Pagi itu meja makan terasa lebih sunyi dari biasanya. Sinta duduk di kursinya sambil menyesap teh hangat. Di depannya ada sepiring roti yang hampir tidak tersentuh. Ia terlihat seperti biasa. Rapi. Tenang. Terkontrol. Namun di seberangnya, Mila memperhatikannya sejak tadi. Tatapan seorang ibu, tenang api penuh selidik. Sebagai seorang ibu, meskipun hanya ibu angkat, naluri Mila tetap tajam. Ia mengenal Sinta sejak kecil. Ia tahu kapan anak itu sedang baik-baik saja. Dan kapan sedang menyembunyikan sesuatu. “Sinta.” Sinta mengangkat wajahnya. “Iya, Mah?” “Kamu capek?” Sinta sedikit mengernyit. “Capek?” “Iya. Wajah kamu kelihatan pucat.” Sinta tersenyum kecil. “Cuma kurang tidur.” Ia kembali mengambil rotinya, pura-pura fokus pada sarapan. Namun Mila belum berhenti memperhatik

