Lisa duduk di sofa ruang tamu, menatap undangan yang diletakkan di atas meja kecil di depannya. Jemarinya yang lentik menyusuri huruf-huruf emas yang tertulis di atas kertas tebal itu. Undangan resmi dengan nama Arman dan Lisa yang tercetak di bagian atas membuat perasaannya bercampur aduk. “Haruskah aku datang?” gumam Lisa pelan, suaranya nyaris tenggelam dalam keheningan. Rasa dilemanya semakin kuat. Di satu sisi, ia tahu bahwa menghadiri acara itu bersama Arman adalah sebuah formalitas yang harus dijalani, karena orang-orang belum tahu bahwa pernikahan mereka berada di ujung tanduk. Namun, di sisi lain, hatinya memberontak. Ia tidak ingin berpura-pura lagi, terlebih saat hubungannya dengan Arman terasa semakin hampa. Saat Lisa masih tenggelam dalam pikirannya, panggilan Barry membuy

