13. Curiga

1955 Kata
"Kenapa Enzo belum juga datang?! Dia benar-benar akan datang ke sini bukan?!" Wajah Enzo terlihat sangat dingin saat matanya menangkap sosok wanita yang baru saja membuat kekacauan di salah satu klub malam yang dia miliki. Langkah kakinya masih seringan kapas, saat Enzo akhirnya berhenti ketika dia sudah berhadapan dengan wanita itu. "Ah, Enzo? Kenapa kau tidak lagi membalas pesanku selama ini? Kau juga tidak mengangkat panggilanku. Aku merindukanmu selama ini Enzo......" Melihat bahwa Enzo akhirnya sampai, wajah wanita itu berubah manja dari wajah sombong yang penuh dengan amarah. Tanpa malu wanita itu memeluk Enzo. Pipinya ikut bersemu merah, saat Enzo malah terlihat dengan jelas tidak senang dan mencoba memisahkan pelukan yang dibuat wanita itu. "....... Mia tengah dalam masa promosi. Aku harus menjaganya sepulang bekerja beberapa minggu ini Celine," ujar Enzo dengan nada suara datar. Niat Enzo yang semula hendak bicara baik-baik dengan wanita itu langsung hilang begitu saja, saat kata-kata Celine selanjutnya malah berhasil memancing amarah Enzo. "Kenapa kamu selalu memperdulikannya di atas segalanya Enzo? Dia sudah besar, dan sebagai artis, kedekatannya denganmu hanya akan menimbulkan masalah bagi kalian-" "Tutup mulutmu, Sialan." Suasana langsung berubah tegang saat Enzo memberhentikan ucapan wanita itu dengan mengapit pipinya kasar. Wajah tampan Enzo langsung berubah setalah itu, sangat menyeramkan sampai wanita itu tanpa sadar bergetar hebat saat dihadapkan dengan Enzo yang tiba-tiba saja sangat marah padanya. "Jangan pernah kamu mencoba menceramahiku tentang bagaimana cara aku menjaganya selama ini Celine. Aku mentolerirmu selama ini hanya karena wajahmu sedikit mirip dengan Mia. Tapi selain wajahmu, ternyata semua sikapmu terlalu berbeda dari anak seperti Mia. Sekarang kamu lebih baik diam dan kembali ke rumahmu untuk merefleksikan sikapmu hari ini, atau aku akan menggantikan kecerewetan dan kebodohanmu itu dengan wanita lain yang mengincar uangku juga," ancam Enzo serius. Melihat bahwa Celine tidak lagi mampu berkata-kata di depannya, Enzo akhirnya mau melepaskan cengkramannya pada wanita itu. Enzo hanya mendengus dingin, saat kakinya berbalik untuk keluar dari ruangan klub yang sepi karena dia memang meminta tempat itu dikosongkan karena keributan yang sebelumnya dibuat oleh Celine. "Kamu tidak bisa melakukan ini padaku! Enzo, dengarkan aku Enzo! Kamu bilang kamu hanya menyimpan dan bersikap lembut pada wanita dengan wajah seperti Mia tapi kamu selalu bersikap lunak pada w***********g yang selalu bersama sepupumu itu! Kamu tidak adil Enzo! Kamu-" Crash Kali ini kaki Celine benar-benar lemas saat Enzo yang benar-benar kesal membuang tembakan yang melukai pipi Celine dan tembus sampai memecahkan kaca yang ada di belakang wanita. Dari luka di pipinya, keluar darah yang mulai membasahi mulusnya yang dibalut make up tipis. Air mata ikut keluar, saat Celine dengan jelas bisa melihat bahwa Enzo tidak lagi menganggapnya sebagai apapun kini. "Bawa dia keluar. Aku tidak ingin melihat wajahnya lagi di mana pun setelah ini," perintah Enzo singkat. Kakinya dengan santai melangkah keluar, saat dia masih bisa mendengar teriakan histeris yang dikeluarkan oleh wanita itu. "ENZO! KENAPA KAMU TEGA MELAKUKAN INI PADAKU?! AKU MENCINTAIMU! AKU BENAR-BENAR MENCINTAIMU ENZO!" Enzo berhenti melangkah. Kakinya berbalik untuk melihat para penjaga yang sudah mengamankan Celine ketika wanita yang tengah ditahan oleh banyak pria itu malah berpikir bahwa Enzo kembali setelah mendengar pengakuannya. "Enzo...... Aku-" "Satu lagi. Keluarkan wanita itu dari tempat ini saat mobilku telah pergi jauh. Aku tidak ingin Mia sampai melihat semua kekacauan ini," pesan Enzo sebelum benar-benar pergi setelah itu. ***** [Maaf aku sempat tertidur tadi. Uh...... Aku sebenarnya berharap Kak Victor bisa berbaikan dengan Kak Enzo di masa depan. Kak Enzo sebenarnya orang yang baik Kak, dan aku yakin Kak Victor juga merupakan orang yang baik. Aku pikir kalian akan menjadi teman yang hebat jika banyak menghabiskan waktu bersama untuk membicarakan masalah kalian setelah ini. Aku tidak akan menyerah! Aku percaya kalian bisa berbaikan dan menjadi teman kembali di masa depan.] Victor tertawa kecil saat dia membaca pesan polos yang dikirimkan oleh Mia. Tampaknya Enzo benar-benar telah menjaga sepupunya dengan baik selama ini. Mia bahkan sampai tidak tahu, bahwa menjadi rival di dunia bawah berarti siap untuk saling membunuh kapan pun mereka terancam posisinya. Orang-orang seperti mereka biasanya tidak akan pernah bisa berteman dengan tulus. Apalagi dengan kepribadian mereka yang bertentangan, hanya keajaiban yang bisa membuat Victor bisa berjalan bahu membahu dengan orang seperti Enzo. Tapi mengingat wajah Mia yang polos dan segala ucapan naif gadis itu, Victor sebenarnya mulai penasaran apa keajaiban seperti itu benar-benar bisa terjadi di masa depan. Mia akan menjadi faktor penghubung penting dalam hubungan mereka. Entah mereka akan menjadj musuh atau teman di masa depan, Victor pikir semua itu akan ditentukan oleh Mia mulai sekarang. Sambil dengan bertopang dagu, Victor akhirnya kembali membalas pesan tersebut. [Aku akan menunggu saat itu tiba Mia. Ini sudah malam, kamu sebaiknya segera tidur setelah melewati hari yang melelahkan.] Alis Victor terangkat saat dia tidak mendapatkan balasan langsung dari Mia seperti sebelumnya. Mia terus-menerus mengetik, namun tidak juga ada pesan baru yang dia dapatkan setelah Mia lama mengetik sesuatu. Ding Victor langsung membuka pesan baru yang akhirnya dikirim juga oleh Mia. Setelah membacanya, wajah Victor tanpa sadar langsung berubah lembut. Pria itu tersenyum, saat dia mengetik sesuatu untuk terakhir kalinya di hari itu. [Aku mengerti. Selamat malam Kak Victor, semoga Kak mimpi indah^^] [Kamu juga.] Kali ini Victor menyimpan ponselnya dengan perasaan puas. Victor sudah tidak dapat menghitung kapan terakhir kali dia bertukar pesan hangat dengan seseorang seperti apa yang dia lakukan dengan Mia saat ini. Mia tidak hanya membuatnya bisa tidur dengan nyenyak setiap harinya. Segala tingkah gadis itu, Victor menemukannya terlihat lucu dan menggemaskan dibandingkan sikap orang-orang yang berusaha mendekatinya selama ini. Sepertinya hari ini juga, Victor harus mendengarkan lagu Mia sebelum beranjak ke alam mimpi. ***** "... Kenapa kau terlihat bahagia saat melihat ponselmu Mia?" tanya Enzo heran saat dia melihat Mia tersenyum ketika matanya terus fokus pada benda kotak yang ada di tangannya. Mia yang semula terus melihat ponselnya menoleh, ekspresinya terlihat gugup saat matanya melihat Enzo yang baru saja selesai mandi dan memerhatikannya dengan lekat saat itu. "...... Aku melihat fansite untuk melihat komentar penggemar mengenai fansign ku hari ini Kak. Mereka menyukainya, tentu saja aku merasa senang untuk mereka." Mata Enzo jatuh pada ponsel Mia selesai gadis itu mengutarakan alasannya. Tatapannya dalam, namun seperti biasa Enzo hanya tersenyum lembut lalu mendekati Mia yang sudah siap dengan pakaian tidurnya di kursi santai yang ada di apartemen mereka. "Tentu saja mereka menyukaimu. Kamu terus memberi mereka yang terbaik selama ini," komentar Enzo dengan lembut. Pandangan lembut Enzo tiba-tiba berubah saat dia melihat satu patung yang kini dipajang di salah satu meja yang ada di apartemen mereka. Patung itu seketika membuat kening Enzo berkerut dalam. Dia tidak tahu siapa lagi yang berani menghadiahkan patung semahal ini pada sepupunya. "Mia." "Ya?" Enzo kembali berjalan ke arah meja yang menjadi tempat di mana patung itu disimpan dengan baik. Tangan Enzo mengusap patung itu perlahan, sebelum mengamati detail patung itu baik-baik dengan tatapan dalam. "Siapa yang memberimu patung ini Mia? Mereka dilapisi berlian asli, dan tidak banyak orang yang bisa membuat patung sedetil ini dari batu giok. Apa...... Ini merupakan hadiah dari salah satu penggemar beratmu lagi?" Tubuh Mia sedikit kaku saat suara Enzo mulai berubah ketika dia mengucapkan kalimat terakhir. Mia ingat Enzo mungkin tidak akan suka jika dia jujur dan mengatakan bahwa patung itu dia dapat dari Victor ketika keduanya masih berada dalam keadaan bertengkar. Mereka belum berbaikan, Mia harus menemukan cara agar mereka bisa berbaikan terlebih dahulu sebelum memberitahu Enzo yang sebenarnya. "..... Um. Mereka memberiku hadiah lain tahun ini. Kupikir patung itu sangat cantik Kak, jadi aku memisahkannya dari yang lain dan menyimpannya di apartemen kita. Itu........ Baik-baik saja bukan?" tanya Mia takut-takut. Wajah Enzo yang semula terlihat dingin segera mencair begitu dia mendengar suara Mia yang terdengar sedikit takut. Pria itu tersenyum, saat tangannya menyimpan lagi patung tersebut di atas meja yang sama seperti sebelumnya. "Tentu saja tidak apa-apa Mia. Patung ini sangat bagus, aku hanya menyayangkan tidak bisa memberimu hal yang sama jika kau memang suka benda semacam ini sejak dahulu." Mia tersenyum kecil saat dia mendengar ucapan Enzo. "Tidak perlu Kak. Kakak sudah memberiku banyak hal. Aku tidak ingin apa pun lagi sekarang," ucapnya sambil mengingat bagaimana Enzo selalu memberinya hadiah mahal yang sama dari yang penggemarnya berikan di setiap acara fansignnya jika pria itu tahu Mia menyukai apa yang penggemarnya berikan. Setelahnya Enzo selalu memerintahkan seseorang untuk menyimpan hadiah-hadiah penggemar itu di rumah utama tiap kali Enzo menukarnya dengan yang baru dia beli. Mia tidak ingin Enzo menukar patungnya kali ini. Mia hanya ingin patung pemberian Victor, bukan yang lain sekalipun sepupunya memberikan hal yang sama persis padanya nanti. Melihat bahwa Mia benar-benar mulai gugup karena perilakunya, Enzo menghela nafas panjang sebelum berjalan untuk menghampiri Mia kembali. Tangannya seperti biasa membawa Mia ke dalam pelukannya, sebelum tangannya menggapai remote untuk meredupkan lampu ruang tengah apartemen mereka. "Ini sudah malam. Tidurlah Mia, semoga kau mimpi indah malam ini." Layaknya mantra, Enzo tidak pernah bosan mengungkapkan kalimat yang sama setiap kali mereka akan tidur di malam hari. Mia mengangguk kecil mendengar doa tersebut. "Kak Enzo juga, semoga mimpi indah hari ini," balas Mia pula seperti biasanya. Gadis itu dengan patuh langsung berjalan ke kamarnya sendiri setelah Enzo selesai mengusap rambutnya dengan lembut. Mia tidur setelah Enzo menutup pintu kamarnya dengan hati-hati. Dia sebenarnya ingin membujuk Enzo untuk berbaikan dengan Victor sebelumnya. Tapi ekspresi Enzo membuatnya takut, jadi Mia lebih memilih untuk mengurungkan niatnya kembali hari ini. Ketika pikirannya akhirnya tenang, tidak butuh waktu lama sebelum gadis itu terlelap dalam tidurnya. Mia sama sekali tidak sadar saat itu, bahwa Enzo masih berdiri di depan pintu kamarnya dengan tatapan yang benar-benar menyeramkan. Tidak peduli seberapa baik Mia mencoba berbohong padanya, Enzo selalu tahu bahwa Mia tengah menyembunyikan sesuatu darinya dan yang lain saat ini. Mia memang selalu terlihat bahagia seperti biasanya seusai acara fansign, namun kebahagiaannya hari ini tampak terlalu mencurigakan di mata Enzo.Gadis itu juga terus saja memerhatikan ponselnya sedari tadi. Dan patung itu? Mia tidak pernah menolak dia mengganti hadiah lain dengan pemberiannya sendiri sebelumnya namun hari ini gadis itu nampak sekali tidak rela jika patungnya diganti dengan yang lain. Enzo takut Mia mulai menganggap seseorang lebih spesial darinya setelah ini. Mia belum tahu betapa kejamnya dunia bisa berubah jika Enzo tidak ada di samping gadis itu untuk melindunginya setiap saat. Enzo takut suatu saat nanti Mia akan pergi meninggalkannya, meninggalkannya sendiri tanpa tujuan hidup seperti apa yang orang tuanya lakukan padanya bertahun-tahun yang lalu. Tidak. Enzo tentu saja tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Setelah Mia benar-benar tertidur, Enzo diam-diam kembali masuk ke kamar Mia yang tidak pernah dikunci untuk membuka ponsel Mia yang disimpan di dekat tempat tidur gadis itu. Enzo dapat membuka ponsel Mia dengan mudah, karena gadis itu memang memiliki kebiasaan untuk tidak mengunci ponselnya karena Mia mudah melupakan sesuatu. Matanya langsung menajam saat dia tidak bisa menemukan pesan baru apa pun dari ponsel gadis itu. Mesin pencarian juga menunjukan bahwa Mia benar-benar hanya mencari beberapa berita di ponselnya sebelum ini. Enzo hanya terdiam sambil menatap ponsel Mia setelah itu, ketika dia berusaha menimang apakah Mia benar-benar jujur padanya atau tidak hari ini. "Eengghh." Enzo kembali tersadar saat Mia tiba-tiba bergumam pelan dalam tidurnya. Enzo memijat keningnya pelan ketika dia memutuskan untuk menyimpan ponsel Mia kembali. Enzo akhirnya keluar dari kamar Mia setelah itu, mencegah Mia untuk memergokinya kembali masuk kamar Mia tanpa sepengetahuan dari gadis itu. Enzo hanya ingin percaya bahwa Mia tidak sedang membohonginya saat ini. Dunia akan menjadi tempat yang terlalu kejam untuk gadis sepolos Mia jika gadis itu mulai memutuskan untuk menyimpan masalahnya sendiri tanpa memberitahu Enzo apapun. Masih banyak hal yang tidak gadis itu tahu, dan masih banyak hal yang tidak akan Enzo tunjukan pada Mia demi kebahagiaan gadis itu juga. Kesedihan dan rasa sakit. Enzo tidak akan pernah membiarkan Mia merasakan hal yang sama untuk yang kedua kalinya. To be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN