“Kamu masih di kantor, Teh?” “Masih, Pah.” Kurebahkan kepala di atas meja, melihat jam di pojok kanan bawah laptop yang sudah menunjukkan pukul 23.14 sambil mendesah lelah. “Papa jemput deh, pulang jam berapa?” “Ini sudah mau pulang.” “Kalau dapat laptop dari perusahaan, itu artinya bisa melanjutkan pekerjaan di rumah, Teh. Bukan malah berlama – lama di kantor.” “Iya tahu, tapi nggak fokus kerja kalau sudah di rumah apalagi deket kasur.” “Memang dasar kamu saja itu sih, yang nggak bisa profesional. Yasudah cepat pulang, naik taksi saja lah nggak usah bawa motor. Lagi banyak begal, ngeri Papa.” “Iya. Yaudah ya.” Aku mematikan sambungan telepon dan membereskan barang – barang. Sambil menunggu laptop mati, aku mengetuk pintu ruangan Tedjo untuk pamit. “Hmm, sudah tengah malam ya. Ayo

