Bab 11

1821 Kata
"Hai Rain," sapa Bintang ketika ia dan dua sahabatnya berpapasan dengan Rain yang baru saja menuruni anak tangga untuk menuju ke lapangan. "Hai juga Bintang," sapa Rain balik sambil tersenyum ramah dan juga melambaikan tangannya. "Kemarin kamu pulang enggak kemalaman kan? Maksudku tidak di marahi Orang tuamu," tanya Bintang kepada Rain karena pemuda itu merasa tidak enak jika mengantar Rain tidak tepat waktu. "Oh hari Sabtu kemarin ya? enggak sama sekali kok lagi pula kemarin di Rumah hanya ada Bibi Ijah saja," jawab Rain yang tidak ingin Bintang merasa bersalah telah mengantarnya pulang. "Benarkah?" tanya Bintang tak percaya namun belum sempat Rain menjawabnya Guru piket sudah mulai memberikan peringatan untuk segera berkumpul ke lapangan jika tidak mereka akan terkena hukuman. "Ah sepertinya kita harus ke lapangan sekarang," Ajak Rehan yang menyela obrolan di antara Rain dan juga Bintang. "Rain.." panggil Lula dan juga Tasya secara bersamaan, sebenarnya mereka berdua sudah mengamati obrolan Rain dan juga ketiga Idola sekolah tersebut dari kejauhan. Keduanya baru menghampiri Rain saat mendengar perintah dari guru piket untuk segera ke lapangan sekolah. "Rain, kami duluan ya," Pamit Bintang lalu mereka pun pergi setelah Raina mengangguk pelan. gadis itu pun melanjutkan langkahnya tanpa memperdulikan kedua Sahabatnya tersebut. namun kedua tangannya di tarik bersamaan oleh Lula dan Tasya yang ingin mengintrogasi Rain. "Tunggu, sejak kapan kamu akrab sama Bintang?" tanya Tasya yang mewakili pertanyaan yang akan di tanyakan oleh Lula juga. "Hai Kalian bertiga cepat ke Lapangan sekarang, malah mengobrol lagi," seru salah satu Guru laki-laki ketika melihat Rain, Tasya dan Lula. ketiganya pun langsung berlari ke lapangan dan mencari barisan upacara sesuai urutan kelas mereka. * * * Pukul setengah empat sore Kai baru saja selesai mandi dan sedang bersiap ingin menjemput Rain lalu pergi ke Rumah sakit. Kai baru menyadari kalau dirinya telah mendapatkan panggilan hingga puluhan kali sejak satu jam terakhir karena memang lelaki itu sedang mengaktifkan ponselnya dalam mode bergetar tanpa suara. "Loh Mbak Serly sama Mas Angga telefon, ada apa ini?" tanya Kai sambil menekan tombol panggil untuk bertanya mengapa sang Kakak dan Kakak iparnya menghubungi hingga berkali-kali. sambil menunggu panggilannya tersambung, Kai meraih kunci mobilnya berjalan keluar dari kamarnya. "Halo Mbak Serly, Maaf tadi aku sedang mandi, ada apa Mbak?" tanya Kai yang sempat mendengar isak tangis dari sang Kakak. Hati Kai pun mendadak berubah menjadi tidak enak dan pikiran buruk tentang sang Papa pun mulai memenuhi benaknya. "Kondisi Papa sedang tidak stabil, Kai." jawab Mama Serly sambil menangis yang membuat Kai seketika panik saat mendengarnya. "Lalu sekarang bagaiman perkembangan kondisi Papa?" tanya Kai dengan nada suara yang panik. "Papa sedang di periksa Dokter saat ini Kai, sekarang kamu cepat ke sini ya ajak Rain juga," pinta Mama Serly yang menginginkan semua anggota keluarganya untuk segera berada di Rumah sakit. "Baik Mbak, Aku jemput Rain dulu ya baru ke Rumah sakit," kata Kai lalu memutuskan panggilan telefon di antara mereka. Lelaki itu pun berlari untuk segera pergi ke Sekolah menjemput Rain lalu pergi ke Rumah sakit sesuai perintah sang Kakak. Sekitar dua puluh menit, Kai sudah sampai di depan pintu gerbang Rain namun lelaki itu sengaja tidak keluar dari mobilnya. lelaki itu memilih untuk menghubungi Rain lewat ponselnya dan menyuruh gadis itu untuk segera keluar karena mereka harus segera ke Rumah sakit. "Apa yang terjadi dengan Kakek, Om?" tanya Rain ketika gadis itu baru saja masuk ke dalam mobil Kai tanpa basa-baso terlebih dahulu. saat mendapat perintah dari Kai untuk segera keluar dari Sekolah dan mereka akan pergi ke Rumah sakit, pikiran Rain dan hatinya langsung tertuju kepada Kakek Pratama. "Om hanya tahu kalau kondisi Kakek sedang tidak baik saat ini makanya sekarang kita di minta ke Rumah sakit," jelas Kao sebisa mungkin sambil menyalakan mesin mobilnya kembali. "Ya sudah Om, cepat kita ke Rumah sakit karena Rain sangat ingin tahu bagaimana kondisi Kakek," seru Rain namun Kai menatap Rain sambil memberikan kode untuk menggunakan seat belt milik gadis itu. "Kelamaan deh Om Kai, cepat jalan Om," seru Rain seperti sedang menyuruh seorang Sopir. Namun Kai pun mendekatkan tubuhnya ke arah Rain. "Ih Om mau apa? Jangan macam-macam ya kalau enggak nanti aku laporkan Kakek nih," ancam Rain namun ternyata Kai sedang memasang seat belt milik Rain. "Sembarangan mau macam-macam lagi pula selera Om itu seperti Ibu Agatha seksi, cantik dan penurut bukan seperti kamu yang sudah pas-pasan batu lagi," seru Kai sambil kembali duduk di kursinya dengan baik. Rain yang tak suka di banding-bandingkan langsung naik pitam dan memanyunkan bibirnya. "Sorry juga ya Om, tipe Rain juga bukan seperti Om melainkan seperti Bintang yang baik, ganteng dan Idola sekolah lagi bukan kayak Om Kai yang yang galak, otoriter dan juga dingin," balas Rain yang mengungkapkan rasa kesalnya kepada Kai. "Terserah.." sergah Kai kesal yang mendapat penilaian buruk dari Rain lalu laki-laki itu pun mulai tancap gas untuk segera ke rumah sakit. Rain dan Kai pun sampai di Rumah sakit, keduanya pun langsung berlari ke kamar rawat Kakek Pratama. sesampai di kamar rawat Kakek Pratama, Rain langsung memeluk beliau yang sedang terbaring lemah dengan tangisnya yang mulai pecah. "Mbak jadi kata Dokter, bagaimana kondisi Papa?" tanya Kai yang ingin mengetahui detail tentang keadaan sang Papa. "Rain, kenapa kamu menangis? Kakek baik-baik saja," seru Kakek Pratama sebelum Mama Serly menjawab pertanyaan Kai. "Papa.." panggil Kai sambil menghampiri sang Papa. "Kai, Papa baik-baik saja kok," Kata Kakek Pratama yang kembali tersenyum untuk meyakinkan Kai dan juga Rain. "Rain dan Kai, bolehkan lelaki tua ini meminta sesuatu?" tanya Kakek Pratama. "Apa itu, Pa?" tanya Kai yang mewakili Rain yang masih menangis melihat sang Kakek terbang lemas di atas tempat tidur dan tak seperti biasanya. "Aku ingin melihat kalian berdua segera menikah di hadapanku ya," pinta beliau dengan suara lirih yang membuat tangis Rain dan sang Mama pecah kembali saat mendengarnya. semua orang di ruangan itu takut kalau hal ini akan menjadi permintaan beliau. "Baiklah Pa, Kai akan penuhi permintaan Papa asalkan kondisi Papa selalu membaik dan tidak kembali drop seperri ini ya," ucap Kai yang pada akhirnya menyetujui permintaan sang Papa setidaknya lelaki itu hanya ingin keadaan beliau membaik. "Benarkah itu, Lalu bagaimana dengan kamu, Rain?" tanya Kakek Pratama dengan tatapan wajah bahagia ke arah Kai. setelah lelaki itu menjawabnya dengan sebuah anggukan kini pandangan mata beliau beralih ke arah Rain yang tak mau gadis itu akan menyetujuinya demi kesehatan sang Kakek. "Serly, Angga, kemari lah.." pinta Kakek Pratama yang langsung do turuti oleh keduanya untuk menghampiri beliau. "Tolong kalian urus pernikahan mereka secepatnya ya, kalau perlu besok," perintah Kakek Pratama lagi yang di jawab anggukan oleh Keduanya. "Tapi ingat ya kondisi Papa harus segera pulih lagi," kata Kai mengingatkan kembali karena memang ia tak ingin kehilangan satu-satunya orang yang paling dirinya sayangi. walau Kakek Pratama bukanlah Orang tua kandungnya hanya saja beliaulah yang merawat dan membesarkan dirinya dengan sangat baik. "Iya Kai, Papa janji," seru Kakek Pratama dari raut wajahnya yang lesu kini sebuah senyuman membingkai indah di wajah beliau. "Kai, bolehkah Mbak bicara denganmu?" Ajak Mama Serly yang di jawab anggukan oleh Kai. "Pa, Serly dan Kai pamit keluar sebentar ya," Pamit Mama Serly yang di jawab anggukan oleh Kakek Pratama. Lalu keduanya pun berjalan keluar dari kamar rawat beliau. "Sekarang Kakek istirahat ya biar keadaan Kakek kembali pulih seperri dulu," pinta Rain yang tak ingin beliau kembali sakit. untuk saat ini Rain hanya ingin sang Kakek benar-benar sembuh dan bisa beraktivitas kembali. permintaan apa pun akan Rain penuhi termasuk permintaan sang Kakek tadi yang ingin memintanya untuk segera menikah dengan sang Om. "Kakek akan beristirahat kalau setelah ini kamu pulang sama Papa kamu ya karena pasti kegiatan di sekolah sangat melelahkan, kamu juga harus beristirahat Rain," pesan Kakek Pratama yang di jawab anggukan oleh Rain. "Angga, setelah Serly dan Kai kembali kamu harus mengajak Rain pulang ya," kata Kakek Pratama kepada Menantinya tersebut. "Baik, Pa," jawab Papa Angga. Lalu Kakek Pratama mencoba untuk kembali menutup matanya seperti permintaan Rain. Sementara itu kini Mama Serly sedang duduk bersama dengan Kai di lorong Rumah sakit yang berada tepat di luar kamar rawat sang Papa. keduanya duduk di kursi tunggu saling berhadapan karena Kai sendiri sangat penasaran dengan apa yang ingin di bicarakan Mama Serly, Apakah ada kaitannya dengan kondisi sang Papa. "Ada apa, Mbak?" tanya Kai. "Kali ini, Mbak akan memberitahu keadaan Papa yang sempat di beritahukan oleh Dokter sebelum kamu datang," jawab Mama Serly yang membuat rasa khawatir Kai kembali muncul. "Keadaan Papa semakin parah dan kita tidak pernah tahu sampai kapan beliau akan bertahan hanya saja keputusan kamu untuk menikahi Rain adalah keputusan yang terbaik," jelas Mama Serly. "Setidaknya yang saat ini kita bisa lakukan adalah jangan membuat Papa dalam keadaan stres yang bisa memicu kondisi buruknya seperti saat ini selain itu Dokter juga menganjurkan untuk tetap sabar dan ikhlas, " tambah Mama Serly lagi yang terdengar menjadi berita buruk bagi Kai karena suatu saat nanti mereka semua mau tak mau harus menerima kondisi terpahitnya dari hal tersebut. "Iya Mbak tapi apakah benar-benar sudah tak akan kesempatan untuk Papa sembuh?" tanya Kai yang masih berharap kalau ada hal baik yang masih tersisa namun dengan cepat Mama Serly menjawabnya dengan menggelengkan kepala dan air matanya yang mengalir. Kai menjambak rambutnya sendiri dengan kedua tangannya yang sudah bertumpu di atas kedua pahanya. lelaki itu merasa sangat putus asa hingga membuat nafasnya dengan sangat terpaksa. ia tak percaya di jaman yang modern dan secanggih ini tak ada hal yang membuat sang Papa kembali sehat. "Selain itu Mbak ingin mengatakan kalau pernikahan kalian berdua akan dilaksanakan secara diam-diam dan hanya kita berlima serta pelaksana pernikahan lainnya yang tahu hal ini, lalu setelah kalian menikah, kalian akan tinggal di kamar yang berbeda," kata Mama Serly yang memberitahukan hal ini lebih dulu dengan Kai. namun hal tersebut tak cukup penting untuk dirinya saat ini. "Kalai soal itu Mbak sama Mas yang atur saja karena fokus ku saat ini adalah kepada Papa," jawab Kai pasrah. "Maksudmu kau menikahi anakku hanya sebatas memenuhi permintaan Papa?" tanya Mama Serly. "Sebenarnya memang seperti itu Mbak karena aku tak menganggap pernikahan ini secara serius." jawab Kai santai karena mungkin saja mereka berdua sepemikiran. "Baiklah setidaknya aku merasa tenang dan juga tak perlu khawatir kalai kau akan berbuat macam-macam kepada Putriku, Kai," kata Mama Serly yang membuat Kai tersenyum tipis ketika mendengarnya. Entah kenapa Kai seakan merasa sangat kesal dengan ucapan Mbak Serly yang akan membawa pengaruh buruk untuk anaknya. "Kalau begitu sekarang Mbak yang duluan masuk kamar rawat Papa," Pamit Mama Serly sambil seraya bangkit dari kursinya lalu berjalan masuk ke dalam. Kai mengambil ponselnya dan berusaha mengetik sebuah pesan untuk Agatha-kekasihnya. Rencananya malam ini lelaki itu ingin memberitahukan semuanya kepada sang Kekasih tentang permintaan sang Papa tanpa membawa nama Rain. setidaknya sebelum semua hal terjadi ia ingin berusaha jujur kepada Agatha walau hal terburuknya ia akan kehilangan sosok wanita cantik yang sudah menemaninya selama satu setengah tahun belakangan. Kai hanya tak ingin menjadi lelaki pengecut yang menyembunyikan sebuah kebenaran tapi di sisi lain Kai pun berharap Agatha dapat mengerti dan menunggu dirinya kembali.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN