besar. Ternyata pada akhirnya, Shia Tang tetap saja ditinggal sendirian.
Dalam ingatannya, ibunya adalah orang gila. Jadi, ia juga dianggap sebagai orang gila dan dimasukkan ke rumah sakit jiwa. Setelah itu, ibunya meninggal. Kemudian, ayahnya datang untuk menjemputnya pulang. Meskipun mereka belum pernah bertemu, tapi dia masih merupakan anggota keluarga, atau setidaknya mereka memiliki hubungan darah.
Apakah aku dilupakan? Atau hanya lupa saja, kan?! Pasti hanya lupa, bukan benar-benar meninggalkanku untuk selamanya! Shia Tang menunduk dan menatap hadiah di tangannya.
Sebenarnya, keinginannya untuk pulang ke rumah hanyalah alasan untuk keluar dari Star Garden dan menghirup udara segar. Tetapi, tetap saja ia masih terkejut. Bagaimana mungkin ia bisa dengan khusus memilihkan begitu banyak hadiah? Padahal hubungannya dengan anggota keluarganya yang lain tidak dekat. Terutama kepada para sepupu laki-laki dan perempuan, karena Shia Tang selalu dianggap gila. Mereka akan langsung berpaling begitu melihatnya dari jauh.
Sepertinya, hadiah yang kubelikan ini sia-sia. Shia Tang menghela napas, berbalik badan dan berjalan pergi meninggalkan kediaman keluarga Tang.
Saat berjalan keluar dari gerbang kediaman keluarga Tang, ia kebetulan bertemu Kris Tang yang baru saja pulang. Ia adalah presdir keluarga Tang untuk saat ini dan pria tersebut harus dipanggil 'Kakak Kedua' oleh Shia Tang. Lamborghini yang mahal melaju dengan perlahan. Shia menunduk dan bergegas melewati mobil itu.
Tapi… Mobil itu malah berhenti di belakangnya, kemudian terdengar suara seseorang berkata, "Tunggu…!"
7 Istri Yang Baru Saja Dinikahi Billy Li
Tiba-tiba terdengar sebuah suara jernih. Hal tersebut membuat langkah Shia Tang terhenti sejenak. Tetapi, ia tidak berani berbalik karena takut kalau ternyata bukan dirinya yang dipanggil. Tidak lama kemudian, terdengar bunyi langkah kaki terburu-buru dan berhenti tepat di belakangnya. Ada sesosok pria berbadan tinggi yang menghalangi sinar matahari.
Kris Tang melirik tas yang dibawa Shia Tang dan dengan lembut bertanya, "Kamu, apakah kamu ingin pulang?" kemudian, Shia Tang mengangguk, gadis itu merasa gugup dan sedikit terkejut.
"Kenapa kamu tidak menoleh? Apa kamu tidak ingin bertemu kakak keduamu ini?" pria itu seolah mempertegas bahwa yang diajak bicara adalah benar dirinya.
Kakak kedua? Apakah aku boleh memanggilnya kakak kedua? Pikir Shia Tang tak percaya.
"Apakah kamu akan menyalahkanku karena memindahkan ayahmu ke Afrika Selatan Shia?" Kris Tang kembali berusaha mengajak Shia Tang berbicara, "Kamu tahu? Karena kamu bersedia menikah dengan keluarga Li, paman bersedia melepaskan paman ketiga. Tetapi aku? Aku tidak bisa mencegah apa yang sudah terjadi, karena itu aku harus mengirim paman ketiga ke Afrika Selatan." Ia pun menjelaskan kronologinya kepada Shia Tang.
Bukannya Shia tidak mau bertemu dan berbicara dengan Kris Tang. Hanya saja, ia memang tidak pernah saling bersapa, jadi Shia tidak tahu harus bagaimana.
Di masa lalu, seluruh anggota keluarga Tang mengabaikanku. Kenapa kali ini Kris Tang menghentikan langkahku untuk pergi? Pikiran Shia Tang masih berkecamuk.
Perlahan, Shia Tang berbalik dan mengarahkan pandangan matanya yang jernih dan polos ke arah pria yang lebih tinggi itu. Kemudian, ia bertanya dengan ragu, "Apa ada yang bisa aku bantu… Kakak Kedua?" sebenarnya, terasa aneh bagi Shia Tang untuk memanggil orang itu sebagai 'Kakak Kedua.'
Kakak kedua tiba-tiba berteriak menghentikannya. Apakah ada sesuatu yang bisa Shia Tang bantu? Tetapi, ia tidak yakin apa yang bisa ia lakukan untuk membantunya. Karena, ia tidak bisa melakukan apapun selain bermain piano.
Kris Tang tertegun sampai ia menyadari bahwa selama ini ia telah salah paham dan hatinya yang dingin perlahan melunak.
Kemudian, ia menyentuh kepala Shia Tang dengan rasa bersalah. "Aku menghentikanmu bukan karena membutuhkan bantuanmu. Tetapi karena aku melihat, kamu tidak masuk ke dalam rumah." Kris Tang berbicara dengan nada rendah.
Mata Shia Tang memerah, ia tak kuasa menahan air mata.
Melihat gadis itu tersentuh, Kris Tang pun semakin merasa bersalah. "Di masa lalu, aku terlalu dingin padamu, itu adalah kesalahanku." ia pun menjelaskan kepada Shia Tang.
Shia Tang pun menggeleng. Ia tidak pernah menyalahkan siapapun.
"Sebentar lagi aku ada rapat. Apa kamu ingin pulang bersamaku terlebih dahulu? Aku akan menyuruh pelayan Wang untuk menjagamu." Kris Tang mengangkat tangannya dan melihat jam tangannya. Lalu, ia mengambil barang-barang di tangan Shia Tang yang terlihat cukup berat.
Shia Tang tertegun dan mengangguk, "Kakak Kedua... Terima kasih... Terima kasih telah mengakui keberadaanku…"
Kris Tang hanya mengusap kepala Shia Tang sambil tersenyum dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.
Disana, Shia Tang hanya meminum secangkir teh hangat lalu pergi. Ia senang karena Kris Tang mengenalinya. Akhirnya, setelah sekian lama ia mengerti seperti apa rasanya memiliki seorang saudara.
Setelah seharian berada di luar sampai petang tiba, Shia Tang baru kembali ke Star Garden yang terasa begitu dingin baginya.
Karena jalan menuju tempat itu tertutup, tidak mungkin Shia Tang kesana dengan mobil yang tidak dikenal. Jadi, ia hanya bisa turun di depan gerbang dan berjalan selangkah demi selangkah sejauh 100 meter.
Terlihat jelas bahwa Star Garden dibangun pada puncak gunung yang sunyi. Meskipun jalanan milik pribadi yang panjang ini telah dipagari oleh pohon maple, Shia Tang berpikir bahwa, ini bukan waktunya untuk menikmati pemandangan. Selain itu, ini adalah tempat pribadi dimana tidak sembarang orang diizinkan untuk berkeliling semaunya sendiri.
Tiba-tiba, Shia Tang melihat segerombolan orang di depannya, Kalau ini milik pribadi. Lalu, kalau begitu, apa yang dilakukan segerombolan orang di depan sana? Shia Tang sebenarnya penasaran, tetapi ia mengurungkan niatnya untuk mendekat dan memilih menjauh dari keramaian. Kemudian ia meremas tasnya dengan erat dan mempercepat langkah, takut mendapatkan masalah.
Ketika ia berusaha untuk diam-diam melewati mereka, seseorang yang sepertinya mengenalinya berteriak, "Lihat...! itu istri baru Billy Li! Cepat tangkap dia...!"
Tangan Shia Tang tertangkap seseorang, tubuhnya kembali gemetar dan ia sangat ketakutan. Kemudian, satu demi satu pria dengan wajah garang dan menakutkan mengelilinginya, membuat ia tidak berdaya. Shia Tang belum pernah mengalami hal seperti itu, ia hanya bisa memegang tasnya erat-erat untuk melindungi diri.
Setelah itu, ada seseorang yang tiba-tiba mendorong, memaki, dan terus-menerus memarahinya.
"Kau tahu kalau suamimu itu sudah gila? Setelah menjadi presdir keluarga Li, dia memecat dua pertiga staf dan menggantinya... Kami adalah sebagian dari orang-orang yang dipecat begitu saja olehnya. Padahal, kami telah menandatangani kontrak kerja. Dia tidak berhak memecat kami tanpa alasan!" orang itu mengeluarkan amarahnya kepada Shia Tang.
"Iya...! Dia tidak berhak...!" yang lain pun ikut menimpali dengan amarah yang sama.
"Aku mendengar bahwa siapapun yang menikahimu bisa menjadi presdir keluarga Li. Artinya, kau lah alasan kenapa kami semua dipecat!" suara-suara tersebut kini menyalahkan Shia Tang.
Shia Tang terkejut. Ternyata, semua masalah ini ada karena dirinya....
8 Orang Yang Aku Jaga Bukanlah Orang Buta
Sebelum Shia Tang menikah dengan Billy Li, sesaat ia teringat dengan Robert Tang. Pria yang kini mengendalikan nasib seluruh anggota keluarga Tang. Ia ingat bahwa pamannya pernah berkata, "Ayahmu menggunakan keluarga Tang untuk melakukan sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan untuk merusak nama besar dan reputasi keluarga Tang. Aku sudah berbicara dengan keluarga Li. Selama kamu bersedia menikah dengan Keluarga Li, maka aku bisa mengabaikan apa yang telah dilakukan oleh ayahmu."
Sejak pamannya itu terlibat dengan keluarga Li, keluarga Li telah sepenuhnya berada dalam kekuasaan keluarga Tang. Ketika keluarga Tang mengusulkan pernikahan, keluarga Li hanya bisa menerima keputusan itu.
Menurut kabar burung yang beredar, siapapun yang menikahi gadis ini, ia akan menjadi presdir keluarga Li, sehingga "penyakit jiwa" keluarga Tang inilah yang justru menjadi sesuatu yang dicari-cari.
Shia Tang tidak berusaha membela diri, tetapi kepalanya tertunduk dan mundur secara perlahan. Ia berusaha untuk melarikan diri, tapi tidak bisa. Berulang kali ia ditarik untuk kembali ke tempatnya semula.
"Telpon suamimu itu! Suruh dia pulang, kami ingin bicara dengannya!" salah seorang yang juga sedang berada dalam puncak kemarahan itu, mulai menyuruh Shia Tang untuk menghubungi Billy Li. Shia Tang melihat ponsel yang disodorkan padanya, namun ia tidak bergerak sama sekali. Meskipun ingin menelpon Billy Li, tetapi ia tidak tahu nomor teleponnya.
Sikap Shia Tang yang tidak kooperatif membuat para pria tersebut semakin marah. Mereka pun menjambak rambutnya dengan kasar dan mulai memukuli kepala Shia Tang dengan telepon genggam. "Cepat panggil suamimu!" orang-orang itu makin tidak terkendali.
Sakit, sangat sakit. Tapi tak ada yang bisa aku lakukan… Shia meratapi nasibnya sekarang.
※
Sementara itu di tempat lain…
"Lapor bos, staf internal keluarga Li hampir selesai dibersihkan. Setiap orang yang telah diberhentikan dari organisasi 'Bayangan' tidak akan bisa mengancam kita lagi, tetapi Donny Li tampaknya kurang berhati-hati." Di dalam mobil Maybach berwarna hitam, seorang lelaki Swedia bermata jernih tengah memberikan laporan singkat. Pria yang diajaknya bicara seolah tidak menanggapinya, ia tetap menatap data rumit yang ditampilkan di layar laptopnya.
Steve memikirkan dan memutuskan untuk bertanya. Sebenarnya, ia lebih mengerti dibandingkan siapapun, betapa pentingnya tanggal 28 Mei itu bagi pria itu, "Oh iya, apakah anda punya waktu luang bulan depan tanggal 28, Bos?"
Pria yang diajaknya bicara adalah Billy Li, atasannya. Pria yang menciptakan organisasi 'Bayangan' dengan tangannya sendiri. Sekarang, perusahaan multinasional itu hanya digunakan sebagai alat balas dendam untuknya.
Billy Li adalah pria berdarah dingin dan tidak memiliki perasaan. Steve sudah lama mengenalnya, ia tidak pernah melihat bosnya menunjukkan kelembutan hati kepada siapapun. Bahkan, jika ada orang yang meminta bantuan untuk mencongkel mata dan memotong jari-jari orang lain, Billy tidak akan mengedipkan mata. Ia bahkan akan meminta seseorang untuk membantu mematahkan kaki pria itu.
Mengerikan, tapi itu hanyalah bagian yang tampak bagi orang luar. Tetapi, semua orang yang mengenalnya justru mengagumi Billy Li.
Billy Li berhenti menggeser jarinya di atas alas mouse. Ia mendongak, wajahnya tampak serius dan bertanya, "Steve, sudah berapa lama kamu bersamaku?"
"Aku sudah bersamamu selama 10 tahun dan menjadi asistenmu selama 5 tahun terakhir bos." Steve menjelaskan kepada Billy LI. Jadi, ketika masih usia 15 tahun, Steve direkrut oleh Billy Li untuk menjadi anggota 'Bayangan.' Pada saat menginjak usia 21 tahun, ia menjadi asisten Billy Li setelah menyelesaikan semua studinya.
Yang benar saja, seharusnya dia tidak perlu bertanya. Steve tidak habis pikir dengan pertanyaan bosnya itu.
"Aku berharap, untuk tahun depan. Aku tidak ingin mendengar pertanyaan yang sama. Kamu mengerti?" Peringatan keras itu juga sekaligus menyatakan bahwa Billy Li memaafkan kesalahannya kali ini. "Sebelum hari itu tiba, aku akan memberikan semua barang yang telah dibicarakan oleh keluarga Tang sebagai hadiah."
"Baik! saya akan melakukannya!" Steve menghela napas lega. Namun, belum sampai bernapas dengan lega, ia dikejutkan dengan pemandangan di luar jendela.
Itu… Diam-diam, ia melirik. Pria tersebut melihat apa yang terjadi di luar sana dan ekspresinya masih acuh tak acuh.
Tanpa menunggu instruksi dari Billy Li, Steve sadar apa yang harus dilakukannya. "Akan segera saya bereskan..." Steve baru saja akan keluar dari mobil ketika Billy Li tiba-tiba berkata, "Tidak perlu, orang yang aku jaga bukanlah orang buta.
※
Di saat yang sama, sebuah mobil terus melaju mendekati kerumunan di persimpangan. Tiba-tiba, sekelompok pengawal terlatih muncul di jalan pribadi sepanjang 100 meter itu. Mereka mengenakan seragam perak berwarna cerah milik anggota Bayangan, gerak-gerik mereka tampak seperti tentara bayaran.
Di tengah kerumunan, seorang pria yang tidak terima dengan keputusan Billy Li karena telah memPHKnya secara sepihak kemudian berteriak, "Itu mobil Billy Li…!"
9 Kenapa Tidak Meminta Bantuan?
Orang-orang yang menyergap Shia Tang kini mulai berpencar, Shia Tang akhirnya bisa menghirup udara segar. Tetapi, sebelum mereka pergi, Shia Tang didorong ke tanah dengan kasar, kemudian ia melihat deretan langkah kaki melintas di depan matanya. Ia melihat pengawal berlari di belakangnya.
Para pengawal saling bergandengan dan membentuk dua barisan pelindung yang cukup kuat untuk bisa memisahkan kerumunan perusuh agar ada jalan yang cukup untuk bisa dilewati mobil.
Mobil melintas perlahan di depan mata Shia Tang. Ia mendongak dan berpikir pria itu tidak akan bisa melihatnya. Tetapi jendela mobil perlahan terbuka, memperlihatkan wajah tampan yang tak terlupakan serta mata hitam yang mengerikan. Pria tersebut menatapnya dengan dingin dan melihatnya menderita.
Setelah mobil lewat, kerumunan orang berubah bentuk, mereka menghalangi pintu masuk dan memblokir jalan keluar.
Shia Tang sedikit menarik sudut mulutnya. Dengan segenap tenaga, ia bangkit. Menepuk debu dari gaunnya yang kotor, lalu mengambil tasnya. Ia berjalan ke pinggiran jalan hingga menemukan tempat yang bersih untuk duduk, menunggu sampai jalan bisa dilewati.
Shia Tang terdiam seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa, ia hanya menganggap dirinya hanya tidak sengaja terjatuh.
Sudah ada kamera di pintu masuk jalan pribadi. Shia Tang berpikir bahwa ia bukanlah seorang penghuni Star Garden yang diakui, jadi ia tidak memenuhi syarat untuk dilindungi.
"Minggir!" Tiba-tiba, terdengar suara yang dalam dan kuat mendesak kerumunan untuk mundur. Kemudian, terlihat sosok tinggi dan berwibawa keluar dari mobil.
Kerumunan orang-orang yang berbicara semakin bersemangat, tetapi masih terlihat jelas ada sekelompok pengawal yang menurut orang-orang paling elit di dunia sedang berjaga disana. Sehingga, mereka tidak dapat mendekat.
Kemudian, terlihat seorang pria dengan sepatu kulit mengkilap berdiri tepat di depan Shia Tang. Billy Li yang berbadan tinggi memandang kebawah dengan rasa puas. Suasana menjadi sunyi dan senyap, membuat orang yang melihatnya akan berpikir, seolah-olah Billy Li ingin menghancurkan apapun di hadapannya.
"Kenapa kamu tadi tidak meminta tolong?" tanya Billy Li kepada Shia Tang.
Pengemudi baru saja dengan sengaja memperlambat mobilnya, kemudian mata Billy Li memandang Shia Tang. Disana, Shia Tang melihat tidak ada ketulusan ataupun keinginan untuk membantunya dalam pandangannya.
Billy Li lalu pergi begitu saja. Sama seperti, ketika seseorang melihat mobil di jalan raya, yang tak terhitung jumlahnya sedang melintas di sana. Seperti saat ini, pria itu tidak menunjukkan kalau ia merasa bersalah sedikitpun.
"Lupa..." Jawab Shia Tang singkat dengan wajah datar.
Shia Tang teringat, saat ia memohon untuk tidak dimasukkan ke rumah sakit jiwa. Sampai pada akhirnya, ada hari dimana saat ia menangis bahagia karena dibebaskan dari rumah sakit jiwa. Shia Tang seakan sudah lupa bagaimana caranya meminta bantuan kepada seseorang.
Shia Tang berpikir, Siapa bilang berkata lupa bukan obat untuk mengatasi keputusasaan? ia tetap terdiam.
Sudut mata Billy Li yang dalam itu berkedip dengan jelas, saat mendengar satu kata yang keluar dari mulut Shia Tang. Seolah-olah ia hanya mengatakan, "Hari ini cuacanya cerah." Jelas! Hal ini sangat jauh berbeda dari harapan yang diinginkan oleh Billy Li.
Billy Li kembali mengajak Shia Tang berbicara, "Sekarang, kesempatan sudah ada di tanganmu. Apa yang akan kamu lakukan?" ia sangat ingin tahu.
Shia Tang memandangnya dengan takut, kemudian melirik pada kerumunan yang membuat kegaduhan di belakangnya. Ia akhirnya memilih untuk menunduk, "Apakah mereka pasti pergi?" tanya Shia Tang dengan perasaan cemas.
"Hari mulai gelap." jawab Billy Li singkat.
Shia Tang menatap langit yang semakin gelap, kemudian menatap mata pria itu lagi. Kali ini, ia menatap dengan keraguan, Tapi, itu tidak akan menjadi masalah bukan? Setelah itu, Shia Tang menggigit bibirnya dan meluapkan rasa takutnya.
Saat ini posisi Shia Tang sedang dikelilingi oleh hutan lebat dan gunung yang luas. Serta, harus menghadapi sekelompok pria yang telah berbuat onar. Jika ia berbohong dan berusaha mengatakan kalau dia tidak takut, anak kecil pun sepertinya tidak akan percaya padanya.
Tapi, itu tidak masalah. Rasa takut yang lebih mengerikan sudah pernah Shia Tang rasakan. Jadi, hal ini bukanlah masalah yang besar baginya.
"Tidak ada untungnya menjadi keras kepala." Billy Li mencibir Shia Tang.
"Aku... aku tidak keras kepala. Aku hanya ingin lebih memahami hal-hal apa saja yang lebih realistis." Shia menggeleng, tangannya mengambil ranting dari tanah lalu menggambar asal-asalan lingkaran di atas tanah. Sebenarnya, selama Shia Tang tidak melihat mata Billy Li yang dingin, ia sama sekali tidak kesulitan untuk berbicara dengannya.
"Aku ingin tahu apa yang kamu anggap sebagai hal yang lebih realistis?" Billy Li mulai penasaran dengan Shia Tang....