Wanitaa

1298 Kata
**Bab 022: Wanita** Sore itu matahari bersinar sayup. Cahayanya menembus sela dedaunan dengan warna keemasan pucat, sementara angin dingin mulai bertiup dari arah sungai, membawa aroma air dan tanah basah. ''Hehehe...'' Tawa aneh itu kembali muncul di wajah Anindira. Ia mencuil daging ikan yang sudah matang sempurna, lalu memasukkannya ke mulut dengan lahap. ''Ini ikan pertama yang kumakan,'' ujarnya polos. ''Kau tidak pernah makan ikan?'' tanya Halvir, jelas heran. ''Bukan, Kak, aku pernah makan ikan,'' Anindira cepat membantah. ''Tapi selama bersamamu, ini ikan pertamaku.'' Ia mengunyah perlahan, matanya menyipit bahagia. Senyum manis terukir jelas di wajahnya—senyum yang sulit disembunyikan. ''Kau suka makan ikan?'' tanya Halvir, menatapnya lebih saksama. Cara Anindira makan terlalu jujur untuk disembunyikan. ''Suka,'' jawab Anindira polos. Halvir tidak tahu satu hal: Anindira memang lebih lahap memakan ikan dibanding daging. Daging terasa terlalu berat baginya, sementara ikan lebih lembut dan mudah dikunyah. Terlebih ikan segar—rasanya manis dan gurih bahkan tanpa bumbu. ''Kalau begitu, aku akan lebih sering mencarikanmu ikan.'' Nada Halvir terdengar ringan, seolah itu perkara kecil. Ia bisa membaca perubahan suasana hati Anindira dengan mudah. Nafsu makannya yang meningkat, ritme napasnya yang lebih teratur, dan degup jantungnya—semuanya menunjukkan gadis itu sedang merasa nyaman. ''Ehh!'' Anindira memekik kaget. ''Bukan begitu, Kak! Aku makan apa pun, tidak pilih-pilih. Jadi tidak perlu repot-repot mengubah menu. Apa pun yang kau makan, aku akan makan...'' Nada suaranya terdengar tergesa. Ia tidak ingin menjadi beban. Tidak ingin terlihat menuntut lebih. ''Kenapa merepotkan?!'' Halvir mengernyit, nadanya naik tanpa ia sadari. ''Kau mau makan apa? Akan aku carikan untukmu. Tidak ada yang sulit.'' Ia menegakkan punggungnya sedikit. ''Aku tidak selemah itu sampai kau harus menahan keinginanmu,'' lanjutnya dengan nada lebih tegas. ''Aku pasti ak—'' Kata-katanya terhenti. Bukan karena Anindira, melainkan karena kehadiran seseorang. Sejak tadi Halvir sudah menyadarinya. Ada sepasang mata yang memperhatikan dari kejauhan. Ia mengenalnya. Di antara para pemuda lain yang hanya berani berbisik-bisik, orang ini cukup bernyali untuk mendekat. Namun kegugupan tetap tak bisa disembunyikan. Degup jantungnya terdengar jelas—terlalu jelas—di telinga Halvir. Seorang pemuda berkulit putih dengan rambut pendek keabu-abuan, berkilau seperti perak. Dari warna bola matanya, jelas ia berada di peringkat *Berlian. Posturnya sekilas mirip Hans, namun wajahnya masih terlalu muda. Belasan tahun. Polos. Lugu. Seumuran dengan Anindira. Senyumnya ceria, khas remaja muda. Namun auranya berbeda—dari kepala hingga kaki, ia memancarkan kesan elegan, nyaris bangsawan. Cara ia mengenakan pakaian kulit binatang dan memadukannya dengan aksesori sederhana terlihat rapi, indah, dan mewah tanpa berlebihan. ''Halvir!'' Sapaan itu dilontarkan dengan sopan. Sang pemuda menundukkan kepala sedikit, matanya meminta izin bahkan sebelum kata-kata terucap. ''Tidak,'' jawab Halvir tegas. Suaranya datar. Tanpa emosi. Tanpa penjelasan. Pemuda itu langsung mundur beberapa langkah. Ia memang sudah menduganya. Namun meski begitu, ia tetap datang—setidaknya untuk memperlihatkan dirinya. Di sinilah perbedaan *Safir dan *Berlian terlihat jelas. Bukan sekadar peringkat kekuatan, melainkan pemahaman akan batas. Ini adalah wilayah publik. Siapa pun boleh datang. Namun Halvir telah duduk lebih dulu. Dan di sisinya, ada seorang wanita. Semua orang di sana mengetahui—kecuali Anindira sendiri—bahwa secara resmi, meski tidak tertulis, Halvir adalah wali Anindira. Dan bagi Manusia Buas, wali berarti lebih dari sekadar pelindung. Itu adalah pernyataan kepemilikan. Sekaligus pengumuman—bahwa wilayah ini telah ditandai. Di Dunia Manusia Buas, wanita bukan sekadar individu. Mereka adalah wilayah. Kepemilikan yang dijaga dengan nyawa. Dihormati, dilindungi, dan tidak boleh disentuh sembarangan—terutama oleh para pria lajang. Jika seorang wanita masih anak-anak atau masih murni, meski usianya telah dewasa, maka ayahnya adalah wali utamanya. Ayah kandung menempati urutan pertama, lalu diikuti oleh pasangan-pasangan ibunya yang lain, sesuai hierarki. Hal itu sangat berbeda dengan dunia modern tempat Anindira dilahirkan. Di sana, seorang ayah tiri jarang benar-benar mencurahkan kasih pada anak sambungnya. Namun tidak di dunia ini. Selama seorang anak adalah keturunan dari pasangan mereka, maka gen sang ibu—yang telah terikat sebagai pasangan—akan mengimprint naluri perlindungan dari para ayah yang jadi pasangan ibunya. Tidak ada perbedaan antara anak kandung dan anak dari pasangan lain. Anak-anak adalah prioritas yang wajib dijaga. Meski begitu, urutan tetap berlaku. Ibu adalah yang utama. Bahkan di atas anak kandung mereka sendiri. Dalam kasus Anindira, ada satu aturan yang dipahami dan dihormati oleh semua—baik pria maupun wanita—di seluruh Dunia Manusia Buas. Dengan satu pengecualian: Manusia Buas Perusak. Seorang pria yang menyelamatkan wanita tanpa wali akan secara sah menjadi walinya. Dan jika pria itu masih lajang, ia berhak mengajukan lamaran. Jika pria yang menyelamatkan sudah memiliki pasangan, maka hanya dengan izin pasangan-pasangannya ia boleh membawa wanita itu ke dalam rumah tangga mereka untuk dijaga. Tanpa izin tersebut, wanita itu harus diserahkan pada Pemimpin Klan atau Kepala Desa—hingga ia mendapatkan pasangan. Itulah hukum. Tidak tertulis. Namun mutlak. Halvir telah menyelamatkan banyak wanita. Namun tak satu pun pernah menarik perhatiannya. Ada pula wanita-wanita yang dengan berani mengajukan diri padanya—terpesona oleh peringkat *Safir yang ia miliki. Namun Halvir selalu menolak. Keputusan itu tidak jarang menumbuhkan rasa kesal di kalangan para pria lain. Di Dunia Manusia Buas, jumlah bujangan jauh lebih banyak daripada wanita. Enam puluh persen pria di dunia ini tidak akan pernah memiliki pasangan seumur hidup mereka—kecuali mereka memilih jalan menjadi Manusia Buas Perusak. Selemah apa pun seorang wanita, saat seorang pria menjadi pasangan pertamanya, maka dialah Kepala Keluarga. Ia memegang tanggung jawab penuh atas hidup wanita itu, dengan dukungan pasangan-pasangan lain dari pihak wanita. Namun dunia ini tidak hanya diisi oleh hukum dan kehormatan. Ada penerobosan wilayah. Ada perebutan. Ada perampasan. Kelompok-kelompok Manusia Buas yang membuang maruah kehormatan mereka—karena dendam, keputusasaan, atau kelaparan—akan menyerang klan atau desa lain. Biasanya mereka berasal dari klan atau desa yang lebih dulu dirampok. Ketiadaan wanita mendorong mereka bertindak nekat. Musim dingin ekstrem yang panjang menyebabkan kelaparan. *Amber—sumber utama untuk menjaga kondisi fisik wanita dari dingin dan kekurangan nutrisi—menjadi barang paling berharga. Kekurangan *Amber membuat banyak klan atau desa jatuh. Sebagian kelompok Manusia Buas Perusak bahkan bersifat natural. Dominasi dan kekerasan telah mengalir dalam darah mereka. Mereka tidak bertindak karena terpaksa—melainkan karena kesenangan. Tujuan mereka satu: wanita. Untuk memperbanyak populasi dan memperkuat eksistensi kelompok mereka. Manusia Buas akan punah jika karakteristik ini dibiarkan tanpa kendali. Wanita—yang jumlahnya bahkan tidak mencapai lima persen dari populasi—seharusnya dijaga dan dilindungi. Namun di tangan Klan Perusak, wanita jarang berumur panjang. Mereka tidak dihargai. Tidak dilindungi. Klan Perusak juga egois terhadap kelompok mereka sendiri. Mereka menindas yang lemah tanpa ragu. Sangat berbeda dengan Manusia Buas yang menjunjung tinggi kode etik dan kehormatan—baik dalam pertarungan, perebutan wilayah, maupun urusan wanita. Sebesar apa pun hasrat mereka, mereka tidak akan memaksakan diri—kecuali saat naluri benar-benar lepas kendali. Bahkan saat itu pun, mereka berusaha menahannya. Mungkin… itulah satu-satunya alasan Manusia Buas belum sepenuhnya lenyap. Namun serangan Klan Perusak terus terjadi. Dalam peperangan, wanita yang dievakuasi bisa tersesat. Bisa hilang. Bisa tidak pernah kembali. Ada pula musibah lain. Desa-desa kecil dengan anggota klan berperingkat rendah kerap diserang binatang liar—terutama saat musim dingin panjang. Musim dingin di dunia ini bisa berlangsung tujuh bulan, setahun, bahkan dua tahun. Saat makanan habis, binatang buas akan memasuki pemukiman tanpa ragu. Bukan hanya Manusia Buas yang diseleksi oleh alam. Binatang pun sama. Perputaran musim di dunia ini tidak berlangsung satu tahun, melainkan dua hingga tiga tahun: Musim panas: tiga hingga enam bulan Musim hujan: tiga hingga enam bulan, kadang hingga setahun Musim semi: tiga hingga enam bulan Musim dingin: tujuh hingga dua belas bulan Musim hujan dan musim dingin adalah yang paling tidak stabil. Dunia Manusia Buas adalah dunia yang keras. Seleksi alam di sini tidak mengenal ampun. Baik Herbivora maupun Predator— semuanya diuji. Dan hanya yang mampu beradaptasi, yang akan bertahan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN