Ruang periksa itu terasa lebih hangat dari biasanya. Rama tersenyum lebar saat melihat sosok kecil yang masuk lebih dulu. “Rafa.” Anak itu langsung mengenalinya. “Om dokteer!” Rafa berlari kecil menghampiri dengan wajah cerah meskipun masih ada perban kecil di jidatnya. Rama tertawa pelan lalu menepuk pelan bahu Rafa. “Wah, kelihatannya sudah jauh lebih berani.” Rafa mengangguk bangga. “Sakitnya udah hilang.” Rama tersenyum lalu mengalihkan pandangannya ke sosok yang berdiri di belakang Rafa. Namun kali ini bukan Sinta. Melainkan Mila. Beberapa detik Rama sempat terdiam. Lalu wajahnya langsung melembut. “Kak Mila.” Ia berdiri dari kursinya. Mila juga terlihat sama terkejutnya. “Rama… kamu di Jakarta?” Nada suaranya penuh keterkejutan sekaligus kebahagiaan. Rama mengangg

