jadi seperti ini?! Apa yang terjadi ini?!" Dhani mulai panik. Dia berdiri dari kursinya. Begitu pun Soraya yang meracau tidak jelas disampingnya. Sementara ibu Dhani mulai menangis di kursinya, malu. Bapak Dhani, tentu saja terbengong dengan suksesnya. Semua mata sekarang tertuju ke arah dimana keluarga Dhani berada. Sementara itu tak lama kemudian, saat beberapa petugas keamanan yang khusus disewa Pak Hermawan untuk mengamankan acara berhasil menenangkan Dhani dan keluarganya, terdengarlah suara tepuk tangan cukup keras dari arah belakang. Dan sontak semua mata beralih menatap ke seorang wanita berhijab warna gelap di meja belakang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN