2. His Soon-to-be Wife

2360 Kata
"Jadi, lo balik ke Indonesia karena disuruh ketemu sama calon istri lo?" Sejujurnya Melvin ingin memberikan jawaban tidak pada pertanyaan yang baru saja diberikan padanya. Karena sejujurnya, itulah yang Melvin inginkan. Namun, kenyataan justru berbanding terbalik dari apa yang diinginkannya. Kepala Melvin pun terangguk tanpa semangat. "Begitulah. Walau Mami sama Papi belum betul-betul jelasin apa alasan mereka nyuruh gue pulang ke Indonesia, tapi lewat cerita Abby, semuanya udah jelas. Gue mau dijodohin dan ya, pasti disana gue disuruh ketemu sama the so called my soon to be wife." Savero Tarangga, asisten Melvin atau lebih tepat disebut tangan kanannya sejak ia menjabat sebagai direktur dari anak perusahaan Rangkai Bumi di Australia pun terlihat sekali memberikan Melvin ekspresi yang menunjukkan keprihatinan, sekaligus juga kegelian. "Should I pity you or congratulate you?" tanya laki-laki gondrong itu. "You should pity me." "Indeed. Poor you, Melv." Melvin mendengus, namun tidak melayangkan protes apa-apa. Sejujurnya, Melvin juga mengasihani dirinya sendiri karena apa yang diberitahukan oleh Abby minggu lalu terbukti kebenarannya tanpa Melvin perlu menunggu terlalu lama. Hanya selang beberapa hari setelah kedatangan Abby, Melvin dihubungi oleh orangtuanya yang meminta Melvin untuk segera pulang ke Indonesia. Mereka memang tidak mau menjelaskan apa alasan detail mereka meminta Melvin untuk pulang dengan alasan akan memberitahukannya secara langsung kepada Melvin nanti. Namun, Melvin sendiri sudah tahu bahwa alasan orangtuanya meminta Melvin pulang sama dengan apa yang telah diceritakan oleh Abby. Ada dua poin penting, yang pertama perihal Melvin yang dikatakan akan naik jabatan dan untuk yang satu ini Melvin penasaran ingin tahu alasannya, sedangkan yang kedua adalah rencana orangtuanya untuk menikahkan Melvin dengan siapapun itu perempuan pilihan mereka. Untuk masalah yang kedua ini, Melvin hanya bisa berharap semoga tebakan Abby kemarin salah dan ia tidak akan dijodohkan dengan anggota keluarga Sadajiwa. Karena jika iya, maka Melvin akan mempertanyakan banyak hal kepada orangtuanya. "Terus, lo jadi berangkat besok?" Savero bertanya lagi. Melvin mengangguk. "Apa gue perlu ikut?" "Enggak. Lo stay disini dan awasin Abby. Karena selama gue pergi, dia yang bakal gantiin gue." "Okay. Glad to hear that." Melvin menarik senyum simpul. Ia sendiri tahu kalau Savero juga sebenarnya akan merasa sangat berat hati jika Melvin mengharuskannya untuk ikut terbang ke Indonesia. Walaupun lahir dan besar di Indonesia, namun Savero tidak pernah merasa bahagia seumur hidupnya tinggal di tanah kelahiran sendiri. Ceritanya panjang, tapi intinya, Savero masih berdarah Wiratmaja. Namun, ia tidak pernah diakui dan dianggap karena merupakan anak hasil dari hubungan terlarang adik perempuan Arthur Wiratmaja, ayahnya Melvin. Selama ini, keluarga besar Wiratmaja tidak ada yang mau menganggap Savero, kecuali keluarga Melvin. Dan sudah sejak dulu, Savero ikut Melvin tinggal di Melbourne. So, he's not only his assistant and his right hand, but also his cousin and his bestfriend. "Tapi kalau nantinya gue harus pindah ke Indonesia gimana, Ro?" Melvin tiba-tiba mengajukan pertanyaan itu. Savero tidak langsung menjawab, terlihat sekali bahwa lelaki itu sedang berpikir keras. Sementara Melvin menggerakkan kursi kerjanya ke kiri dan kanan, menunggu jawaban Savero. Omong-omong mereka sekarang sedang berada di ruang kerja Melvin yang ada di kantor, jarak yang memisahkan mereka hanyalah meja kerja Melvin yang terbuat dari marbel. Bukan tanpa alasan Melvin bertanya begitu. Ia tahu kalau sebentar lagi, mungkin dirinya akan kembali ke Indonesia. Dan sebagai tangan kanan Melvin, sudah seharusnya Savero ikut karena Melvin tentu akan membutuhkannya. "Kalau lo nggak mau, gue nggak maksa kok. Lo bisa tetap disini dan jadi tangan kanannya Abby." Savero mengerjap, lantas napasnya terhela. "Lebih baik gue balik ke Indo daripada harus menghadapi Abby setiap waktu. You know, how perfectionist she is and that's so annoying." Melvin tertawa. Ia senang dengan jawaban Savero, tapi di sisi lain juga tidak senang dengan bayangan bahwa dirinya harus kembali ke Indonesia yang kini terasa seperti mimpi buruk. Bukan hanya karena sumber patah hatinya ada disana, tapi juga dengan kembalinya Melvin ke Indonesia, maka ia juga akan menikah dengan seseorang yang boro-boro dicintainya, bahkan dikenalnya pun tidak. *** Bagi seorang Melvin Jatmika Wiratmaja yang lebih lama tinggal di Melbourne ketimbang di tanah airnya sendiri, ia selalu saja merasa asing setiap kali tiba di Indonesia. Bukannya apa, namun ia memang lebih familiar dengan seluk beluk Australia daripada Indonesia. Perasaan asing itu pun membuatnya tidak merasa seperti pulang ke rumah. Terlebih lagi, setahun belakangan ini, Indonesia khususnya Jakarta justru memberikan memori yang buruk bagi Melvin. Ia masih ingat bagaimana perasaannya di kunjungan terakhirnya ke Indonesia sekian bulan lalu. Ketika dirinya dengan sangat putus asa masih mengharapkan Gema dan mencari segala cara untuk membuat perempuan itu kembali padanya. Yang dilakukan Melvin waktu itu sukses membuat masalah dimana-mana. Tidak hanya masalahnya dengan Gema, tapi juga masalah antara dirinya dan keluarganya. Sebab karena mengejar Gema, Melvin sampai membatalkan pertunangannya dengan calon yang telah dipilihkan oleh orangtuanya waktu itu. Mirisnya, yang dilakukan Melvin waktu itu justru tidak membuahkan hasil apa-apa. Gema tidak kembali padanya. Sementara Melvin hanya bisa menelan kenyataan pahit tentang alasan sebenarnya Gema mengakhiri hubungan mereka. Karena itu, hati Melvin begitu berat begitu ia menginjakkan kakinya lagi di Indonesia. Sekitar pukul sebelas, jet pribadi milik keluarga Wiratmaja mendaratkan Melvin dengan selamat di Jakarta. Sama sekali tidak ada senyuman yang terukir di wajah Melvin ketika ia sampai. Sebabnya sudah jelas, tidak ada senang yang dirasakan Melvin karena datang kesini. Bahkan untuk tersenyum kepada petugas di bandara maupun supir yang menjemputnya saja Melvin tidak sampai hati. Ia hanya bisa meminta maaf dalam hati kepada mereka yang mungkin saja terlihat sangat menyeramkan di mata mereka. Sekarang Melvin sudah duduk di kursi belakang mobil Alphard yang menjemputnya. Kacamata hitam masih bertengger di hidungnya, sementara ia langsung menyandarkan kepala pada sandaran kursi karena merasa pusing bukan main akibat penerbangan panjang yang baru saja dilaluinya. Supir suruhan orangtuanya baru saja masuk ke dalam mobil setelah meletakkan koper Melvin di bagasi. Pria paruh bayah itu pun menoleh sedikit ke belakang dan memanggilnya, "Maaf, Mas Melvin." Ada kernyitan yang muncul di kening Melvin karena ia merasa aneh mendengar sebutan 'Mas' disematkan untuknya. Ia sungguh tidak biasa mendengar itu. "Kenapa, Pak?" tanya Melvin. "Kita langsung berangkat untuk nemuin Ibu ya, Mas. Tadi saya dikasih tau untuk langsung pergi ke restoran tempat Ibu dan yang lainnya udah nunggu Mas. Katanya mau ngajak Mas makan siang bareng disana." Melvin menghela napas. "Emangnya saya nggak boleh istirahat di rumah dulu ya, Pak?" "Maaf, Mas...tapi Ibu nyuruhnya begitu." Melvin berdecak. Ia tidak bisa menentang karena tidak mau supirnya ini terjebak pada situasi yang tidak menyenangkan. Maka dari itu, meski tubuhnya lelah bukan main dan yang diinginkan Melvin saat ini adalah beristirahat di tempat tidur, pada akhirnya ia tetap menganggukkan kepala pada supirnya. "Yaudah, Pak, kita jalan kesana." Dan mobil pun melaju menuju sebuah restoran fine dining di daerah Jakarta Selatan yang sudah direservasi oleh orangtua Melvin. Di sepanjang perjalanan, Melvin memilih untuk memejamkan matanya dan tidak ingin menerka-nerka apa yang akan terjadi di restoran itu dan siapa saja 'lainnya' yang tadi disebutkan oleh sang supir sedang bersama dengan ibunya. *** Tidak butuh waktu lama bagi Melvin untuk sampai di restoran fine dining yang ternyata terletak di lantai teratas sebuah hotel bintang lima. Nama restorannya Toute la Journèe dan setahu Melvin, restoran itu milik seorang celebrity chef terkenal di Indonesia. Dan restoran itu sering jadi langganan orang-orang dari kalangan kelas atas, termasuk kalangan keluarga Melvin. Begitu sampai disana dan menyebutkan namanya, Melvin langsung diantarkan menuju sebuah ruangan VIP. Saat pintu ruangan tersebut dibuka, Melvin bisa melihat orangtuanya sudah berada di dalam. Dan mereka tidak sendirian. Shit. Melvin mengumpat dalam hati melihat seorang perempuan muda yang juga ada di ruangan itu. Ia tidak tahu siapa perempuan itu dan tidak bisa pula langsung melihat wajahnya begitu ia masuk, karena posisi perempuan itu yang membelakanginya. Namun, Melvin sudah bisa menebak kalau perempuan itu pasti adalah orang yang dimaksudkan untuk jadi calon istrinya. "Hai, Melv...akhirnya kamu sampe juga." Mayana Wiratmaja jadi yang pertama menyambut kedatangan Melvin. Wanita itu berdiri dari duduknya untuk memberikan sebuah pelukan hangat kepada anak laki-lakinya. Sambutan Mayana itu membuat dua orang lagi yang ada di ruangan menoleh. Melvin membalas pelukan sang ibu dan memberinya sebuah kecupan di pipi. Begitu mereka melepaskan diri dari pelukan itu, yang pertama kali dilihat oleh Melvin adalah wajah perempuan itu yang tadi belum sempat dilihatnya. Perempuan itu berambut panjang lurus yang dicat cokelat terang. Garis wajahnya terkesan lembut dan lugu dengan sepasang mata bulatnya yang nampak berbinar, hidungnya yang bangir, dan bibirnya yang berbentuk hati. Bohong kalau Melvin bilang perempuan itu tidak cantik. Karena kenyataannya perempuan itu cantik dan manis, sekali lihat pun orang-orang pasti setuju akan itu. Melvin hanya menganggukkan kepala sopan pada perempuan itu yang tersenyum padanya. Begitu  tatapnya bersinggungan dengan sang ayah sedaritadi hanya diam, tatapan mereka sempat terkunci selama beberapa detik. Seolah menyalurkan pengertian satu sama lain. "Duduk, Melvin." Arthur Wiratmaja akhirnya bersuara dan memutus tatapan mereka. Melvin mengangguk, lantas ia menarik satu-satunya kursi kosong tersisa yang berada tepat di sebelah perempuan itu dan berhadapan langsung dengan ayahnya. "How's your flight?" tanya Arthur. "Not bad," jawab Melvin singkat. Satu-satunya yang bisa Melvin katakan tidak buruk dalam perjalanannya kesini adalah tidak adanya turbulensi. Selain itu, perjalanan Melvin terasa tidak menyenangkan karena ia sendiri tidak sepenuh hati menjalaninya. "Mami tau kamu pasti capek banget habis long flight. Sorry ya, Mami malah langsung nyuruh kamu kesini bukannya istirahat." Melvin mengangguk. "It's okay, Mi." Padahal bohong. Ia sama sekali tidak merasa baik-baik saja. "Mami sengaja mau ngajak kamu lunch bareng dulu sebelum nanti kamu bisa istirahat. Sekalian, Mami sama Papi mau ngenalin kamu sama Azalea." Mayana mengerling pada perempuan di sebelah Melvin yang sedaritadi belum mengatakan apa-apa. Here we go... Diam-diam Melvin terlebih dahulu menghela napas sebelum dirinya memutar badan ke arah perempuan yang disebutkan sebagai Azalea itu dan mengulurkan tangannya. "Melvin Jatmika Wiratmaja, but just call me Melvin," ujar Melvin memperkenalkan diri dengan sopan. Perempuan itu pun menyambut uluran tangan Melvin dan senyumnya kembali merekah. "It's Lea." Ia balas memperkenalkan diri dengan singkat. "Lengkapnya?" "Azalea Sadajiwa." Fuck. f**k. f**k. Umpatan itu secara spontan dirutukkan Melvin dalam hati. Ternyata tebakan Abby memang benar. Ia akan dijodohkan dengan salah satu anggota keluarga Sadajiwa. That fuckin' Sadajiwa family! Tawa merdu Lea terdengar. "Kamu...kelihatannya kaget?" Celetukan Lea itu pun membuat Melvin berdeham dan langsung membenahi ekspresinya. Ia pun melepaskan uluran tangannya, lalu kembali menghadap ke depan, tepatnya pada sang ayah yang kebetulan juga sedang menatap padanya. Seolah mengerti, Arthur pun beranjak dari duduknya. "Papi mau ke toilet dulu," ujar pria itu. Melvin mengikuti. "Aku juga." Sebelum mengikuti ayahnya untuk meninggalkan ruangan, Melvin terlebih dahulu mengangguk sopan pada Lea. "Excuse me," ujarnya. Lea mengangguk. "Sure, take your time." Seperti yang dikatakan oleh Arthur tadi, ia pergi menuju toilet dan Melvin mengikutinya. Kebetulan, toilet sedang kosong ketika mereka masuk. Keduanya berhenti di depan westafel. Tanpa basa-basi lagi, Melvin langsung berujar cepat, "Aku udah tau dari Abby kalau Papi sama Mami nyuruh aku balik ke Indo karena kalian mau jodohin aku. Well, aku turutin kemauan kalian ini dan aku nggak akan ngebatalin apa-apa kayak waktu itu. But seriously, Pi? Kalian jodohin aku sama salah satu anggota keluarga Sadajiwa?" Melvin langsung mengungkapkan semua yang ada di isi kepalanya tanpa perlu berpikir panjang. Sejak Abby menebak bahwa Melvin akan dijodohkan dengan salah satu putri dari keluarga Sadajiwa, sebenarnya ia sudah ingin bertanya langsung kepada orangtuanya, namun masih menahan diri untuk tidak melakukan itu. Berbagai pertanyaan muncul di pikiran Melvin. Salah satunya dan yang paling utama, kenapa harus dari keluarga Sadajiwa?Apa yang ada di pikiran orangtuanya? "What's wrong with them, Melvin?" Melvin tertawa sarkastik begitu sang ayah membalas dengan bertanya seperti itu. "What's wrong with them?" tanya Melvin tidak habis pikir. "Aku rasa nggak mungkin kalau Papi nggak tau tentang rumor yang selama ini melekat di keluarga itu. Bahkan, aku yang nggak tinggal di Indonesia pun tahu segimana besar rumor menyangkut keluarga mereka." "Itu cuma rumor, Melvin. Kamu terlalu berlebihan." Melvin berdecak. "Gimana nggak berlebihan sih, Pi, kalau rumor yang aku dengar selama ini tuh keluarga mereka nggak beres! They have illegal business! They killed people! Gimana bisa Papi malah mau mengikat keluarga kita dengan keluarga yang begitu?" Arthur mengusap wajahnya. Terlihat sekali bahwa ia sama tidak senang sedikit pun dengan apa yang barusan dikatakan oleh Melvin. Sekali lagi beliau mengulang, "Kamu terlalu berlebihan. Itu cuma sebatas rumor." "Kalau cuma sebatas rumor, terus kenapa keluarga Sadajiwa selalu terkesan misterius dan ditakuti? Padahal, bisnis yang mereka tunjukkan selama ini nggak terlalu besar dan mereka bukan dari kalangan old money." "Enough, Melvin." "Tell me, Pi, what's behind all of it? Aku yakin pasti ada sesuatu yang Papi sembunyiin di balik perjodohan ini. Karena kalau enggak, nggak mungkin Papi mau jodohin aku sama dia dan terikat sama keluarga scandalou-" "I said enough, Melvin!" Arthur menyentak Melvin tegas. Matanya berkilat marah pada sang putra. "Omongan kamu itu ngelantur. Sudah Papi bilang, kamu terlalu berlebihan dan terlalu percaya rumor yang nggak berdasar. Lagipula, Papi nggak sebodoh itu. Papi tau mana yang terbaik untuk kamu dan keluarga kita. Dan Papi tau kalau keluarga Sadajiwa nggak ada masalah sama sekali. They are good people." "Tapi Pi-" "Kalau kamu ngomong buruk tentang keluarga Sadajiwa lagi, Papi akan anggap itu sebagai excuse kamu untuk bebas dari perjodohan ini. Dan Papi nggak akan menerima excuse apapun setelah tahun kemarin kamu sudah mempermalukan keluarga dengan seenaknya membatalkan pertunangan kamu yang sebelumnya." Kedua tangan Melvin terkepal erat di sisi tubuhnya, menahan kesal karena tahu bahwa dirinya tidak akan bisa menentang. Jika Arthur sudah bicara begitu, maka yang bisa dilakukan Melvin hanyalah menurutinya. "Keluarga kita dan keluarga Sadajiwa sudah sepakat untuk menjodohkan kamu dan Azalea. No taking back, no cancelling, no excuse. Kalian akan segera manikah. So now, go back there and behave yourself. Jangan sampai kamu berperilaku buruk di depan Azalea. You're a Wiratmaja, remember?" Usai mengatakan itu, Arthur pergi lebih dulu untuk kembali ke ruangan mereka tadi dan membiarkan Melvin sendiri disana dalam keadaan marah. Kepalan tangan Melvin semakin erat hingga ia bisa merasakan kukunhya sendiri menancap di telapak tangannya. Rasanya Melvin ingin berteriak, namun ia sadar tidak bisa melakukannya di tempat ini. Yang bisa dilakukannya hanyalah mengeluarkan berbagai macam sumpah serapah dari bibirnya. You're a Wiratmaja, remember? Rasanya Melvin ingin tertawa keras mengingat perkataan ayahnya tadi. Karena apa? Andai saja bisa memilih, ia tidak mau terlahir sebagai keluarga Wiratmaja jika pada akhirnya tidak memiliki kebebasan untuk mengatur jalan hidupnya sendiri seperti ini.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN