Bab 4

1256 Kata
“Sayang, kamu yakin enggak mau makan lagi?” tanya Agatha yang merasa tidak enak karena ia harus menikmati sarapannyan sendirian sedangkan kekasihnya hanya menikmati secangkir kopi. “Yakin Sayang, sudah kamu makan saja dulu.” Seru Kai sambil menatap wajah kekasihnya dengan sebuah senyuman. Sejujurnya Kai sedang bingung bagaimana caranya memyampaikan permintaan sang Papa kepada kekasihnya. Ia tak ingin hati Agatha hancur saat mengetahui hal tersebut. Padahal selama ini Agatha sudah setia dan juga sangat sabar menunggu kepulangannya. “Kai.. Kai..” panggil Agatha yang membuyarkan lamunan Kai. “Ada apa Sayang?” “Apa yang sedang kamu pikirkan sampai aku harus memanggilmu beberapa kali, apakah ada masalah?” tanya Agatha yang sangat khawatir melihat Kai yang seperti sedang banyak pikiran. “Oh enggak aku hanya kepikiran soal Papa,” ucap sambil menggenggam salah satu tangan kekasihnya tersebut. “Loh Papa kamu kenapa? Sakit?” tanya Agatha yang di jawab anggukan oleh Kai. “Papa sakit apa?” tanya Agatha yang memang belum mengetahui hal tersebut karena Kai belum memberitahunya karena kemarin ia tenggelam dengan urusan sang Papa yang sedang sakit serta permintaan beliau yang terdengar konyol. “Papa sakit parah, Sayang.” Seru Kai pasrah. “Kamu yang sabar ya, aku yakin Papa kamu pasti sembuh.” Seru Agatha yang langsung menyemangati. “Terima kasih ya, Sayang.” Ucap Kai sambil memegang wajah cantik kekasihnya. Kai memutuskan untuk tidak memberitahu tentang permintaan sang Papa dan menyimpannya rapat- rapat dari kekasihnya. Kai masih enggan melihat Agatha terluka dan menangis karena dirinya. # # # “Rain, nanti sore sepulang sekolah kita jadi melihat pertandingan sepak bola Bintang?” tanya Lula untuk kembali mengingatkan saat mereka bertiga sedang menikmati makanan di kantin di jam istirahat. “Pastinya..” jawab Rain dengan binar mata bahagia saat kembali mengingat soosk Bintang, lelaki yang sangat ia sukai sejak pertama kali masuk sekolah ini. sampai terlalu sukanya Rain tak pernah absen untuk selalu melihat pertandingan sepak bola Bintang bahkan saat ia sedang latihan. Bintang terlihat semakin keren saat sedang mengiring sih kulit bundar tersebut. Namun sayang Rain dan Bintang tak begitu akrab karena mereka ada di kelas yang berbeda serta tak ada kesempatan untuknya menjadi lebih dekat untuk sekedar mengobrol. “Eh lihat, itu Bintang..” seru Tasya sambil menunjuk seseorang yang ia maksudkan. Rain dan Lula menoleh ke arah Bintang yang baru saja tiba di kantin dengan kedua teman yaitu Doni dan juga Rehan. Tak hanya Rain dan juga Tasya yang terpesona dengan aura tampan ketiga lelaki tersebut tetapi semua kaum hawa yang ada di sekolahnya juga ikut terpesona hingga begitu mendambakan ketiganya. “Ganteng banget sih mereka, andai kita bertiga jadi pasangan mereka pasti cewek satu sekolah bakalan iri.” Seru Tasya yang begitu ingin menjalin hubungan dengan salah satu dari mereka. “Jangan kebayakan berhayal Sya, nanti kalau jatuh pasti sakit,” ucap Lula mengingatkan. “Enggak apa- apa kalau jatuhnya ke Rehan,” ucap Tasya. “Terserah kamu deh Sya,” seru Lula yang merasa tak habis pikir dengan Tasya yang begitu menggilai sosok Rehan yang terkenal suka memanfaatkan wanita. “Halo, kita boleh gabung sama kalian?” tanya seseorang yang suaranya tak asing bagi ketiganya hingga mereka cepat- cepat menoleh ke sumber suara tersebut yang ternyata adalah Bintang serta kedua temannya. “Boleh..” jawab Rain cepat sambil tersenyum. Gadis itu tak menyangka kalau Bintang dan teman- temannya mau duduk semeja dengannya dan teman- temannya. Lula yang tadinya duduk berhadapan dengan Rain bangkit dan kini duduk di sebelah Rain. “Habis ini pelajaran Ibu Agatha, kalian sudah mengerjakan tugas belum?” tanya Lula kepada kedua temannya. Namun Rain dan Tasya malah sedang terbuat dengan pemandangan indah yang ada di hadapannya saat ini. “Rain.. Tasya..” panggil Lula kesal hingga kedua temannya menoleh ke arahnya. “Hah? Kenapa La?” tanya Rain sambil menoleh ke arah Lula. Namun Lula yang kesal malah beranjak dari tempat duduknya serta meninggalkan kedua teman- temannya yang sedang di mabuk asmara. Rain tampak panik saat melihat Lula yang kesal karena kelalaiannya dan Tasya. Gadis itu bangkit karena ingin segera mengejar temannya namun ia sempat menoleh Tasya yang masih belum sadar kalau Lula sedang marah. “Sya, ayo kejar Lula.” Seru Rain sambil menepuk bahu Tasya. “Tapi makanan aku belum habis, Rain.” Lirih Tasya yang enggan meninggalkan tempatnya saat ini. Bintang hanya tersenyum melihat apa yang baru saja terjadi diantara Rain, Lula dan juga Tasya. “Ya sudah aku duluan,” ucap Rain yang segera meninggalkan Tasya lalu mengejar Lula yang mungkin sedang berjalan menuju kelas mereka yang berada di lantai tiga. “Lula, tunggu..” panggil Rain yang sudah menemukan Lula. Lula sempat menoleh ke arah namun kembali mengabaikan Rain. Tasya pun ternyata sudah sampai karena ia mengikuti Rain. “Aku minta maaf La soal tadi ya.” Seru Rain yang begitu menyesal. “Kamu kenapa sih La? Padahal tadi itu kita beruntung loh bisa bertemu dengan Bintang dan teman- temannya,” keluh Tasya yang baru saja tiba. Lula yang awalnya luluh dengan permintaan maaf Rain kembali kesal dengan keluhan Tasya. “Kalau memang beruntung kenapa kalian malah nyusul aku bukan duduk di sana sampai jam istirahat habis?” “Ya sudah aku balik lagi aja ke kantin,” seru Tasya yang semakin membuat Lula kesal. Rain tak ingin kedua temannya itu bertengkar hingga ia menarik pakaian Tasya yang sudah berbalik ingin kembali ke kantin. “Sya please jangan buat masalah,” seru Rain namun Tasya hanya tertawa puas karena ia hanya berpura- pura ingin kembali ke kantin. “Enggak usah di tahan Rain, biarkan saja teman kamu itu balik ke kantin.” Ucap Lula. “Aku Cuma bercanda Lula, Sayang.” Goda Tasya sambil tersenyum ke arah Lula. “Udahlah kita balik aja ke kelas, aku mau ambil handphone aku yang ketinggalan di kelas.” Seru Rain sambil merangkul kedua temannya sambil tersenyum. Mereka bertiga pun kembali ke kelas bersama- sama menuju lantai tiga. “Rain kamu pulang jam tiga sore kan? Nanti Om tunggu di depan gerbang sekolah.” Rain baru saja membaca sebuah pesan yang di kirimkan oleh Kai. Rain tampak kesal karena Kai mulai berusaha mengatur kehidupannya. Padahal sepulang sekolah nanti ia dan kedua teman- temannya ingin sekali menonton pertandingan sepak bola Bintang melawan Sma sebelah. “Kamu kenapa Rain?” tanya Tasya. “Kayaknya aku enggak bisa nonton pertandingan sepak bola Bintang nanti,” seru Rain sambil membuang nafas dan meletakkan ponselnya karena malas saat mengingat isi pesan tersebut, “Tumben kamu enggak bisa Rain, biasanya kamu yang paling semangat mau nonton pertandingan Bintang Cs.” Seru Lula. “Nih masalahnya..” seru Rain sambil sedikit menggeser ponselnya yang tergeletak di meja tadi. Tasya mengambil ponsel Rain yang masih menunjukkan isi pesan Kai. “Kenapa kamu enggak bilang aja, kalau kamu akan pulang sendiri.” Usul Tasya yang membuat Rain tersenyum miris. “Enggak mungkin boleh..” “Atau kita berbohong saja mau kerja kelompok..” usul Lula yang sebenarnya Rain sendiri tidak yakin kalau Om-nya itu mempercayainya. Tapi kalau tidak di coba Rain sendiri tidak tahu hasilnya. “Boleh di coba tapi di rumah siapa?” “Di rumah Lula..” seru Tasya cepat. “Enak aja aku yang kasih ide masa aku juga yang menyediakan tempat.” Tolak Lula yang merasa khawatir kalau nanti Om Rain menghubungi keluarganya. “Di rumah kamu aja ya Sya, lagian orang tua kamu juga lagi keluar kota kan?” tanya Rain menatap Tasya. “Oke baiklah..” seru Tasya tanda setuju yang membuat mereka bertiga sama- sama tersenyum karena sudah bisa mengatasi masalah Rain.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN