**Bab 141: Tanggung Jawab Laki-laki** Selama beberapa hari berikutnya, Anindira terus merasakan penderitaan Gavriel berdenyut di dadanya—bukan sebagai ingatan, melainkan seperti luka hidup yang ikut bernafas bersamanya. Rasa sakit itu tidak pernah benar-benar pergi. Kadang mereda, lalu kembali mencengkram tanpa peringatan. Hal itu membuatnya lesu. Nafsu makannya menghilang, tubuhnya melemah. Namun Anindira memaksa dirinya untuk tetap bertahan, tetap bangkit, tetap bersemangat—setidaknya di hadapan dirinya sendiri. Ia memilih berdiam diri di dalam rumah. Menutup diri. Menolak bertemu siapa pun. Ezra yang melihat perubahan itu tidak bisa tinggal diam. Kekhawatirannya memuncak, hingga akhirnya ia memaksa Halvir untuk membujuk Anindira agar mau menerima kunjungan. Siang itu, tepat setelah

