**Bab 152: Halvir Menghardik** Anindira masih ingat jelas penampilan Hans dan Gavriel sebelum berangkat ke Hutan Larangan. Saat itu, keduanya jauh berbeda dengan Halvir yang sejak awal tampak gahar, tubuhnya penuh luka lama. Namun kini, bukan hanya fisik Hans dan Gavriel yang berubah. Aura di sekitar mereka pun tak lagi sama. Ia tak lagi melihat Gavriel yang kekanakan. Wajahnya tetap tampan dan segar seperti anak SMA, tetapi sorot matanya—itu berbeda. Ada kedewasaan di sana. Kedewasaan yang lahir dari luka, kehilangan, dan ketahanan. “Kak Gavriel…” panggil Anindira lembut. Gavriel terkesiap mendengar imbuhan Kak dari bibir Anindira. Dadanya bergetar, tetapi pikirannya masih belum sepenuhnya menangkap makna panggilan itu. “Warna bola matamu berubah… ini…” lanjut Anindira, suaranya mere

