Farida menghela nafas lega ketika urusan dengan ibu Irma pelanggannya selesai dengan baik. Wanita itu duduk di kursi kerjanya dengan masih merasa gemetar. Hampir saja dia dan Iksan ketahuan. Keringat dingin membasahi tubuhnya dari tadi bahkan dia masih merasakan lengket dari cairan o*****e dan s****a Iksan yang melekat di pahanya. Apa yang dilakukannya dengan Iksan tadi seharusnya tidak boleh terjadi. Gilanya dia bercinta dengan pemuda itu di saat butiknya sedang buka dan ada karyawan lain yang sedang bekerja. Ketika Farida sedang kalut dengan pikirannya, ketukan pintu terdengar dan Iksan masuk. Farida berdiri dan bersandar di tepian meja. Sambil melipat lengannya melingkari tubuhnya sendiri Farida menatap Iksan. "Tadi seharusnya tidak boleh terja...." Ucapan Farida terhenti ketika ti

