Lampu kelab itu temaram. Musik berdentum pelan, cukup untuk membuat suasana terasa hidup tanpa harus terlalu bising. Orang-orang tertawa, beberapa berdansa, sebagian lain duduk menikmati minuman mereka. Rama berdiri di dekat meja bar. Ia baru saja menyelesaikan basa-basi terakhirnya dengan rekan sejawat yang berulang tahun. Hadiah sudah diberikan, ucapan sudah disampaikan. Seharusnyaia sudah pulang sekarang. Tempat seperti ini memang bukan dunianya. Rama melirik jam tangannya, hampir saja ia berbalik menuju pintu keluar ketika langkahnya terhenti. Tatapannya menangkap satu sosok yang sangat ia kenal. Di sudut ruangan, tidak jauh dari lantai dansa. Niko. Rama menyipitkan mata sedikit, memastikan bahwa ia tidak salah lihat. Itu memang Niko. Cara berdirinya, gesturnya, wajahnya, Ra

