3. Perpisahan

2459 Kata
"Bu Metaaaa." Dara yang sedang duduk sambil mengetik tiba-tiba melambaikan tangannya heboh sewaktu gadis itu melihat kehadiran istri dari atasnya melalui jangkauan ekor matanya. "Belum istirahat, Dar?" tanya Meta begitu berhasil berdiri di depan meja Dara—gadis ceria yang mungkin berusia beberapa tahun lebih muda darinya. "Seperti biasa, Bu. Nunggu Bos Besar keluar kandang dulu," jawab Dara kaya akan nada guyonan seraya melirikan matanya penuh kode ke arah ruangan Norega. Terkikik pelan menangkap morse yang diulas Asisten Pribadi suaminya itu, Meta lalu lanjut bertanya mencari kepastian, "Jadi, Pak Rega ada, kan?" "Ada. Langsung masuk saja, Bu. Udah ditunggu kayaknya dari tadi." "Udah ditunggu apa karena kamu pengen buru-buru yang punya kandang pergi nih?" "Ahhh, Ibu mah selalu to the point banget," tanggap Dara dengan nada manja yang dibuat-buat sehingga Meta menjadi merasa lucu serta gemas sendiri. "By the way. Kalau kerjaan kamu udah beres langsung istirahat saja, Dar. Kamu pasti capek, kan ngehadapin tingkah Bosmu setengah hari ini," tutur Meta kemudian. Tertawa tanpa suara, Dara mengangguk menyetujui sambil menjawab, "Iyaaa, siap, Bu!" "Oke, saya ke dalam dulu yah?" ujar Meta. Lagi lagi Dara mengeluarkan sebentuk anggukan tanda mengiyakan kepada wanita yang siang ini tampak menggerai rambut hitam sebatas bahunya. Melangkah sejauh tujuh meter, Meta lalu mengepalkan telapak tangannya dan mengetuk daun pintu sewarna gading di hadapan wajahnya sebanyak tiga kali. Mendapati tak ada sahutan berarti dari dalam, wanita itu bergerak pelan untuk memutar bagian handle-nya demi membuka pintu ruangan pribadi milik Norega tersebut. Melongokan kepalanya, Meta memandang ke sisi kanan serta kiri. VER khususnya kantor pribadi suaminya ini terlihat tidak banyak berubah dari kali pertama Meta melakukan kunjungan saat ia dan Rega masih belum menikah dulu. Paling hanya ada sedikit sentuhan warna-warna yang terkesan lebih maskulin pada dindingnya. Jua terdapat tambahan beberapa buah lukisan yang ambil bagian guna menggantung serta memperamai tempat tersebut. Melepaskan pengamatannya terhadap suasana di sekelilingnya, Meta lantas menoleh secara lamat-lamat ke arah Rega. Dan nun di seberang sebuah meja yang luas, Norega tampak sibuk bersama setumpuk pekerjaannya. Diam-diam Meta meringis kecil. Pemandangan terbaik dari diri seorang Norega Altriano Prakosatama ialah ketika pria itu tengah giat bekerja. Konsentrasinya kadang membuat Meta lupa bahwa pria yang sedang serius serta anteng tersebut merupakan suaminya yang bermulut mirip mercon—suka meledak. Yang hobinya memperkarakan hal-hal tak penting. Si makhluk super menyebalkan sepanjang masa hidup seorang Meta Yunara. "Kenapa berdiri saja di situ? Kegantenganku bikin kamu meleleh? Serasa mau mati berdiri, heh?" Ralat semua rumusan yang sempat Meta pikirkan. Semakin sering wanita itu mencoba memuji suaminya maka, selalu saja pria itu menguarkan sepaket polah yang membuatnya tak pantas untuk disanjung. Mendecih bosan, Meta meletakan barang bawaannya ke atas meja di poros ruangan sebelum memutar balik tubuhnya untuk kemudian berjalan tangkas menuju sudut ruangan. Di mana, Norega terpajang menyimpan seperangkat peralatan guna meracik minuman. Mengambil dua buah cangkir kosong dari dalam lemari kecil, wanita yang tampil dalam balutan blouse berwarna salem tersebut kemudian menyeduh teh hitam. "Kerjaan kamu masih banyak?" tanya Meta disela-sela kegiatannya. "Seperti yang kamu lihat saja lah," balas Rega agak acuh tak acuh. "Nggak mau makan dulu?" Kini Meta menelurkan sebaris kalimat tanya seraya melajukan langkahnya kembali menuju sofa putih di pusat ruangan dengan tangan menggenggam dua cangkir teh panas. "Kamu bawa makanan?" Rega sontak menghentikan acara bersibuk-sibuk rianya demi mendongak untuk mencari sosok sang istri. Sedang Meta sendiri hanya mengedikan dagunya ringan ke atas meja di mana ia menyimpan satu set lunch box yang tadi wanita itu bawa bersamanya. Mengetahui perihal tersebut, Rega kontan berdiri tegap, meninggalkan setumpuk tanggung jawabnya. Pemuda itu lalu merangsek cepat untuk menghampiri istrinya. "Gimana kerjaanmu?" buka Rega berbasa-basi begitu telah berhasil mendudukan tubuhnya pada permukaan lembut sofa. "Ya, aku lagi nugas nanganin salah satu event musikal gitu. Dan seperti biasa ada sedikit perselisihan yang terjadi sama Bosku," jawab Meta sesantai mungkin sambil mulai menyesap air tehnya. "Dibilang suruh ngurus WT sendiri dulu kamu malah nolak. Kena, kan kamu akhirnya. Dipimpin sama Jevas Prambada yang kayak perpaduan es batu dan bara api itu, gimana menyesal nggak kamu, heh? Atau malah pengen beneran resign dan pindah ke sini?" tukas Rega bersama intonasi cibiran yang kental. "Mending juga dimarah-marahin Pak Jevas enam hari penuh deh daripada harus punya Bos macam kamu," gumam Meta yang cukup jelas terdengar masuk ke dalam telinga Rega. "Apaan? Kamu coba bandingkan aku dengan si Jevas-Jevas itu? Dengar! Fyi, kalau urusan kesejahteraan bagi karyawan jelas lebih menjanjikan kalau di bawah kepemimpinanku lah," tanggap Rega lagi lagi berlaku jemawa. "Masa bodoh ah! Terserah!" gerutu Meta memblokade aksi berbangga diri ala Norega. Sebelum memorinya teringat akan sebuah peristiwa yang niatnya hendak ia bagi dengan sang suami. "Eh, ya. Tadi ... aku ketemu Bunda," ujar Meta mulai bercerita. "Di mana?" "WT—Eh anu Royal Event Organizer," jawab Meta tersendat. Meski sudah hampir delapan bulan lamanya WT Organizer berganti tampuk kepemimpinan, jenis organisasi jua nama, rasanya lidah wanita itu masih belum mampu guna membiasakan diri. Tentu saja. Terlalu banyak kenangan yang tercipta di antara seorang Meta Yunara, WT Organizer dan tentu saja dengan dia—pemilik bidang usaha tersebut yang sebelumnya. "Oh." Dengusan kasar begitu saja Meta loloskan tatkala sukses menjaring reaksi Rega yang teramat minim. Dasar! Irit katanya kumat lagi, dongkol Meta dalam hati. "Terus Bunda sempat titip pesan," lanjut Meta berbicara. "Soal?" "Katanya, kita suruh berkunjung ke rumah." Menangkap gema kalimat tersebut dalam rongga telinganya. Rega yang pada mulanya sedang berusaha untuk membuka tutup salah satu box makanan di atas meja pun langsung berhenti kilat. Pria itu tampak mematung sejenak, sebelum matanya ia larikan guna dapat mengunci wajah istrinya dengan intens. Menarik sudut-sudut bibirnya lirih. Kini, dalam pandangan Meta tampaklah Norega yang tengah mengulas segaris seringaian super menyebalkan. Bahkan wanita itu dapat merasakan nuansa genderang perang yang agaknya bakal segera ditabuh. "Ini udah ke sekian kalinya loh Bunda ngundang kita. Dan dari bulan ke bulan aku perhatikan bahasanya selalu sama. So ... kamu udah hamil apa belum?" Melipat lengannya di depan d**a, Meta tidak boleh kalah. Maka, wanita itu membalas enteng, "Lah, kamu sendiri ... udah ngerasa ngehamilin apa belum?" Skak Mat! Rega terbilang jarang sekali menuai kekalahan bila beradu kata-kata bersama istrinya. Akan tetapi, untuk point yang satu itu entah mengapa rasanya Rega menjelma tak ubahnya bagai sesosok fakir alasan. Berdecak nyaring sekali, sulung dari tiga bersaudara tersebut pun lantas sigap mengelak, "Kata-kata Bunda memang sebuah keharusan untukku. Tapi ... anak itu bukan sesuatu yang diperjual-belikan di angkringan. Anak juga nggak dipasarin di etalase-etalase. Mana bisa, kan minta sekarang lalu bakalan ada saat itu juga." "Udah tahu cara dapetinnya nggak sederhana. Ngapain juga kamu sok-sokan nyombongin diri suruh Bunda minta apa saja di hari ulang tahunnya. Senjata makan tuankan?" "Ya, kupikir Bunda nggak bakal minta cucu," kilah Rega gesit. "Tahu ah! Yang jelas ini salah kamu. Pokoknya kalau sampe ada pertanyaan-pertanyaan seputar anak-anakan lagi kamulah yang mesti cari jawaban buat alasannya," dumel Meta merasa muak. "Apaan? Kamu juga ikutan salah lah. Dulu kuajak making—" "Tahu ah! Tahu ah! Tahu ah!" Menggeeleng-gelengkan kepalanya pelan sebagai respons. Rega lalu membuka menu lunch box-nya. Dan pria yang telah resmi berusia 31 tahun, beberapa bulan kemarin tersebut pun tak kuasa membendung kelopak matanya untuk makin lebar terbuka. Mengerutkan dahi sesaat, Norega berusaha mencerna apa yang sekarang ini dia lihat dalam wadah box yang diboyong Meta. Serta satu kesimpulan final-nya. Itu adalah penampakan menu tauge. Maksudnya, betul-betul tauge. Tepatnya sih satu wadah tumis tauge solo alias tanpa campuran bahan lain. Terburu membuka box-box yang tersisa. Pria itu jua berhasil menjumpai menu nasi putih yang ditaburi oleh rebusan tauge. Gila! Siang hari milik Norega ini sungguh-sungguh penuh akan tauge, tauge dan tauge. "Apa-apaan nih?" ucap Rega tajam sewaktu mendadak kehilangan selera makannya. "Hah? Kenapa?" tanya Meta gagal mengerti. Rega mengansurkan satu box yang dipegangnya guna ia tunjukan apa gerangan isi wadah hitam tersebut kepada Meta. "Oh ... i-itu tadi yang bawain Bunda," beber Meta takut ada kesalah pahaman tatkala mata bulatnya berhasil menangkap wujud menu yang Rega ulurkan. "Tsk! Bunda ngapain sih ngasih-ngasih ginian? Walau tanpa bantuan tauge-tauge ini pun spermaku berkualitas, aku sangat kuat dan mampu kalau emang mesti bikin sebelas anak juga." "Regaaaa sensor bisa kali!" Meta berseru mengingatkan agar pria itu dapat lebih berhati-hati dalam memilih frasa ucapannya. Mengangkat bahu tak peduli, Norega lanjut menawarkan, "Kamu mau makan tauge?" Meta refleks menggeleng. "Akukan nggak doyan. Lagipula tadi aku udah sempat makan kue dari Bunda bareng teman-teman kantor." Memajang air muka yang terkesan makin tak suka. Ekspresi Rega tersebut menarik respons Meta untuk berkata, "Makanlah! Gimanapun itu Bunda yang buat loh. Kalau kamu nggak makan—" "Bilapun ini racun juga bakal tetap kumakan," potong Rega kilat sambil mengambil satu sendok penuh nasi bertopping tauge untuk selanjutnya ia kunyah dengan susah payah. Meta sendiri serta merta meringis lirih di tempatnya mengawasi Rega. Tidak berubah. Seorang Norega Altriano masihlah pria yang mencintai ibunya dengan teramat besar. Lebih besar takarannya dari cinta yang pemuda itu berikan pada diri siapa pun di sekelilingnya dalam dunia ini. Terlihat mulai menelan hasil kunyahan menu tauge pertamanya. Rega lantas berbicara di sela sesi bersantapnya, "Oh iya. Lusa aku mau menghadiri PFW." "Paris?" tuntut Meta. Rega mengangguk sekilas. "Berangkat kapan?" sambung Meta bertanya. "Nanti malam." "E ... sendiri?" "Iyalah. Kamu ngarep buat kuajakin?" Mendengus pelan, Meta bergerak untuk menyandarkan tubuhnya pada punggung sofa. Mata wanita itu sendiri sempat berputar dengan gelisah sebelum mulutnya menjawab lirih, "Nggaklah! Siapa juga? Mau kamu ke Paris kek, Milan kek, New York kek. Kemana pun kamu pergi buat bekerja memangnya aku pernah kamu bawa? Lagian itu bukan urusanku juga sih. Jadi, ya aku nggak sekali pun pernah berharap tuh." Menutup lunch box yang sudah habis separuh, Rega membalas santai, "Baguslah kamu nggak kepengen ikut. Karena jika kamu ingin artinya aku harus keluar biaya double, kan." "Ishhh dasar!" desis Meta sebal. Makhluk pelit kelas wahid memang Norega Altriano itu, imbuh Meta mencibir. *** Meta memandang kosong ujung jari-jari kakinya yang telanjang di atas lantai. Sedang punggungnya, ia tumpukan pada kusen pintu. Mendongak secara perlahan tampak di depan sana suaminya tengah sibuk menyusun beberapa barang pribadinya ke dalam koper berukuran sedang. Rega terus bergerak ke sana-kemari di ruang kamar mereka. Membuka lemari berisi pakaian, sepatu maupun dasi secara bergantian sebelum ia raih satu-dua keperluan untuk dipindahkan ke dalam koper. Sesekali pria itu juga terlihat mengamati ponselnya. Membalas beberapa pesan masuk hingga akhirnya dia kembali sibuk berkemas. Sementara sejak lima belas menit lalu Meta hanya memerhatikan segala kegiatan Norega dalam bisu. Wanita itu mencoba menangkap semua gerak yang Rega ciptakan. Yang dalam pengelihatannya kadang terksesan berlangsung dengan begitu cepat. "Aku berangkat sekarang," ujar Rega tiba-tiba menyadarkan Meta bahwa pria itu telah menyelesaikan seluruh proses persiapan dirinya. "Jangan lupa kunci pintunya, tutup juga semua jendela. Dan satu lagi, makan yang teratur. Jangan keseringan malas masak serta ujung-ujungnya makan mie instan, oke?" pesan Rega sewaktu sudah menempatkan diri tepat di hadapan Meta. Mendengar suara berat Rega merayap dalam telinganya, Meta pun menganggukan kepalanya patah-patah. "Ya udah, aku pergi sekarang yah?" pamitnya seraya menarik pelan belakang kepala Meta demi mendaratkan sebuah sapuan bibir kilat pada kening wanita itu. Mendapatkan perlakuan tersebut, Meta tak kuasa untuk membendung ketersentakan. Rega mungkin cukup rutin menciumnya di pipi atau bahkan bibir tapi, barusan saja pria itu mengecup dahi Meta. Sesuatu yang katakanlah tak pernah Rega perbuat sebelumnya dalam kurun waktu nyaris satu tahun pernikahan mereka. Dan kenapa harus kening? Meta sempat memiliki memori yang begitu lara akibat aktivitas sederhana tersebut. Dulu, persisnya satu tahun yang lalu pernah ada pria yang mencium keningnya seperti apa yang Rega lakukan barusan. Pria itu juga berpamitan padanya. Namun setelah itu, siapa yang sangka Meta harus membayarnya dengan begitu mahal. Meta kehilangan pria itu untuk batas waktu yang tak bisa ia tentukan ujungnya. Orang itu tak pernah bisa Meta lihat lagi, tak bisa wanita itu sentuh lagi, tak bisa ia dengar kembali seperti apa suaranya. Ruang dan waktu begitu saja merenggutnya dari genggaman tangan Meta. Dan kecupan itu ialah salam perpisahan yang meski membuat hati Meta berdebar tapi, rasa pahit akibat kehilangan kadang masih pekat menghuni kawasan hati wanita itu. Lalu, sekarang ... apa dia akan diganjar oleh kehilangan lagi? Melepaskan alam bawah sadarnya. Yang Meta tahu kini ia sendiri. Di dalam ruang kamarnya yang mendadak terbias jauh lebih sepi, tentu karena sudah tak tampak kehadiran sosok Rega di sana. Terisak lirih, napas Meta pun terdengar berlarian. Mengepalkan telapak tangannya erat, sebisa mungkin Meta menghalau tangisnya. Namun, bukannya berhenti, air mata itu justru semakin tumpah ruah. "R-Regaaa ...." Meta memanggil pelan sebelum ia memacu energinya untuk berlari keluar dari kamar, menuruni puluhan undakan tangga serta menjeblakan pintu utama. Dan di tepi jalan sana, mata buramnya berhasil menemukan Norega yang sedang berupaya memasukan barang bawaanya ke dalam bagasi taksi. Memelankan lajunya, Meta dihantui oleh begitu banyak pemikiran. Pria itu mungkin pria yang menyebalkan. Tingkahnya kerap membuat Meta kesal sendiri. Tapi, meski begitu Rega tetaplah suaminya. Mereka membagi ratusan hari berdua dalam rumah mereka. Ada kemuakan, kemarahan, ketidakpuasan. Kadang mereka pun saling mencibir, meremehkan, ataupun menggoda. Cinta itu mungkin masih jauh jalannya bagi keduanya namun, meski demikian keadaanya toh bukan berarti Meta sanggup untuk kehilangan sosok itu. Dalam indra pengelihatannya Meta menjaring Rega yang telah sukses menutup bagasi. Selanjutnya, pria itu tampak bergerak ke bagian sisi mobil. Tangannya sudah bersiap membuka pintu belakang taksi yang hendak ditumpanginya sebelum Meta datang dan menarik pelan bagian belakang kain kaos yang pria itu kenakan. Merasa terjegal, Rega pun memutar balik tubuhnya demi menemukan sosok istrinya yang tampak amat semerawut dengan tangis yang meluber menghiasi seluruh wajahnya. "Hati-hati," cicit Meta dibarengi oleh senggukan jua senggalan napas. "Loh? Kenapa?" Rega menyentuh pundak Meta. "Hei, kok malah makin kenceng? Jangan nangis malam-malam ah besok pagi bangun-bangun mata kamu bengkak loh. Ntar dikira dipukulin aku. Kenapa sih? Kamu pengen Menara Eiffel, hah? Besok pulang kubawakan miniaturnya deh." Meta refleks memukul bahu Rega dengan keras saat mendapati reaksi pria itu. "Udahlah. Jangan cengeng. Sembilan hari lagi aku pulang kok," ujar Rega mencoba menenangkan. "Kamu harus pulang tepat waktu," pinta Meta. "Hhmmm. Masuk gih, nanti pulang kubelikan oleh-oleh." Meta menggeleng mantap. "Kamu duluan saja yang berangkat nanti aku masuk," ujar Meta. "Oke. Jangan lupa pintunya dikunci loh." Rega kembali mengingatkan. Membalikkan badannya guna memunggungi Meta, detik berselang pria itu justru berputar secara 180 derajat demi kembali saling berhadapan bersama istrinya. Merunduk rendah, Rega cekatan meloloskan sepasang sneakers berpalet abu-abu yang dipakainya untuk kemudian ia pasangkan pada kaki telanjang Meta yang tampak sedikit kotor karena terkena noda jalanan. "Aku harap waktu aku pulang sepatunya udah dicuci," ujar Rega sambil masuk ke dalam taksi. "Reg?" Meta refleks memanggil. "Kenapa?" Menghela napas berat, Meta berkata lantang, "Hati-hati." Setelah mendengar kalimat tersebut, Rega pun segera menutup pintu taksinya. Tak berselang lama, mesinnya menyala dan taksi pun melaju. Meta mengikutinya melalui pandangan mata. Hingga wujudnya hilang di ujung belokan. "Yang aku maksud, kamu mesti benaran hati-hati. Karena aku nggak tahu, apa aku bakal kuat kalau harus kehilangan sekali lagi." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN