Runa hanya menangis. Ia tak tahu jawabannya. Tapi tak lama, ia mendongak. "Jangan marah." Karena ia tak ingin suaminya marah. Juna menatapnya. Tak lama, perempuan itu memeluknya. Ia tak mau menyakiti hati Juna. Ia memang kebingungan dengan situasi ini, tapi bukan berarti membencinya. Bukan kah ia juga sangat ingin menikah? Jika bukan orang yang ia cintai memangnya kenapa? Kan ia selalu berdoa untuk meminta yang ia butuhkan bukan yang ia inginkan bukan? Ia terus diingatkan dengan hal itu, makanya ia tak mau mengecewakan Juna. "Aku terima kamu sebagai suamiku." Itu ucapan yang tulus loh. "Aku akan patuh terhadap apapun yang kamu mau selagi tidak menentang syariat." Manis bukan? Bahkan mata Juna pun berkaca-kaca. Ia akhirnya membalas pelulannya. Runa bersungguh-sungguh. Walau ia masih

