Perang Dingin

1110 Kata

**Bab 109: Perang Dingin** Hari itu berlalu begitu cepat. Anindira lebih banyak duduk termenung, menatap api unggun atau sekadar menatap bayangan pepohonan yang bergoyang ditiup angin senja. Ia bicara seperlunya pada Lila, suaranya rendah dan teredam, seolah takut mengusik keheningan yang menekan. Sore menjelang, Halvir kembali dengan buruan di punggungnya. Binatang itu masih mengejang sedikit saat ia menurunkannya, tapi tidak ada kata yang terucap. Hans muncul bersamaan, tangan penuh dengan obat-obatan dan sayuran liar, matanya menatap tajam pada Anindira sebelum kemudian sibuk menyiapkan ramuan. Suasana di sekitar mereka kaku, berat. Setiap gerakan terdengar lebih jelas dari biasanya—gemerisik daun, hembusan angin, detak jantung yang terasa menggema di telinga. Halvir membersihkan hew

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN