Bab 16

2182 Kata
Dua hari kemudian Rain mendapat kabar kalau kondisi Kakek Pratama sudah tampak membaik, selain itu semua urusan yang terkait segala pernikahan Rain dan juga Kai juga sudah selesai. Hingga keduanya besok sudah bisa menikah di Rumah Kakek Pratama secara diam-diam tanpa di ketahui siapa pun sesuai rencana awal mereka. kedua Orang tua Rain pun sudah meminta ijin pada pihak Sekolah kalau selama beberapa hari gadis itu tidak bisa masuk Sekolah dengan alasan urusan Keluarga yang begitu mendesak terkait kondisi Kakek Pratama. Sementara di sisi lain Kai sudah mulai di perkenalkan dengan Perusahaan sang Papa oleh Papa Angga dan juga Mama Serly sesuai pesan Kakek Pratama. Kai sendiri akan resmi bekerja di Perusahaan Pratama grup setelah pernikahannya dengan Rain telah terlaksana. Awalnya Kakek Pratama akan memberikan secara penuh ahli waris Perusahaannya kepada Papa Angga hanya saja Papa Angga sudah memiliki Perusahaan sendiri warisan dari Orang tuanya, Makanya Kakek Pratama berniat ingin memberikan Perusahaan tersebut kepada Kai dan Rain nantinya kelak Dan siang ini Kakek Pratama sudah di perbolehkan pulang dengan syarat masih harus menjalani rutin check up nantinya. "Akhirnya aku sudah bisa kembali ke Rumahku lagi," seru Kakek Pratama ketika baru saja sampai di Rumahnya. kini mereka berempat sedang duduk di Ruang tengah untuk mengobrol sebentar. "Iya tapi Papa harus sering beristirahat dan juga jaga kesehatan jangan sampai drop lagi ya," kata Mama Serly sambil tersenyum ke arah beliau karena ia sangat senang sekali sang Papa sudah bisa kembali ke Rumah dalam keadaan kembali sehat. "Iya Serly tapi bagaimana dengan persiapan pernikahan Rain dan Kai besok? hari ini, hari terakhir Rain sekolah kan?" tanya Kakek Pratama yang masih mengkhawatirkan persiapan pernikahan Kai dan juga Raina. "Soal itu Papa tenang saja, semuanya sudah kami persiapkan sematang mungkin mulai dari penghulu, pakaian dan juga makan siang untuk besok," jawab Papa Angga dengan sangat yakin. "Kalau kamu Kai.." kata Kakek Pratama kepada Kai yang sedang sibuk dengan ponselnya sejak tadi. Lelaki itu pun menyimpan ponsel miliknya ke dalam saku kemejanya dan kini menoleh ke arah Kakek Pratama. "Maksudnya apa, Pa?" tanya Kai bingung karena sang Papa begitu singkat bicara. "Maksud Papa, bagaimana kesiapan kamu yang besok akan menikah Rain?" tanya Kakek Pratama yang mempertegas pertanyaannya barusan. Kai pun tampak terpaku dengan pertanyaan beliau hingga lelaki itu merasa bingung harus menjawab apa. Kini tatapan mata Mama Serly dan Papa Angga pun beralih ke arah Kai yang membuat lelaki itu semakin gugup. "Ya Kai sudah siap, Pa," jawab Kai yang berusaha setegas mungkin untuk menjawabnya walau saat ini ia sedang menahan rasa gugupnya. rasa gugup yang terjadi bukan karena acara pernikahannya besok melainkan lelaki itu takut kalau tiba- tiba saja besok Agatha datang ke Rumah serta memberitahukan hubungan keduanya. Di satu sisi juga ia takut kalau Agatha tahu dirinya akan menikah dengan Rain. "Ingat ya Kai, Papa tidak ingin kamu menikahi Rain dengan tujuan untuk main- main saja karena sebenarnya Papa ingin sekali kamu bisa membuat Rain berubah kembali menjadi anak yang baik lagi setelah menikah dengan kamu," pesan Sang Papa kepada Kai yang di jawab anggukan oleh lelaki itu. "Sudah Pa, jangan terlalu keras dengan Kai ya karena Kai mungkin sudah sangat mengerti bagaimana ia harus menjalani hubungan Rumah tangganya dengan Rain nanti," sela Mama Serly yang tak ingin emosi sang Papa kembali bangkit dan mengganggu kesehatan beliau sendiri. "Aku bukannya keras dengan Kai hanya saja seharusnya kau dan Angga juga bisa membimbing atau memberi saran dengan Kai untuk membuat Rain menjadi Anak yang lebih baik lagi seperti dulu sebelum kalian meninggalkannya bahkan kalau perlu semakin baik lagi," Seru Kakek Pratama yang membuat Mama Serly dan Papa Angga merasa tersindir. Suasana di Ruang tengah pun berubah menjadi hening seketika karena memang baik Mama Serly atau pun Papa Angga tidak berani mengatakan hal apa pun. Apa lagi hal yang baru saja Kakek Pratama katakan adalah sebuah kebenaran yang tidak bisa pungkiri lagi oleh keduanya. "Pa, sudah ya sekarang Papa banyak istirahat di Kamar ya," kata Kai yang tahu kalau sang Kakak dan Kakak Iparnya sudah tak nyaman dengan perkataan sang Papa barusan karena hal itu terlihat jelas sekali dari sikap serta raut wajah keduanya. “Ya, Papa akan ke istirahat sekarang, nanti sore kamu jangan lupa jemput Rain ya Kai,” pesan Kakek Pratama yang bangkit dari tempat duduknya di bantu oleh Mama Serly lalu keduanya pergi meninggalkan Kai dan juga Papa Angga. “Mas, kalau begitu aku masuk ke Kamar ya,” pamit Kai kepada Kakak Iparnya tersebut sambil beranjak bangkit dari tempat duduk dan bersiap untuk melangkah pergi. “Tunggu Kai, boleh Mas bicara sebentar? Kamu tidak sibuk kan?” tanya Papa Angga sebelum Adik Iparnya tersebut pergi meninggalkannya. Sejak tadi Papa Angga terpikir ucapan Mertuanya tentang perubahan sikap Rain, sebagai orang tua Papa Angga merasa sudah sangat gagal mendidik dan merawat Rain yang kini menjadi Anak yang susah di atur serta tidak bisa berbicara sopan dengannya dan juga Istrinya. Tapi beliau pun tak ingin menyalahkan Rain sepenuhnya kaena semua yang terjadi adalah kesalahan mereka yang mungkin sudah terlambat untuk di perbaiki walau apa yang mereka perjuangkan selama ini demi Anak perempuan satu- satunya. “Kebetulan Aku sedang tidak sibuk Mas, memang Mas ingin bicara tentang apa?” tanya Kai yang kembali duduk di kursinya dan pandangan matanya kini beralih ke arah sang Kakak Ipar. “Jadi Mas ingin bicara tentang Rain, Kai,” kata Papa Angga yang membuat Kai yang seakan sudah bisa menebak apa yang akan di bahas oleh Kakak Iparnya tersebut jika sudah mengenai Rain. “Papa, mau bahas apa tentang Rain dengan Kai?” tanya Mama Serly yang sempat mendengar obrolan Papa Angga dengan Kai setelah mengantar sang Papa ke Kamarnya. Kini beliau duduk di antara kedua lelaki tersebut. “Papa hanya ingin mengatakan kepada Kai untuk membantu kita merubah sikap Rain menjadi Anak yang baik sebelum keadaan semakin terlambat karena Papa merasa bersalah sudah membuat Putri kita menjadi seperti saat ini, Ma,” jelas Papa Angga yang berusaha mengungkapkan rasa khawatirnya dan juga rasa bersalahnya. “Tidak seharusnya Papa memberikan tanggung jawab itu kepada Kai, Pa,” kata Mama Serly yang tidak setuju dengan apa yang dilakukan oleh Suaminya tersebut. Kai hanya bisa diam melihat pertikaian kecil yang terjadi di hadapannya saat ini. “Apa lagi pernikahan ini belum tentu sepenuhnya Kai dan Rain setujui karena niatnya pun untuk membuat keadaan Papa membaik saja,” jelas Mama Serly sambil berbisik dan pandangan  matanya mengedar ke arah lain untuk memastikan kalau Papanya tidak berada dekat dengan mereka apa lagi mendengar percakapan mereka bertiga. “Tapi Ma, sebagai Orang tua Papa merasa bersalah serta gagal telah membuat Raina menjadi gadis yang seperti itu,” jelas Papa Angga lagi yang tak mau kalah karena hal ini pun menyangkut masa depan Putrinya. “Maaf Mas dan juga Mbak jika aku menyela perdebatan kalian berdua tapi jika kalian berdua terus seperti ini Papa mungkin akan mendengar semua yang perkataan kalian dan mungkin akan kembali mempengaruhi kesehatan Papa,” kata Kai yang berusaha menengahi perdebatan di antara keduanya yang membuat keduanya kembali teringat keadaan Kakek Pratama. “Aku akan membantu kalian untuk merubah sikap Rain menjadi lebih baik dari sebelumnya tapi peran terpenting saat ini dan seterusnya agar sikap Rain bisa berubah kembali menjadi lebih baik adalah kalian berdua,” kata Kai yang sudah mengambil keputusan untuk membantu mereka yang sangat menyayangi Rain. Lelaki itu awalnya memang merasa keberatan dengan tanggung jawab yang memang di amanahkan kepadanya tapi mengingat banyak orang yang sangat sayang dengan Rain akhirnya ia mengambil keputusan seperti itu. Keputusan yang baru saja di ucapkan oleh Kai membuat Mama Serly dan Papa Angga terdiam sejenak. Keduanya sadar bagaimana pun juga Rain adalah Putri mereka yang harus mereka rawat dan jaga dengan sepenuh hati dan juga penuh kasih sayang. Apa yang di katakan Kai juga benar mau seberapa besar peran untuk membantu mereka tetap saja peran Orang tua lebih penting. “Mas, Mbak maaf aku harus pergi dulu untuk menjawab panggilan telefon,” pamit Kai ketika Agatha menghubungi dirinya yang masih duduk di ruang tengah bersama Kakak dan Kakak Iparnya. Keduanya pun menganggukkan kepala untuk mengiyakannya, lalu Kai menjawab panggilan telefon tersebut sambil berjalan menuju kamar. “Halo Sayang,” sapa Agatha saat panggilan telefon di jawab oleh Kai yang kini sudah berada di dalam kamarnya setelah sempat dalam keadaan setelah berlari. “Halo juga Sayang, ada apa kamu sampai telefon aku?” tanya Kai sambil menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidurnya yang empuk serta memandang langit- langit kamarnya yang seakan  terdapat wajah sang kekasih di sana. Lelaki itu tersenyum setiap kali melihat paras cantik sang kekasih yang seakan sedang tersenyum ke arahnya. “Nanti malam kita jadi makan di luar kan?” tanya Agatha yang menagih janji Kai yang akan mengajaknya makan malam ini. sejak hari itu Kai selalu berusaha ada untuk Agatha serta memberi perhatian untuk sang kekasih seperti biasanya namun kali ini terasa lebih ekstra. Selain itu juga Kai tidak ingin kembali membahas tentang pernikahannya di hadapan Agatha. “Jadi dong, nanti malam pokoknya kamu dandan yang cantik dan juga nanti malam aku yang menjemput kamu,” kata Kai yang mencoba menggoda Agatha agar wanita itu tersenyum di sana. “Ya sudah kalau begitu nanti aku bakalan tunggu kamu di Rumah, sekarang aku balik mengajar lagi ya,” pamit Agatha ketika melihat jam di tangannya yang sudah menunjukkan tanda kalau ia harus segera kembali mengajar. “Iya Sayang, semangat mengajar dan see you nanti malam,” kata Kai sebelum memutuskan panggilan telefonnya. Setelah itu Kai meletakkan ponselnya di samping tempat tidurnya. “Sampai kapan aku bisa menyimpan semua kebohongan ini dari Agatha? Sedangkan besok pernikahan aku dan juga Rain sudah akan berlangsung, sampai kapan semesta akan membantu aku untuk menyimpan rapi semuanya?” tanya Kai pada dirinya sendiri yang sampai saat ini masih merasa kebingungan untuk menyimpan kebohongan ini dari sang Kekasih. Lelaki itu masih belum bisa membayangkan bagaimana bisa Agatha akan kembali merasa kecewa dengan keputusan yang di ambilnya dengan menikahi wanita pilihan sang Papa yang tak lain adalah Rain. # # # Hari ini sejak pagi tadi pagi hingga menjelang pulang seolah, Rain selalu saja melamun memikirkan hari esok yang akan menjadi hari terakhirnya melepas masa lajangnya di pernikahan yang sebenarnya tidak ia jalani di usainya yang masih terbilang muda. Rain sendiri merasa sangat bingung harus bagaimana dirinya menjalani pernikahannya besok? karena ia sendiri masih ingin bersama- sama dengan Bintang yang notabennya adalah lelaki yang sedang dekat dengannya dan juga ia cintai saat ini. “Rain.. Rain..” panggil Tasya sambil menggoyang- goyang sedikit tubuh Rain ketika bel pulang sudah berbunyi saat gadis itu masih saja melamun dan belum bersiap untuk pulang. “Hah? Kenapa?” tanya Rain yang sudah tersadar dari lamunanya. Gadis itu merasa heran melihat semua teman sekelas sudah berhamburan keluar dari kelas mereka. “Ayo pulang, Rain,” ajak Lula sambil kembali duduk di kursi yang ada di hadapan Rain. Hari ini gadis itu merasa kalau waktu berputar sangat cepat hingga tak terasa saat ini ia harus kembali ke Rumah lagi. “Kalian duluan aja gih, aku masih ingin di Kelas dulu,” kata Rain yang ingin menenangkan hatinya sebentar sebelum dirinya kembali ke Rumah. Jujur saja kalau saat ini Rain merasa sangat tertekan dengan keadaan yang selalu membuatnya bingung. “Ada apa sih Rain? Aku perhatikan dari pagi sampai saat ini kamu sering banget melamun,” tanya Tasya yang merasa penasaran karena sejak Rain datang tadi pagi hingga saat ini sahabatnya itu terlihat sedang banyak masalah. “Iya nih, kalau ada masalah cerita dong Rain siapa tahu kita berdua bisa bantu kamu,” tambah Lula yang juga merasa sangat khawatir dengan keadaan Rain saat ini. “Bantu? Apakah mungkin kalian bisa membantuku keluar dari pernikahan ini?” batin Rain dari dalam hatinya karena sampai saat ini dirinya belum menceritakan semuanya kepada kedua sahabatnya tersebut. “Aku enggak apa- apa kok, sekarang lebih baik kalian berdua pulang ya,” pinta Rain yang tak ingin kedua sahabatnya khawatir dengan kondisi dirinya. “Tapi bagaimana dengan Om Kai yang biasanya sudah menunggu kamu di depan pintu gerbang?” tanya Lula yang mengingatkan kalau pasti saat ini Kai sudah menjemputnya. “Kalau kalian bertemu dengan Om Kai bilang aja aku ke toilet sebentar ya soalnya aku mau duduk di sini lima menit  aja habis itu baru deh aku pulang,” kata Rain memohon kepada kedua sahabatnya. “Oke tapi janji jangan lama- lama ya di sini karena aku enggak mau kamu di omelin sama Om Kai dna kalau ada apa- apa hubungi salah satu dari kita berdua,” pesan Tasya sebelum dirinya dan juga Lula pergi meninggalkan Rain sendirian. “Pasti kok kalian tenang aja ya, dah sana pulang,” kata Rain mengusir keduanya untuk segera pulang meninggalkan dirinya sendiri di Kelas. “Daa Rain..” seru Tasya dan Lula bersamaan sambil melambaikan tangannya lalu meninggalkan Rain seorang diri di kelas. Setelah kedua Sahabatnya sudah benar- benar meninggalkan dirinya, entah mengapa air mata Rain mengalir begitu saja hingga gadis itu memutuskan untuk membenamkan wajahnya di atas kedua tangan nya yang sudah bertumpu di atas meja. Saat itulah Rain mulai menangis sejadi- jadinya namun tidak menggunakan suara karena ia tak ingin ada yang mengetahui kalau dirinya saat ini sedang menangis.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN