Mataku berkedip beberapa kali, mencoba mencerna situasi yang terjadi di depan mataku kini. Wajah – wajah cemas yang sedang menatapku dari ujung rambut hingga kaki, mendesah lega. Sebagian malah memaki karena menurutnya ‘kecelakaanku tidak parah’. Masalahnya, siapa yang memberitahu mereka semua? Dari semua orang, kucari wajah Tedjo tapi tidak kutemukan. Amido maju mendekat, memegang kedua bahuku sambil mengguncangnya sedikit. “Lo masih kenal kita kan, Mon?” Kutepis tangan Amido sambil bersungut – sungut dan kembali mencari sosok yang tadi kuhubungi pertama kali. Nihil. Sepertinya aku memang salah menafsirkan sikap Tedjo yang suka seenaknya, salah mengerti ledekannya yang murni hanya ingin mengejekku. Pertama kalinya sejak bekerja di bawah kepemimpinan Tedjo, aku merasakan kekecewaan kar
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


