Lantai lima kantor SeleraKita berubah jadi pusat keramaian yang tidak biasa. Bisik-bisik, tatapan-tatapan tajam, dan langkah-langkah ragu memenuhi udara. Yang menjadi topik utama: pertengkaran heboh antara Aldo, Gita, dan Ina—drama yang baru saja terjadi di pantry, tapi gaungnya sudah menembus seluruh divisi.
Gita keluar dari pantry dengan wajah kusut, matanya bengkak, dan langkahnya sedikit limbung. Ia tahu, dia sedang jadi pusat perhatian. Tatapan yang ia terima seperti peluru yang terus menghantam tubuhnya, satu demi satu. Ada yang terang-terangan menatap dengan jijik, ada pula yang memilih berbisik di balik meja. Tapi semuanya terasa sama—menghakimi.
Bagaimana tidak? Gita bukan hanya menjadi penyebab keretakan couple goals kantor ini, tapi juga menyebar testpack ke grup kantor. Hari ini, dia tidak hanya kehilangan privasi, tapi juga seluruh rasa nyaman yang mungkin pernah ia miliki di lingkungan kerja ini.
“Gita,” suara Ajeng terdengar dari dekat. Gita menghentikan langkahnya.
Ajeng menarik tangan Gita dengan cukup kuat, menyeretnya masuk ke area divisi marketing. Tatapan karyawan lain mengikuti mereka sampai Gita duduk di kursinya.
Beberapa anggota tim marketing langsung mengerubungi. Suasana seperti rapat darurat tanpa undangan resmi.
“Git, lo kenapa sebenarnya? Apa yang terjadi?” tanya Rara, mencoba bersikap netral.
Sinta menatap Gita dengan cemas. “Lo nggak apa-apa? Ibu hamil tuh nggak boleh stres, lho,” katanya dengan nada simpati.
Semua mata langsung beralih ke Sinta dengan ekspresi tak percaya.
“Kenapa malah ngomongin hal sesensitif itu, sih?” bisik Ririn pelan ke Sinta.
“Tapi kan bener…” Sinta bersikeras. “Kasihan Gita. Dia masih muda, lagi hamil muda pula.”
Ajeng menatap Sinta tajam. “Lebih kasihan Mbak Ina dong,” katanya dingin. “Gita ini selingkuh sama pacarnya Mbak Ina.”
Gita menunduk. Kata-kata itu seperti belati yang ditusukkan perlahan ke jantungnya. Tapi dia tidak bisa menyangkalnya.
“Maaf, Mbak,” gumam Gita, suaranya bergetar. “Gue beneran nggak tahu kalau masalahnya bakal segede ini.”
Ajeng menghela napas kasar. “Gimana bisa lo nggak tahu ini bakal jadi masalah besar? Lo nyakitin hati cewek lain, Git. Cewek yang lo kenal. Apa salah Mbak Ina sama lo? Kenapa lo bikin dia sesakit itu?”
Gita kembali terisak. Tangisnya kali ini terdengar lebih dalam. “Gue paham, Mbak. Iya, gue yang salah. Tapi Mas Aldo kasih gue hal yang nggak pernah gue dapat dari orang tua gue… perhatian, kasih sayang, semua…”
“Termasuk anak,” potong Ajeng tajam.
Ririn menepuk pelan pundak Ajeng, mencoba menenangkan suasana. “Jeng… jangan terlalu keras.”
Lalu ia menoleh ke Gita. “Git, lo baru tiga bulan di sini. Gue yakin lo juga nggak begitu kenal sama Aldo. Dia cuma mau tubuh lo doang, Git. Buktinya? Dia nggak mau tanggung jawab, kan?”
Gita tidak menjawab. Isaknya makin kuat, bahunya berguncang.
“Lo harus inget, Git. Mas Aldo bisa berkhianat sama cewek yang udah lima tahun pacaran sama dia. Dia juga pasti bisa selingkuh lagi dari lo, Git,” kata Ririn, suaranya terdengar serius dan berat.
“Iya, Rin,” sela Rara. “Kalau lo dapatnya dengan cara nggak benar, lo bakal ditinggalin dengan cara yang sama,” lanjutnya. “Gue nggak mau menghakimi lo, tapi apa yang lo lakuin juga nggak bisa dibenerin.”
Sebelum Gita sempat membalas, suasana mendadak berubah saat suara langkah berat terdengar dari lorong.
Aldo muncul. Wajahnya datar, tapi ada letupan emosi yang sulit disembunyikan dari sorot matanya.
“Mau ngapain lo balik, Mas?” tanya Ajeng dingin, jelas-jelas tidak suka dengan kehadiran Aldo.
“Mbak Ina mana, Mas?” tanya Rara cepat, nadanya cemas.
Aldo tidak menjawab. Dia hanya melangkah mendekati Gita, lalu tanpa basa-basi menarik tangan perempuan itu.
“Kita pulang,” katanya pendek.
Gita menurut, tanpa banyak bicara. Mungkin karena malu, atau mungkin karena sudah terlalu lelah dengan semua sorotan mata yang menyayat-nyayat itu. Aldo dan Gita melangkah keluar tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada anggota tim marketing.
Setelah mereka menghilang dari pandangan, keheningan sempat menyelimuti ruangan. Tapi hanya sebentar. “Gila,” gumam Rara. “Bakal jadi trending topic selama beberapa minggu, nih.”
“Kasihan Mbak Ina,” ujar Sinta pelan. “Mbak Ina kabur ke mana sih? Kenapa yang balik cuma Mas Aldo?”
“Biarin aja,” kata Ajeng. “Mbak Ina pasti butuh waktu sendiri.”
“Waktu sendiri?” celetuk sebuah suara dari arah pintu.
Mereka menoleh hampir serempak. Seorang pria dari divisi desain berdiri di sana dengan senyum menyeringai, seperti baru saja membawa gosip segar.
“Waktu sendiri atau waktu bareng Pak Revan?” lanjutnya, nada suaranya dibuat-buat ringan, tapi penuh makna.
Ajeng mengernyit. “Maksud lo apa?”
“Gue lihat tadi Mas Aldo berantem sama Mbak Ina di basement. Terus Pak Revan datang. Dia ngajak Mbak Ina pergi. Pakai mobilnya.”
Seketika udara seolah berhenti bergerak.
“Dan…” lanjut pria itu, menahan napasnya sejenak, “Mbak Ina duduk di depan.”
Detik itu juga, ruang divisi marketing terasa hampa. Semua menahan napas. Mata saling berpandangan.
“Mbak Ina… sama Pak Revan?” bisik Sinta, hampir tak terdengar.
***
Di tengah hiruk-pikuk kantor yang masih ramai membahas gosip perselingkuhan paling panas di SeleraKita, sesosok wanita paruh baya melangkah masuk dengan penuh percaya diri. Tumit sepatunya berdetak mantap di atas marmer lobi, mengundang beberapa tatapan dari resepsionis dan staf yang sedang berlalu lalang.
Pakaiannya modis, setelan rok selutut warna beige dipadukan dengan blazer putih dan scarf bermotif halus di leher. Wajahnya masih terlihat cantik meski usianya tak lagi muda, dengan makeup tipis yang mempertegas garis wajah tegas namun elegan. Penampilannya mencerminkan satu kata: berkelas.
Wanita itu adalah Regina, ibu dari Revan, sang CEO dingin dan tak tersentuh SeleraKita.
Tanpa banyak bicara, Regina berjalan menuju lift. Seorang staf buru-buru menekan tombol dan membungkuk sopan. Ia membalasnya dengan senyum tipis. Begitu lift terbuka, ia masuk dan langsung menekan tombol lantai tujuh, tempat ruangan pribadi Revan berada.
Lift bergerak naik. Namun berhenti di lantai lima.
Dua perempuan muda masuk—keduanya mengenakan ID card bertuliskan “Internship.” Yang satu mengenakan kemeja biru, rambut diikat setengah. Satunya lagi berambut panjang dengan kemeja krem. Mereka tersenyum sopan pada Regina, tidak tahu siapa yang sedang berdiri di sebelah mereka.
Begitu pintu lift menutup, suara mereka mulai terdengar pelan, tapi cukup jelas di telinga Regina. “Gila, ya, baru tiga bulan magang di kantor ini udah banyak aja dapat kejadian fantastis,” gumam si kemeja biru sambil tertawa kecil.
Yang lain mengangguk, suaranya lebih serius. “Iya, couple goals kantor ternyata diselingkuhin. Dan selingkuhnya sama anak magang pula. Si Gita padahal kelihatannya baik lho ke kita. Eh, malah jadi selingkuhannya Mas Aldo. Kasihan gue sama Mbak Ina.”
Regina menajamkan telinganya, diam-diam tertarik.
“Lo tahu yang lebih hot-nya lagi nggak?” si kemeja biru mencondongkan badan ke temannya. “Tadi waktu Mbak Ina berantem sama Mas Aldo di basement, katanya dilerai Pak Revan. Terus, Pak Revan ngajak Mbak Ina pergi naik mobil dia. Duduk di depan, sebelahan sama Pak Revan.”
“Lho? Mbak Ina selingkuh juga sama Pak Revan?” tanya temannya, kaget.
“Bukan gitu! Tapi gosipnya, nggak ada cewek yang pernah masuk mobil Pak Revan. Apalagi duduk di sebelahnya. Kata orang-orang, kursi depan itu sakral. Cuma cewek yang deket banget sama dia aja yang bisa duduk di sana. Mungkin pacarnya?”
Regina mengangkat alis, masih dalam diam. Pintu lift tiba-tiba terbuka di lantai tujuh. Kedua gadis magang itu melongo melihat indikator angka.
“Lho? Kok lantai tujuh? Kita mau ke lobi, kan?”
“Duh, kita lupa pencet tombolnya!” keluh temannya.
Regina tersenyum kecil, lalu melangkah melewati mereka. “Permisi,” ucapnya pelan, suaranya tetap lembut tapi punya wibawa yang tak terbantahkan.
Kedua magang itu hanya bisa mengangguk dan menunduk sopan sambil mengulang penyesalan mereka sendiri.
Begitu pintu lift tertutup kembali, senyum di bibir Regina perlahan berubah menjadi ekspresi penuh tanda tanya. “Ina?” bisiknya pada diri sendiri. “Revan nggak pernah cerita soal perempuan itu. Apa dia penyebab Revan selalu menolak dijodohkan dengan anak-anak temanku?” pikirnya sambil melangkah menuju ruang kerja anaknya.
Namun langkahnya terhenti oleh suara halus milik sekretaris pribadi Revan. “Maaf, Bu Regina,” sapa Tari, sedikit membungkuk. “Pak Revan sedang meeting di luar.”
Regina mengerutkan dahi. “Meeting?” tanyanya. “Sama siapa?”
Tari terdiam sejenak, seperti menimbang-nimbang apa yang boleh dan tidak boleh diucapkan. “Sepertinya sendiri, Bu. Apa Ibu mau menunggu di dalam saja?”
Regina menatap jam tangan hitam klasik yang melingkar di pergelangan tangannya. “Boleh, deh. Saya juga nggak ada kegiatan lain. Saya tunggu di dalam. Bawain teh hangat, ya,” katanya sambil melangkah masuk tanpa menunggu jawaban.
Pintu ruangan ditutup kembali.
Regina duduk di sofa kulit yang biasanya digunakan tamu Revan, menatap ruangan anaknya yang rapi dan serba netral itu.
“Meeting sendirian?” pikirnya.
Tatapannya melayang ke arah foto formal Revan di sudut meja. Wajah anaknya yang sedingin batu, begitu mirip dengan ayahnya. Tapi kali ini, ada sesuatu yang mengusik batinnya.
“Lalu kenapa dia bawa Ina masuk ke mobil?” bisiknya, kali ini pelan dan penuh rasa penasaran.