Bertengger

1331 Kata
**Bab 008: Bertengger** Pemuda itu membawa Anindira dalam gendongannya menyusuri hutan yang semakin gelap. Setiap langkahnya mantap, nyaris tanpa suara, meski beban di pelukannya bukanlah sesuatu yang ringan. HOP. HOP. HOP. Anindira tersentak. Tubuhnya naik turun mengikuti hentakan lompatan pemuda itu, membuatnya refleks merangkul bahu lelaki itu lebih erat. Sebuah ketakutan yang bercampur takjub menguasai dirinya. Pemuda itu tidak hanya berjalan. Ia melompat—dari akar ke batang, dari batang ke dahan—lalu ke dahan yang lebih tinggi. Gerakannya begitu luwes, kuat, liar… namun tetap terkontrol. Sebelum Anindira benar-benar menyadarinya, dunia sudah berubah menjadi lautan dedaunan yang berkilau diterpa sisa cahaya senja. Ia dibawa naik. Meninggi. Menanjak tanpa bisa dihentikan. “Apa di kakinya ada pernya?!” batin Anindira panik, “Bagaimana bisa dia melompat sejauh dan setinggi ini sambil menggendongku?! Bukankah bobotku hampir setengah kuintal?!” Ketika pemuda itu akhirnya berhenti pada sebuah dahan besar yang datar dan kokoh, nafas Anindira tercekat. Angin malam menerpa wajahnya. Cahaya bulan yang merayap di antara celah daun menyingkapkan betapa tingginya tempat ia berdiri sekarang. Satu langkah saja ke tepi dan semuanya akan berakhir. Pemuda itu tampak tak terpengaruh. Dengan tenang ia membersihkan permukaan dahan, menyingkirkan lumut dan dedaunan. “Sedikit tidak nyaman, tapi ini lebih baik,” suaranya datar, namun terdengar lega. “Kebetulan malam ini bulan purnama. Aku sengaja mencari tempat yang bisa dilewati cahaya bulan—agar kau dapat melihat sekelilingmu.” Anindira menelan ludah. Kakinya gemetaran, bukan hanya karena tinggi tempat itu, tetapi juga karena ketidakpastian yang terus membayanginya sejak ia bertemu pemuda ini. “Kemari. Duduklah.” Panggil pemuda itu sambil menepuk sisi dahan yang telah ia lapangkan. Anindira ragu, tapi kemudian menuruti. Ia duduk perlahan, mencoba menjaga keseimbangan. Saat pemuda itu mendekat dan meraih pergelangan kakinya, Anindira tersentak kecil. “Tunggu—” “Jangan takut,” ujar pemuda itu, menanggapi refleks Anindira tanpa menatapnya lembut. “Aku hanya melihat lukamu.” Ia memeriksa luka sobek di telapak kaki Anindira, alisnya berkerut tegang. “Akan terasa perih. Bertahanlah. Jika tidak segera diobati, lukamu akan memburuk.” Tanpa menunda, ia mulai menumbuk dedaunan yang sebelumnya ia petik di sepanjang perjalanan tadi. Bau herbal kuat tercium ketika ia mengoleskannya dengan hati-hati ke luka Anindira. Anindira menggeliat, menahan sensasi perih yang merayap cepat ke betisnya. Pemuda itu meniup perlahan, berulang kali—angin hangat yang entah kenapa menenangkan. Gerakannya teliti. Nyaris lembut. Kontras sekali dengan kekuatan brutal yang barusan ia tunjukkan saat membawa Anindira ke puncak pepohonan. Di bawah cahaya bulan, untuk sesaat, waktu terasa berhenti. Hanya ada hembusan angin… Denyut sakit di kaki Anindira… Dan pemuda asing yang terus meniup lukanya dengan sabar, seakan itu adalah hal paling penting di dunia. “Terima kasih,” ucap Anindira, suaranya lembut, pandangannya menatap pemuda yang baru saja menuntunnya melewati kegelapan dan mengobati luka di kakinya. “Maaf karena sempat tidak mempercayaimu.” Pemuda itu menatapnya, bola matanya—biru safir—berkeliat saat terkena remang cahaya bulan. Ada sesuatu yang sulit dijelaskan dalam tatapannya, namun Anindira hanya bisa terpaku. ‘’Di mananya yang penjaga pintu neraka?’’ pikir Anindira, matanya masih menempel pada pemuda itu. ‘’Di mananya yang grim reaper, coba?!’’ Sekali lagi, ia terhenyak oleh kenyataan—pemuda itu… tampan. Kulit kecoklatan, garis wajah maskulin, postur gagah yang menimbulkan rasa aman sekaligus waswas. ‘’Yang tadi aku kira penjaga pintu neraka? Dia… lembut,’’ gumam Anindira di dalam hati, tak bisa menahan senyum kecil yang muncul tanpa sadar. Matanya berbinar-binar, terpaku pada pemuda itu. Untuk beberapa detik, hutan, udara malam yang dingin, dan suara kabut yang menyusup di antara dedaunan seolah menghilang. Hanya ada Anindira dan pemuda itu, berdiri di puncak pepohonan, diterpa cahaya bulan purnama yang menyorot wajah keduanya, menampilkan semua kerumitan emosi yang tak bisa diucapkan dengan kata. “Lagi-lagi kau melakukannya…” suara pemuda itu memotong lamunan Anindira, tegas tapi datar. “Tahukah kau, apa yang kau lakukan itu sangat berbahaya. Seandainya aku yakin ini memang sengaja untuk menggodaku, aku—” ia terhenti sejenak, “—akan langsung berpasangan denganmu. Tapi entah kenapa, aku ragu kau tahu apa yang kau lakukan. Jadi aku akan menunggu… sampai kita bisa berkomunikasi dengan baik.” Anindira menatapnya, bingung sekaligus penasaran. “Aku… aku benar-benar tidak mengerti apa yang kau katakan,” gumamnya, suaranya pelan, “Apakah kita benar-benar sedang berbicara dua arah?” Pemuda itu mencondongkan tubuh sedikit, menatap pakaian Anindira dengan mata yang tajam namun tetap datar. “Kau wanita yang aneh… aku tidak tahu itu pakaian yang diberikan orang tuamu, atau kau terpaksa memakainya.” Anindira melihat kemana arah pandangan pemuda itu. Dia menunduk sebentar, menyadari dirinya hanya mengenakan celana training biru dengan strip hitam yang digulung sampai lutut, dan kaos pendek abu-abu gelap yang basah karena tadi bermain air di sungai. Dia nyeker, kaki telanjang tanpa alas yang menjadi penyebab sobekan di telapak kaki—dan juga mengapa pemuda itu khawatir sekaligus menuntunnya keluar dari hutan belantara. Hutan di sekeliling mereka pekat, kabut malam menebal, dan suara dedaunan serta serangga memenuhi udara. Cahaya bulan menembus celah-celah dedaunan, membentuk sorot tipis yang menyorot wajah keduanya—tegang, misterius, seolah malam itu menahan napas, menunggu langkah selanjutnya. Sunyi malam pecah oleh lolongan yang saling bersahut-sahutan, entah anjing atau serigala. Serangga malam turut menambah suasana suram dengan dengungan dan gesekan sayap mereka. Burung hantu dan burung gagak sesekali bersahutan, kepakan sayap terdengar bergema dari arah yang tidak bisa ditentukan. Di tengah itu semua, Anindira menyandarkan dagu di lutut yang ditekuk, tangannya memeluk kaki sendiri, jantungnya berdebar kencang. Hiii… pikirnya. Apakah hutan selalu seperti ini di malam hari? Atau ini karena aku jauh dari keluarga? Pemuda itu menoleh, menatap gadis itu dengan mata tajam. “Kau takut?” tanyanya, nada datar tapi penuh perhatian. Anindira menatapnya, alis mengerut, wajah memelas, berusaha membaca maksudnya. Tak ada jawaban kata-kata, hanya tatapan penuh cemas yang menggantung di udara. “Jangan takut,” kata pemuda itu akhirnya, senyum tipis menyungging di wajahnya. Tangannya mengusap kepala Anindira dengan lembut. “Aku di sini… menjagamu.” Suara itu lembut, syahdu, menembus kegelapan dan ketakutan yang mencekam. Anindira hanya bisa menatapnya, merasakan sedikit ketenangan di tengah malam yang menakutkan itu. “Ini,” ujar pemuda itu sambil mengacungkan sebatang ranting pohon, “agar kau bisa tidur dengan nyaman…” Ia lalu memetik dedaunan dari ranting yang dipegangnya. Dia meremas-remas dedaunan dan mencoba menggosokkannya ke kulit Anindira. Refleks, Anindira mundur sedikit, terkejut dan waspada. Pemuda itu ikut terkejut melihat reaksinya, menatap tajam namun tetap sabar. Namun, begitu Anindira mencium aroma khas atsiri dari dedaunan itu dan menyadari fungsinya: untuk mengusir nyamuk. Ia tersenyum tipis, perlahan menyodorkan tangannya agar remasan daun itu bisa dioleskan. Begitu sentuhan pertama menyentuh kulitnya, Anindira meringis kesakitan. Tetesan air mata keluar dari ujung matanya. “Ahh… aduh… perih…” suaranya bergetar. “Sakit?” tanya pemuda itu, segera menarik tangannya dari kulit Anindira. Wajahnya tetap datar, tapi sorot matanya jelas menampakkan kekhawatiran. “Aku akan cari yang lain,” ucap pemuda itu sambil hendak berbalik. Namun Anindira segera menghentikannya, menatapnya dengan mata memohon agar tidak meninggalkannya begitu saja. “AHH! TUAN…” pekik Anindira, meraih tangan kekar pemuda itu yang mulai bangkit. “Tuan tunggu!... Tunggu sebentar!” serunya, tangannya masih menggenggam pergelangan pemuda itu. “Biar kulihat dedaunan itu!” tambahnya sambil menunjuk tumpukan daun yang masih utuh dan menengadahkan tangannya. “Ini?!” tanya pemuda itu sambil mengangkat tumpukan ranting berisi dedaunan. Anindira mengangguk sambil tersenyum. Ia menerima dedaunan itu, meneliti, mencium aromanya, lalu sedikit merobek dan menjilat permukaannya. ‘’Benar, ini daun kayu putih!’’ pikirnya dalam hati. Senyum manis terukir di wajahnya. “Tidak apa-apa… Rasanya memang perih karena tubuhku penuh luka lecet. Tapi ini sangat baik, justru mempercepat kesembuhan luka dan mencegah infeksi,” jelasnya pada pemuda itu meski dia juga tahu kalau dia tidak akan memahami apa yang dikatakannya. Namun senyum itu cepat pudar, digantikan desahan panjang dan ekspresi kecewa. “Huft… mengingat… aku juga sepertinya tidak akan bisa pergi ke rumah sakit…” gumam Anindira, menampilkan senyum getir, alisnya sedikit berkerut saat menyebut rumah sakit.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN