**Bab 136: Emosi Wanita Hamil** Wajah Halvir tetap tegas, bahkan menyeramkan—namun entah kenapa, di mata Anindira, ia tampak sangat menawan. “Aku tidak akan melakukannya lagi…” jawab Anindira memelas. “Bagus,” Halvir memperlihatkan senyum tipis. Lalu tangannya kembali bergerak, menggosok dan membersihkan tubuh Anindira yang sempat terhenti. “Kak Halvir!” panggil Anindira sambil melambai kecil, meminta Halvir menunduk. “Hm?!” Halvir terkejut, lalu membungkuk menuruti. Anindira segera melingkarkan lengannya di leher Halvir dan berjinjit. Perbedaan tinggi yang jauh membuatnya harus berusaha lebih. Ia mencium bibir Halvir—singkat, jujur, penuh keberanian. Halvir terkejut. Ini pertama kalinya Anindira mengambil inisiatif sendiri. Saat Anindira hendak melepaskan ciumannya, Halvir bergera

