01 - Undangan.

1133 Kata
  Drtt...   Drtt...   Drtt...   Queen yang sedang sibuk menandatangani berkas-berkas yang bertumpuk di mejanya sontak melirik ponselnya yang sejak tadi terus bergetar. Queen berdecak, lantas meraih ponselnya, merima panggilan dari Bara, sahabat karibnya yang kini menetap di Bali.   Queen yakin kalau ia tidak terus berlalu mengabaikan panggilan dari Bara, maka Bara tidak akan berhenti dan akan terus menghubunginya.   "Sombong banget sih sampai gak mau terima telepon dari gue." Itulah kata yang pertama kali terucap dari Bara begitu sambungan telepon keduanya tersambung.   "Sibuk Bar, apalagi ini hari jumat," sahut Queen dengan santainya. Queen meloudspeaker panggilannya dengan Bara dan kembali menandatangani berkas-berkas yang masih menumpuk.   "Senin tanggal merah loh Queen."   "Iya tahu, kenapa memangnya?"   "Loe gak masuk kantor kan?"   Queen mendengus begitu mendengar pertanyaan Bara yang terdengar seperti sebuah sindiran baginya. "Enggak lah Bar, kan tanggal merah," jawabnya ketus.   Bara sontak tertawa, merasa senang begitu mendengar jawaban Queen yang penuh dengan nada kesal. "Ya udah, loe main dong ke sini. Gue kangen banget sama loe."   "Dari awal gue tahu kalau loe pasti punya niat terselubung kan, makanya telepon gue."   Lagi, Bara tertawa begitu mendengar ucapan Queen yang memang benar adanya. "Iya dong, hari sabtu malam minggu loe pokoknya harus datang ke Bali, gue ulang tahun loh." Akhirnya Bara mulai menjelaskan alasan kenapa ia menghubungi Queen.   "Bukannya ulang tahun loe hari seninnya ya?" Queen tentu saja ingat karena ia memang sudah menjadwalkan hari ulang tahun di note ponselnya.   "Anti mainstream Queen, lagian loe tahu sendiri kan kalau teman-teman kita yang lain pada sibuk kalau bukan hari libur. Emang sih haru senin tanggal merah, tapi kan hari selasanya enggak tanggal merah dan gua takut kalau meraka pada kecapean kalau pestanya di adakan di hari senin," jelas Bara panjang lebar.   "Hm," sahut singkat Queen, benar-benar singkat.   "Pokoknya loe harus datang, enggak mau tahu gue. Lagipula gue udah booking hotel buat loe nginap jadi loe harus datang."   "Iya Bara, iya. Gue pasti datang kok." Queen  tak bisa menolak karena acar ulang tahun Bara di adakan di hari sabtu malam minggu, terlebih hari seninnya tanggal merah itu artinya kalau perkantoran libur dan secara otomatis Queen juga libur.   Setelah mengobrol panjang lebar dengan Bara, akhirnya Queen memutuskan untuk terbang menuju Bali selepas pulang dari kantor. Queen bahkan tidak sempat pulang untuk pamit pada kedua orang tuanya, jangankan pamit, untuk sekedar berganti pakaian saja tidak Queen lakukan.   Kedua orang tua Queen memberi ijin Queen untuk pergi berlibur selama hampir 2 hari di Bali, mengingat Queen yanh memang jarang sekali berlibur atau menikmati waktu akhir pekannya karena sibuk bekerja.   Queen pergi menuju Bali dengan setelan kemeja kerja sedangkan untuk pakaian yang nanti akan ia kenakan selama di Bali sudah di persiapkan oleh Bara mengingat kekasih Bara adalah seorang perancang busana terkenal sekaligus sahabatnya, jadi Queen tidak perlu repot-repot untuk membawa pakaian. Seperti yang sebelumnya sudah Bara katakan, Queen iakan menginap di hotel yang sebelumnya sudah di pesan oleh Bara.   Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan, Queen akhirnya sampai di Bandar Udara Internasional Ngurah Rai dengan selamat sentosa. Saat sampai di bandara, ternyata ada orang yang sudah menunggu kedatangan Queen dan pria itu bernama Auriga, Kakak Bara yang secara khusus Bara minta untuk menjemput Queen.   Entah Queen harus merasa senang atau sedih saat tahu kalau Bara menugaskan sang Kakak untuk menjemputnya. Queen hanya merasa tak enak pada Auriga karena dari sekian banyak orang penting yang datang ke acara ulang tahun Bara kenapa harus dirinya yang di jemput oleh Auriga?   Ini kali pertama Queen bertemu dengan Auriga meskipun ia sudah sangat lama bersahabat dengan Bara. Hal itu sangat wajar karena sebelumnya, Auriga tinggal di luar negeri, jadi wajar saja kalau Queen dan Auriga tidak pernah bertemu. Bahkan sampai saat ini Queen belum bertemu dengan kedua orang tua Bara karena keduanya berada di Bali bukan berdomisili di Jakarta.   Sedangkan saat ia pertama kali bertemu dengan Bara adalah saat Bara berkuliah di universitas yang sama dengannya. Jadi, Bara itu pendatang dari Bali. Sebenarnya kedua orang tua Bara bukan asli orang Bali, dulu mereka pindah ke Bali karena perusahaan Ayah Bara berpusat di Bali.   Queen memang menganggap kalau dirinya sama sekali tidak terlalu penting bagi Bara, tapi lain halnya dengan Bara yang memang sudah sangat menganggap kalau Queen sangat penting dan berarti baginya, karena itulah Bara meminta agar Auriga yang menjemput Queen secara langsung ke Bandara.   Sepanjang perjalanan menuju hotel yang akan menjadi tempat di mana Queen menginap, Auriga dan Queen sama sekali tidak terlibat dalam sebuah orolan. Auriga tampak enggan memulai sebuah obrolan begitu pun dengan Queen. Entah karena keduanya sama-sama merasa canggung atau memang Auriga tipe orang yang sangat pendiam jika bertemu dnegan orang yang baru ia kenal lebih tepatnya baru ia temui.   Hanya butuh waktu tak kurang dari 30 menit untuk Auriga dan Queen sampai di hotel yang akan menjadi tempat Queen menginap selama di Bali.   Saat Queen menurini mobil Auriga, Auriga ikut turun dan itu membuat Queen bingung. Seolah tahu kalau Queen merasa bingung karena dirinya ikut turun dan memasuki hotel, Auriga mulai menjelaskan kalau dirinya juga akan menginap di hotel yang sama dengan Queen bahkan kamar mereka saling berhadapan-hadapan.   Sebenarnya ada banyak pertanyaan yang kini ada dalam benak Queen, salah satunya adalah. Kenapa Auriga menginap di hotel dan bukan di  rumah kedua orang tuanya? Tapi pertanyaan itu hanya bisa Queen simpan dalam hati, lagipula tidak mungkin Queen akan bertanya seperti itu pada Auriga.   Akhirnya setelah seharian puas beristirahat, besok malamnya sudah tiba waktunya bagi Queen untuk menghadari pesta ulang tahun Bara dan Queen berangkat menuju pesta Bara bersama dengan Auriga.   Sepanjang acara berlangsung, Queen tak pernah jauh dari Auriga yang sejak datang selalu duduk bersamanya, bahkan Auriga menolak saat teman-teman wanitanya mengajaknya untun turun ke lantai dansa, untuk menari bersama.   "Mau berdansa?" Auriga mengulurkan tangan kanannya pada Queen di sertai dengan senyum manis yang menghiasi wajah tampannya, senyum yang mampu membuat setiap kaum Hawa bertekuk lutut padanya.   Senyum yang Auriga berikan pada Queen benar-benar membuat jantung Queen berdebar-debar, debaran yang baru pertama kali ini Queen rasakan.   Queen mengangguk, menerima ajakan Auriga untuk berdansa. Dengan penuh keanggunan, Queen menerima uluran tangan yang Auriga berikan padanya lalu keduanya melangkah menuju lantai dansa dan mulai berdansa di iringi alunan lagu romantis.   Astaga, apa ini yang namanya jatuh cinta?   Kenapa jantungnya tiba-tiba berdebar-debar tak menentu?   Apa yang kini Queen rasakan adalah hal yang sebelumnya tidak pernah ia rasakan. Queen akui kalau sejak pertama kali bertemu dengan Auriga, Queen memang sudah merasakan sesuatu yang berbeda.   Sial! Apa ia benar-benar sudah jatuh cinta pada Auriga pada pandangan pertama?   Jatuh cinta pada pria yang bersatus sebagai Kakak dari sahabatnya ini?                                        •••Δ•••      
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN