Tak Terucap

1453 Kata

Mataku berkedip beberapa kali, mencoba mencerna situasi yang terjadi di depan mataku kini. Wajah – wajah cemas yang sedang menatapku dari ujung rambut hingga kaki, mendesah lega. Sebagian malah memaki karena menurutnya ‘kecelakaanku tidak parah’. Masalahnya, siapa yang memberitahu mereka semua? Dari semua orang, kucari wajah Tedjo tapi tidak kutemukan. Amido maju mendekat, memegang kedua bahuku sambil mengguncangnya sedikit. “Lo masih kenal kita kan, Mon?” Kutepis tangan Amido sambil bersungut – sungut dan kembali mencari sosok yang tadi kuhubungi pertama kali. Nihil. Sepertinya aku memang salah menafsirkan sikap Tedjo yang suka seenaknya, salah mengerti ledekannya yang murni hanya ingin mengejekku. Pertama kalinya sejak bekerja di bawah kepemimpinan Tedjo, aku merasakan kekecewaan kar

Cerita bagus bermula dari sini

Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN