Tiga : Yang Terlupakan

858 Kata
Bnb Bab 3 Dua puluh lima menit kemudian, mereka bertiga, Wulan, Felix dan Bhumi tiba di sebuah kafe dengan nama "The Club" bernuansa romantis berlantai tiga dengan ornamen lampion sebagai ciri khasnya. Begitu sampai, Bhumi segera menemui sepasang pria dan wanita, yang Wulan tebak adalah suami istri, lalu berbicara dengan serius dengan mereka tanpa menghiraukan gadis itu sama sekali. Akhirnya, Wulan dan Felix  kemudian duduk di salah satu meja kosong yang tersedia terbuat dari kayu mahoni yang kuat, di cat warna gelap hingga membuat yang duduk di sana merasakan atmosfir hangat. Dengan canggung, Wulan menatap kearah sekelilingnya. Matanya masih memerah karena kebanyakan menangis saat di mobil Bhumi tadi. Suaranya mungkin telah hilang karena berteriak tanpa henti membuat Felix menutup telinganya, dan Bhumi berkali-kali mendelik marah padanya. "Dugemnya di  tempat begini, om Pel?" Tanya Wulan dengan suara serak saat ia berusaha duduk di bangku yang telah disediakan. Felix menatap Wulan dengan benci. "Plis deh, bebih Bulan. Yey bisa nggak panggil eke Cia atau Feli ajijah? Yey tinggal tambah huruf T, terusannya eke jadi tompel. Yey keji, neeek. Lagian ini bukan tempat dugem. Eke kan bilang tadi ke Club. Bos aja yang ngejahilin yey, bebih." Wulan batuk-batuk. "Tompel dari mana?" Tanya gadis itu bingung mendapati wajah Felix tampak tidak sedap untuk dipandang. "Iyes, yey panggil eke om pel, cobak deh bo' dipikir, tambahin huruf T, jadinya tompel. Bener-bener you, Bulan merindu. Cantik-cantik tapi nyelekit. Pediih hati eke, cyin." "Nggak ada Wulan ngomong begitu, om Pel. Jangan fitnah, deh." Balas Wulan tanpa peduli wajah Felix yang pura-pura merajuk. "Bulan, sebagai seorang wanita, eke tersungging yey panggil om. Gilda yah, kenapose hayati yang jadi korban." Wulan mengerenyit ketika dengan bangga Felix menyatakan dirinya wanita. "Nggak ada pilihannya om Pel. Selama om Pel masih punya belalai sama jakun, selamanya Wulan panggil oom. Kecuali udah punya cucu, baru deh dipanggil opa." Untunglah Felix tidak sakit hati dengan ucapan Wulan, karena pandangannya langsung tertuju pada seorang ekspatriat tampan yang baru masuk ke dalam kafe tersebut. Eh, nek ada bulelebong lewat cyiin. Cucook, Cia mau digrepe." Wulan bergidik ngeri. "Om, Wulan balik, yak. Udah mau Magrib. Nggak baek anak perawan keluyuran, di kampung aku, yang masih keliaran di culik jin. Manggilnya harus pake kentongan sama wajan. " Kata Wulan pada akhirnya, setelah melirik jam dinding yang menunjukkan lima belas menit sebelum pukul enam. Tangan Felix langsung meraih jemari Wulan, dengan refleks gadis itu memukul jemari Felix yang gemuk dan montok dengan buku menu. "Adoow, sakit neik. Yey kenapose? Jengong kasar dong, neik. Tangan eke habis meni pedi, loh." Wulan melirik Felix, tersinggung. "Bukan muhrim, om. Jangan senggol-senggol." Felix terkesiap. Sampai detik ini gadis itu menolak eksistensinya sebagai wanita. Hatinya benar-benar terasa bagai tertusuk duri tajam. "Balik ya, om. Bos lama nih. Janjinya mau nganter, terus bilang dugem. Bos gendeng itu, perlu di rukiyah." Felix menahan Wulan dengan panik. Kali ini tanpa kontak tubuh. Ia hanya menarik tas selempang Wulan hingga gadis itu mundur beberapa langkah karena ulahnya. "Jengong dong, bebih. Makarena dulu nek. Bos udah suruh kita pesan makanan apa ajijah, jengong ditolak, yess. Bos ganteng baek lho. Cuma memang, birahinya gedong neik. Namanya masa pertumbuhan. Eke juga berharap bisa jadi korban keganasan boz, uunch. Perut bos kotak-kotak sama otot seksinya, bikin sesuatu didalam rahim eke menggelepar." Wulan menggeleng-gelengkan kepalanya. Bos dan manager sama gilanya. "Nggak ah, mau balik. Pak bos udah nakutin aku tadi, bilang mau dugem. Tahunya malah meeting sama klien. Balik ah, balik om Pel, jangan di cegah." Wulan menarik paksa tasnya. Merasa menarik tas Wulan tidak akan membuahkan hasil, Felix akhirnya turun dari bangkunya, dan merebut ponsel flip milik Wulan lalu membawanya lari. "Ya Allah, wadam satu itu, kenapa sih buat ulah? Kalo ibu nelepon, aku mesti gimana coba?" Gerutunya. "Om Pel, balikin dong. Udah mau Magrib nih!" Pekik Wulan, membuat perhatian para pengunjung mengarah kepadanya. Sayangnya Felix, malah bertingkah seperti bocah pembully yang berhasil mengelabui korbannya. Ia tertawa-tawa sambil memegangi ponsel lusuh milik Wulan. Saat hendak mengejar Felix, terdengar suara Azan tidak jauh dari lokasi kafe. Dengan kikuk, ia lalu menemui salah satu pelayan yang sedang menganggur dan bertanya dimana letak masjid atau musholla yang terdekat. Ternyata, The Club memiliki musholla sendiri. Dengan arah yang ditunjukkan oleh pegawai, akhirnya Wulan melangkah ke sana, meninggalkan Felix yang kebingungan sambil memegang ponselnya. "Bebih, mau kemana? Hengpong yey masih sama eke." Katanya sambil terseok-seok mendekati Wulan yang berjalan tanpa menoleh lagi. "Titip, om. Wulan mau laporan sama sang Kekasih dulu." Katanya. Mata Felix membola. Ia menatap Wulan dengan antusias. "Yey punya cowok, bebih? Cucok? Ganteng? Gahar mana sama bos?" Wulan tersenyum pada Felix. Senyum yang menunjukkan kalau ia benar peduli pada pria itu, bukan ingin mengejek atau mengatainya, tapi karena Felix masih banyak kesempatan untuk memperbaiki dirinya. Namun Wulan tahu diri, ia tidak akan memaksa mereka, dirinya tidak lebih baik, Ia tahu itu. "Lebih dari segalanya, om Pel. Wulan pamit sebentar. Assalamualaikum." Saat sosok Wulan menjauh, Felix yang ingin menjawab ucapan gadis itu menjadi sedikit gugup. Sudah beberapa tahun ia tidak pernah memberi atau diberikan salam seperti itu. Ia bahkan lupa, pernah mengucapkan kata-kata itu dalam hidupnya. Lupa. Lupa bahwa kata "lupa" juga merupakan sebuah alasan. Alasan untuk tidak ingat pada apapun juga. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN