Tempat Pelepasan

1276 Kata
Jayme masih di tempatnya, menanti Zanara buka suara. Namun, harapannya pupus kala Zanara berbalik, mengambil benda yang dibawa Jayme sebelumnya. Wanita itu menyerahkan buket bunga kembali pada pria itu. "Bawa kembali benda ini, Dokter Demir. Aku tidak suka bunga, dan Marion ... kau tahu ia alergi serbuk sari. Maaf." Ah, benar! Jayme hampir saja melupakan penyakit bawaan gadis kecil yang sudah ia anggap anaknya sendiri itu. Mengapa ia bisa begitu bodoh? Dan Zanara ... memang, sejak dulu ini kebiasaannya. Wanita itu akan selalu memberikan kembali bunga yang dibawa Jayme untuknya. Bahkan semua yang diberikan Jayme pasti akan ia kembalikan. "Maafkan aku, aku benar-benar lupa kalau Marion—" "Tak apa, Dok. Pulanglah. Dan ...." Jayme bisa melihat ada keraguan dan kegugupan yang bercampur jadi satu pada rona wajah Zanara. Mungkin ia sejak tadi ingin mengatakan ini. Namun, entah apa yang membuatnya terlalu banyak berpikir hingga justru terkesan kebingungan bahkan bertele-tele. "Terima kasih," ucap wanita itu, lirih dan nyaris tak terdengar jika saja Jayme tidak segera membawa angannya kembali dari berkelana ke sana kemari—memikirkan kalimat apa yang hendak diucapkan wanita yang masih berdiri di hadapannya. Dan kalimat itu ... hanya dua kata, tetapi sukses membuat hati Jayme menghangat dan tak sadar ia menyunggingkan senyum. "Tak perlu sungkan, Zee. Aku hanya ingin kau tahu—meski aku telah mengatakan ini berulang kali—tapi ingatlah, Zee, kau tidak sendiri. Ada aku di sini. Katakanlah apa pun, maka aku akan lakukan yang terbaik untukmu dan Marion." Zanara terdengar mendesah kembali. Tampak jika ada banyak beban yang ia simpan seorang diri dan akan ia keluarkan setiap kali Jayme membahas tentang hal yang sama. Tentang keberadaan dan kehadirannya dalam kehidupan Zanara dan Marion, tentang perasaannya yang tak pernah henti ia kabarkan pada wanita itu meski tentu saja kecewa yang selalu ia terima, juga tentang tujuannya tetap bertahan meski jelas Zanara akan melakukan penolakan yang sama setiap kali. Tetap saja itu semua tak membuat Jayme menyerah untuk mendapatkan hati wanita itu. Zanara dengan sikap dinginnya jelas tak membuat Jayme gentar. "Apakah sudah? Jika sudah kau bisa pulang." Zanara pada akhirnya kembali mengucapkan kalimat yang selalu ia ucapkan untuk membuat Jayme berhenti mengatakan hal yang sama. Jayme mengangguk, kemudian memutar tubuh meninggalkan Zanara yang masih mematung menatap punggung pria yang bergerak menjauh dan menghilang. Sementara Jayme, melangkah gontai menuju ke mobilnya setelah membuang benda yang sejak tadi berada dalam genggamannya. Dalam hatinya selama ini tak pernah ada keinginan atau dorongan untuk menyerah. Meski dua tahun lebih berusaha mendekat dan ditolak, Jayme tetap pada pendiriannya. Jika ditanya apa alasannya begitu bersikeras untuk bertahan meski sikap Zanara tampak tak akan berubah? Maka jawabannya adalah karena Marion. Ia terbiasa akan kebersamaannya dengan gadis kecil itu. Ia menyayangi Marion seolah Marion adalah bagian dari kehidupannya, juga Zanara, tentu saja. Bahkan pernah Jayme mencoba menekan keinginan untuk bertemu keduanya, dan ia gagal. Perasaan itu terus menggantung di dadanya dan membuatnya sesak. Ia tak mampu jauh dari Zanara dan Marion. Sehari saja tidak bertemu dengan mereka, rasa hatinya tak tenang. Terlebih setelah kejadian hari ini. Mark kembali datang dan itu mungkin akan mengganggu kehidupan Zanara—seperti apa yang ia lihat dari air muka wanita itu ketika tahu bahwa mantan suaminya datang kembali. Atau ... mungkin lebih tepatnya SUAMI. Karena jelas mereka belum bercerai. Dan justru hal inilah yang Jayme takutkan. Bagaimana jika Mark terus mengganggu kehidupan Zanara? Atau jika Mark terus berusaha agar Zanara kembali dan pada akhirnya benar-benar kembali ke pelukan pria itu? Ah! Ia sangat muak membayangkan tentang itu. Jayme memukul kemudi di hadapannya. Menimbulkan raungan klakson yang cukup keras. Sementara dirinya berusaha menjinakkan angan yang mulai berkelana liar dan membayangkan kebersamaan Zanara dan Mark. Jayme masih mengemudikan tunggangannya, dengan berbagai kecamuk dalam batinnya. Ia tak punya tempat lari kecuali kembali ke tempat itu. Ia putar kemudi, lalu melajukannya dengan tergesa. Meski dirinya terbiasa menangani pasien yang mengalami masalah secara kejiwaan, bukan berarti dirinya cukup kuat untuk ini. Ia juga membutuhkan tempat untuk meluapkan isi hatinya. Setidaknya seorang yang akan mendengarkan kisah perjuangannya mendapatkan hati wanita luar biasa seperti Zanara. Jayme membelokkan mobil ke sebuah bangunan, menekan klakson sekali, kemudian melaju masuk kala pintu pagar mulai terbuka. Ia biasa datang ke tempat ini, bahkan terlalu sering. Karena tempat ini bagaikan tempat pelarian bagi Jayme untuk meluapkan segalanya, bahkan hasrat lelakinya. Itu dulu. Dulu sekali sebelum ia bertemu dan mengenal Zanara yang telah berhasil membuat dunianya jungkir balik. Benarkah ia sekarang tak lagi membutuhkan pelepasan itu? Benarkah Jayme tak lagi membutuhkan gadis itu untuk memuaskannya dan menjadi teman ranjangnya seperti sebelumnya? Lantas apa tujuannya datang ke tempat ini jika bukan untuk itu? Entahlah. Jayme juga tak tahu apa yang akan ia lakukan di sini. Mungkin seperti biasanya setiap ia datang. Bukankah kedatangannya kemari dua tahun terakhir ini dengan tujuan yang berbeda dari sebelumnya? Tak lagi untuk pelampiasan hasrat, tak lagi untuk sentuhan dan pemuasan fisik. Lalu apa? Jayme melangkah tanpa ragu, seolah ia tahu jelas bahwa dirinya akan diterima baik di tempat ini. Dan memang selalu. Meski ia tahu, mengapa ia diterima, ia tetap datang dengan tujuan dan sikap yang sama. Ia mengetuk pintu beberapa kali, yang langsung disambut oleh seorang gadis berambut coklat berombak dengan iris kelabu nan cantik. Sudah tahu siapa yang akan datang, gadis itu menatap pria di hadapannya dengan tatapan bahagia. Ia menghambur ke arah Jayme dan menghujani dengan kecupan yang kemudian ditolak oleh pria itu. "Maaf, kau tahu, kan tujuanku datang tak pernah untuk itu," ucap Jayme sembari mendorong tubuh gadis itu menjauh darinya. Jelas tampak di wajah gadis itu gurat kekecewaan yang sama setiap kali Jayme menolaknya. Ia tahu jelas apa tujuan kedatangan pria itu. "Kita tak pernah tahu, mungkin saja tujuanmu akan berbeda dan berubah setiap harinya. Masuklah." Gadis itu membuka pintu lebih lebar agar Jayme bisa masuk dan segera merebahkan tubuh di sofa yang ada di ruangan tersebut. "Mau minum apa?" tanya gadis itu. "Vodca, whiskey? Atau ...." "Tidak minuman beralkohol, Cla. Aku mengemudi." "Hmm ... kupikir kau akan menginap seperti biasa." Gadis itu kemudian sibuk menyiapkan minuman untuk pria yang telah lama menjadi sahabatnya itu—sahabat ranjang. Segelas jus tampaknya akan lebih baik, karena jelas Jayme tak memiliki niat untuk mabuk hari ini. Jayme tengah berusaha untuk menjadi pria yang baik, bahkan sangat baik, agar ia pantas untuk Zanara. Begitu pikirnya. "Seperti biasa? Itu bahkan dua tahun yang lalu, Cla. Kau tahu, aku tak pernah tidur dengan siapa pun sejak itu." Gadis yang disapa 'Cla' oleh Jayme itu hanya mengedikkan bahu. "Entahlah. Aku tak pernah percaya perkataan player sepertimu, J. Kau lupa kalau kau bahkan bisa tidur dengan beberapa wanita berbeda dalam satu hari." Jayme menggerakkan alisnya. Gadis itu tak pernah salah, karena memang ia yang tahu sepak terjang Jayme selama ini. Dulu, lebih tepatnya. Sebelum hati Jayme terpatri pada Zanara. "Aku sudah berubah, Clara. Kau tahu itu. Dan sekarang ... ada hal lain yang sangat ingin kukejar ketimbang hanya pemuasan yang nyatanya tak pernah membuatku puas," balas Jayme, akhirnya, yang sejak tadi hanya diam menanggapi berbagai pernyataan dari gadis itu. Clara tampak memerhatikan setiap ucapan Jayme. Bukan saja dengan saksama, melainkan juga dengan hati yang mungkin sama hancurnya dengan kemarin, kemarin, dan kemarin lagi, setiap kali Jayme datang hanya untuk tujuan yang sama. Menjadikan Clara sebagai wadah untuknya melepaskan segala beban tentang Zanara. "Lalu? Sekarang apa? Apakah lagi-lagi tentang wanita itu? Seistimewa apa wanita itu, Jay? Tak bisakah kau melihatku sama istimewa dengannya? Bukankah aku yang selama ini ada untukmu?" Kalimat yang meluncur dari bibir Clara layaknya sebuah granat yang dilemparkan pada Jayme. Pria itu hanya mematung memandang ke arah gadis yang kini menatapnya intens, membutuhkan respons darinya. Clara menanti, sebuah tanggapan yang akan menyenangkan tak hanya bagi Jayme, melainkan tentu saja juga baginya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN