Bab 6

1032 Kata
Di pertengahan jalan Bintang menghentikan laju motornya di salah satu tempat makan yang menjual mie ayam dan bakso. lelaki tampan itu berniat ingin mengajak Rain makan malam terlebih dahulu sebelum mengantar gadis itu kembali ke rumahnya. "Rain, kita makan dulu ya sebelum pulang, enggak apa-apa kan?" tawar Bintang ketika motornya sudah terparkir sempurna di area parkir. "Baiklah, tapi jangan lama-lama ya," jawab Rain sambil menatap jam di tangan kiri yang menunjukkan pukul enam lewat lima belas menit. Bagi gadis itu ini adalah hal yang langka sekali karena bisa di antar pulang oleh Bintang sekaligus di ajak makan malam olehnya. Lagi pula perut Rain sudah kembali terasa lapar karena selama menonton pertandingan bola tersebut tenaganya habis untuk berteriak sekaligus bertepuk tangan untuk menyemangati Bintang dan timnya. Bintang pun juga merasa sangat senang sekali bisa mengantar Raina pulang dan makan malam bersama sepertinya semesta sedang berpihak kepada keduanya. Keduanya pun masuk ke dalam tempat makan sederhana tersebut lalu mereka memesan dua mangkok mie ayam dengan bakso dan juga dua gelas es teh manis. "By the way, untuk pertandingan tadi kamu keren, Bintang," puji Rain kepada Bintang untuk membuka obrolan di antara mereka berdua yang tengah menunggu pesanan makanan dan minuman mereka. "Ah benarkah?" tanya Bintang yang merasa malu mendapat pujian tersebut dari gadis yang ia cintai. walau Bintang sudah terbiasa mendapatkan pujian tersebut dari kaum hawa lainnya tapu menurut laki-laki itu hanya Rain yang mampu membuatnya tak percaya diri dan juga jantungnya berdebar tak menentu. "Ya aku serius mengatakan hal itu." Rain menatap mata Bintang dengan binar matanya agar Bintang percaya dengan ucapannya barusan. "Terima kasih Rain, aku senang kau memujiku seperti itu," kata Bintang lagi sambil tersenyum malu. "Permisi, Mas dan Mbak ini pesanannya," kata Mas penjual tersebut yang sudah berada di antara mereka berdua sambil meletakkan dua mangkok mie ayam dengan bakso di hadapan Rain dan juga Bintang. "Terima kasih, Mas," kata Bintang sambil mengacungkan jempol ke arah sang penjual mie ayam. "Ayo Rain di makan, Fun fact kalau mie ayam ini enak banget loh apa lagi kalau kamu makan baksonya, kuahnya seger banget loh," kata Bintang memuji makanan yang memang biasa ia nikmati bersama tim sepak bolanya ketika pulang bertanding. "Oh ya, berarti kamu sudah sering dong makan di sini?" tanya Rain sambil mengaduk mie ayamnya yang sudah ia taruh beberapa sendok sambal di atasnya. "Ya sering sekali kalau bareng yang lain sepulang bertanding atau kebetulan lewat pasti aku mampir untuk makan di sini," kata Bintang yang baru saja menambahkan sambal serta kecap di atas mie ayam miliknya. Rain pun mulai memasukan makanan tersebut ke dalam mulutnya hingga membuat Bintang menunggu ekspresi selanjutnya dari gadis itu karena memang ia ingin melihat bagaimana penilaian Rain terhadap makanan kesukaannya. "Bagaimana, Rain?" "Kamu benar, mie ayam ini enak sekali," kata Rain yang sependapat dengan Bintang apa lagi saat ini ia menikmatinya bersama sang pujaan hati. "Wah syukurlah kalau kamu menyukainya karena aku tidak jadi merasa bersalah telah mengajakmu mampir ke tempat ini." Bintang membuang nafas lega setelah melihat ekspresi Rain dan juga mendengar penilaian darinya. "Kamu bisa saja Bintang, yang ada aku nih yang merasa sangat bersalah dengan para penggemar kamu karena sudah bersedia di antar pulang serta makan bersama kamu," canda Rain yang membuat Bintang tertawa saat mendengarnya. "Kamu tuh yang bisa saja Rain, malah aku takut kalau pacarmu melihat ya nantinya," goda Bintang untuk memastikan status hubungan Raina dengan orang lain agar ia tidak salah mengambil keputusan untuk mendekati gadis yang sedang bersamanya tersebut. "Memang menurut penilaian kamu, apa aku ini punya pacar? apa lagi aku ini adalah gadis yang suka sekali terlambat masuk sekolah serta susah di atur," tanya Rain sambil mengatakan penilaian buruk tentang dirinya kepada Bintang. Ya Rain sengaja mengatakan hal tersebut karena gadis itu ingin tahu bagaimana penilaian Bintang terhadap dirinya apakah sama seperti yang lainya yang mengatakan kalau dirinya ada seorang pembuat onar. "Heem.." Pemuda itu meletakkan sumpit miliknya di atas mangkok lalu menatap Rain sambil tersenyum. Tapi Rain tidak merasa senang karena mungkin saja tebakannya tentang pemuda ini adalah benar kalau ia memiliki penawaran yang sama. "Sudahlah lupakan saja pertanyaan yang aku lontarkan barusan, ayo segera kita habiskan makanan ini lalu kita pulang," kata Rain yang tidak lagi ingin membahas hal itu. "Tunggu Rain, menurutku kamu orang baik dan juga pintar tapi soal kelakuan buruk kamu itu pasti memiliki alasan bukan?" seru Bintang sambil memegang tangan Rain yang membuat jantungnya berdetak tak beraturan dan juga wajahnya kini bersemu merah. "Benarkah seperti itu penilaian kamu terhadapku, Bintang?" tanya Rain yang kembali meyakinkan dirinya. Bintang pun menjawabnya dengan sebuah anggukan. gadis itu merasa sangat senang karena pada akhirnya ads orang yang mengerti tentang dirinya. Rain pun merasa menyesal sempat berpikir kalau Bintang akan memberi penilaian yang sama. "Baiklah kalau begitu segera kita habiskan makanan kita lalu kita pulang karena hari sudah semakin larut," ajak Bintang sambil melepaskan genggaman tangannya kepada Rain. Rain pun mengangguk tanda setuju dengan apa yang di ucapkan oleh Bintang barusan. * * * Tepat pukul setengah delapan tanpa Rain sadari dirinya baru saja sampai di depan Rumahnya. Rain seakan melupakan pesan Om Kai yang mengatakan untuk sudah berada di rumah sebelum pukul tujuh. Gadis itu baru saja saling melempar ucapan perpisahan dengan Bintang di depan pintu gerbang. Dengan perasaan senang gadis itu masuk ke dalam rumahnya. "Kamu telat setengah jam," seru seseorang saat gadis itu baru saja masuk ke dalam rumah dan hendak menutup pintu. Ya orang itu adalah Om Kai yang sedang berdiri di belakang pintu. "Om Kai bikin kaget Rain tahu," gerutu gadis itu yang merasa terkejut saat mendapati sang Om berada di belakang pintu dan langsung menegurnya dengan tatapan sinis. "Enggak usah basa-basi, ke mana saja kamu jak segini baru pulang? dan apakah Lula atau Tasya kini berubah menjadi seorang pria sampai kau pulang di antar olehnya?" tanya Om Kai yang melemparkan banyak pertanyaan kepada Rain. "Satu-satu dong Om tanyanya lagi pulang nih ya, Rain mau pulang jam berapa dan sama siapa bukan urusan Om," jawab Rain santai sambil melangkahkan kakinya namun di tarik oleh Om Kai. "Mulai sekarang kamu itu jadi urusan Om karena.." Kai masih bingung haruskah ia mengatakan semuanya kepada Rain atau tidak karena nanti pun gadis ini juga akan mengetahuinya. kini hati dan pikiran Kai kembali beradu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN