Rasanya hilang semua capeknya. Walau hanya berdiri menghadap ke arah cahaya matahari yang perlahan sudah naik. Warna kuning keemasan yang menyilaukan, tapi indah. Muncul di hadapan mereka seperti gambar dua gunung dan matahari yang sering digambar oleh anak-anak. Keren ya? "Lagi capek soal keluarga juga hilang." Swara terkekeh. "Kenapa lagi? Adek kamu?" Vira terkekeh. "Gara-gara aku bilang gak jadi pulang sih. Ya kan harus ngurusin proposal juga. Biar gak molor lulusnya. Tapi alasanku gak diterima. Katanya tetep harus pulang karena dia juga pulang. Walau alasan lainnya sih gak ada yang beresin rumah. Kan sejak aku tinggal kuliah, yang beres-beres rumah tuh dia. Tapi kan cuma pas libur doang. Hari-hari sekolah ya enggak." "Perhitungan banget adek kamu." Vira tertawa. Ia juga heran. Ia

