Arman keluar dari ruangan rawat dengan wajah lelah, tetapi hatinya sedikit tenang karena melihat Alin sudah sadar meski kondisinya masih lemah. Namun, ketenangannya seketika lenyap ketika ia melihat Barry duduk di bangku tunggu tak jauh dari pintu ruangan. Barry tampak termenung, tetapi jelas masih bersikeras untuk tetap berada di sana. Arman mendesah berat, menahan rasa kesal yang kembali menyala dalam dirinya. Ia berjalan mendekati Barry dengan langkah tegas. "Kenapa kamu masih di sini? Bukankah sudah aku bilang untuk pergi?" suara Arman terdengar dingin, hampir seperti ancaman. Barry mengangkat kepalanya perlahan, tetapi tidak menjawab. Ia hanya menatap Arman dengan ekspresi datar, lalu dengan suara rendah bertanya, "Apa Alin sudah sadar?" Pertanyaan itu justru membuat darah Arman m

