Hari ini pulang dari toko aku berniat akan mengunjungi Bunda Kinan, kemarin Bunda meminta ku untuk datang makan malam bersama malam ini.
Hubungan ku dengan Bunda Kinan bisa dibilang sudah seperti ibu dan anak sendiri. Pembawaan Bunda yang sungguh hangat tidak bisa diragukan membuat ku nyaman saat pertama kali kami bertemu.
Mas Abi :
Kok nggak ada kabar seharian?
Kamu nggak kangen Mas Abi, Ghan?
Dasar nyebelin!
Janjinya cuma lima hari aja diusahakan secepatnya pulang, apa-apaan coba sekarang udah hampir seminggu dia pergi, belum lagi sulit banget diajak video call atau pun sekedar telepon.
Ghania :
Sibuk.
Nggak.
Tanpa menunggu balasannya aku pun mengemudi mobilku menuju rumah Bunda, sembari membawa baju milik Sabila.
oOo
"Assalamualaikum Ayah.." Sapa ku pada Ayah Hafiz yang sedang melakukan gerakan pendinginan selepas berolahraga.
"Waalaikumsallam, eh Ghania.. Baru dari toko?" Ku cium punggung tangan Ayah Hafiz, meskipun sudah memasuki usia setengah abad, Ayah Hafiz masih terlihat berwibawa, mungkin saat melihat Ayah Hafiz sekarang ini, aku bisa melihat Mas Abi juga dimasa tuanya nanti.
"Iyaa Yah, Ayah habis sepedaan ya?"
"Iya nih, udah lama nggak olahraga. Habis diomelin Bunda, gara-gara kemarin pinggang Ayah sakit, makanya disuruh olahraga lagi."
Aku terkekeh mendengar jawaban Ayah, sudah bukan hal yang aneh kalau Bunda mengomel. Aku pun masuk rumah bersama Ayah, dan disambut oleh Bunda yang sedang berkutat di dapur.
"Sabil ada, Bunda?"
"Lagi tidur kayaknya, biasa kalau udah pulang pasti ya di kamar aja. Udah jadi toh gaunnya?"
"Udah Nda, itu Ghania taruh di sofa."
"Ya udah nanti aja nunggu Sabil turun, sekarang Bunda minta tolong potongkan semangka bisa, Nduk?"
Hatiku selalu berdesir setiap Bunda Kinan memanggilku Nduk, entahlah aku merasa sangat diterima di keluarga ini. Aku pun membantu Bunda di dapur, ya walaupun aku tidak bisa masak, paling tidak aku bisa membantu sedikit-sedikit.
Ku dengar derap langkah kaki yang sudah tidak asing di telingaku, tapi kan dia tidak di rumah kenapa aku jadi terngiang - ngiang kalau dia ada disini sih. Dasar Mas Abi! Bisa nggak sih jangan penuhin kepala ku sama bayang-bayang kamu?
"Ndaaa.. mantunya Bunda jadi kesini nggak?"
Spontan aku membalikkan badan dan kami sama-sama menatap, aku menatapnya kesal dan dia menatapku meringis lalu tersenyum tanpa merasa bersalah. Tanpa ku hiraukan aku pun melanjutkan memotong semangka dan ku dengar dia berbisik dengan Bunda, "Bunda kok nggak bilang kalau Ghania udah datang." Bisiknya pada Bunda.
"Oh, mau bikin kejutan toh? Ya maaf, Mas Abi juga sih nggak ngajak Bunda kompromi dulu." Jawab Bunda dengan lantang, sepertinya Bunda memang sengaja agar aku bisa mendengar padahal bisikan Mas Abi saja bisa aku dengar, "Ishh, alamat ngambek deh habis ini."
Aku mengulum senyum, berusaha untuk tidak tertawa saat mendengar ucapannya.
"Udah lama, Sayang?"
"Siapa?"
"Kamu lah, udah lama disini?"
"Kamu sendiri? Udah lama sampai rumah?" Tanya ku balik dan menata semangka yang sudah aku potong, ku lihat Bunda sudah tidak ada di area dapur, beliau meninggalkanku hanya dengan Mas Abi.
Dia terkekeh dan menarik hidungku, dasar kebiasaan.
"Apa sih? Tarik-tarik." Ujarku berusaha melepas tangannya namun sudah pasti tidak akan bisa, karena tangan ku akan kalah dengan tangan Mas Abi yang kekar, "Nggak bisa nafas Massss!" Rengek ku lalu dia melepas tangannya dari hidungku dan tertawa kecil, membuat ku semakin kesal.
"Padahal bisa nafas lewat mulut."
"Jawab dulu ih pertanyaan aku."
"Apa?" Aku menjauhkan sepiring potongan semangka sebelum dia mengambil lagi, "Mau ambil Sayang, pelit banget."
"Tau ah, Mas Abi bikin orang kesal terus." Ku tinggalkan dia sebelum aku semakin dibuat kesal. Aku berjalan ke ruang tengah dan bersamaan dengan Sabil yang turun dari tangga lantai dua, "Eh Sabil, udah bangun?"
"Udah barusan, Ghan itu punya aku ya?" Tanya Sabil lalu mengambil papper bag yang aku bawa tadi dari toko, "Iyaa, cobain dulu. Kali aja ada yang kurang cocok."
"Bentar ya Ghan." Umur aku dan Sabil hanya berjarak beberapa bulan saja dan lebih tua Sabil sebenarnya, tapi kami memang tidak seakrab aku dengan Kak Najwa, adik pertama Mas Abi yang sekarang ikut suaminya di Jakarta. Mungkin karena kepribadian Sabil yang terkesan cuek dan dingin, membuat aku sulit untuk cocok dengannya.
"Kemeja batik aku udah?"
"Belum." Jawab ku bohong, padahal punya dia sudah selesai lebih dulu dan sudah ku berikan pada Bunda barengan punya Ayah Hafiz dan Bunda Kinan, aku tidak tahu mereka akan ada acara apa tiba-tiba membuat baju seragam sekeluarga, namun yang membuatku heran motif batik milik Mas Abi berbeda sendiri dan senada dengan kain brokat milikku pemberian dari Bunda.
"Kamu nggak merasa bersalah sama aku gitu Mas?"
"Kenapa?"
"Tuh kan, kamu mah nggak pernah peka." Dia hanya tersenyum tipis lalu menatap ku dalam.
"Nikah yuk?"
Spontan aku melotot ke arahnya, ku ambil bantal sofa dan pukulkan ke Mas Abi.
"Hei .. hei kok dipukul sih, Ghan."
"Ya kamu, ngajak nikah tapi kayak mau ngajak nongkrong aja. Semudah itu apa? Yang romantis dikit kenapa sih Mas?"
"Ya aku harus gimana? Romantis? Kamu mau kita dinner berdua? Atau apa? Aku nggak tau harus gimana?" Benar-benar nggak romantis banget orang ini, apa perlu aku minta dia buat belajar sama Mas Vian yang romantisnya kebangetan sama Mbak Gendhis? Dilamar saat makan malam bersama keluarga dan tepat dihari ulang tahunnya, menurutku itu adalah hal teromantis yang aku temui selain di film dan novel-novel yang Ibu ku dan Bunda baca. Namun mengingat Mas Abi, sepertinya harus buang jauh-jauh bayangan seperti itu, Mas Abi bukan Mas Vian.
"Ngajak nikah kok nggak kasih cincin."
"Kan nanti Sayang, cincinnya nyusul. Yang penting kan udah tau dulu kalau lamaran aku kamu terima, jadi setelah itu nanti baru aku kasih cincinnya." Ucapnya dengan tengil, jangan heran Mas Abi bisa seperti ini dia berlaku jahil dan menyebalkan hanya dengan orang-orang tertentu saja, kalau di luar dia akan pasang wajah datar dan sok dingin banget, padahal aslinya sangat sangat mengesalkan.
"Wis lah Mas, terserahmu." Pasrahku sudah lelah harus mendebatnya dan dia tertawa puas berhasil membuatku kesal.
oOo
"Kangen.." Rengek Mas Abi saat kami sedang duduk berdua di apartemen ku. Setelah makan malam tadi dia bersikeras untuk mengantar ku pulang, padahal tanpa diantar pun aku juga berani sendiri, ternyata modus sekali orang ini sekarang malah nempel-nempel bilang kangen, kemarin aja nggak ada kabar.
"Terus?"
"Emang kamu nggak kangen sama Mas Abi, Sayang?" Kenapa terdengar gemas sekali saat dia panggil dirinya Mas Abi, "Nggak." Jawab ku singkat.
"Masa? Yang bener?" Godanya lalu melancarkan jarinya pada pinggangku, dan ini kelemahan ku, "Mas! Gelii.."
"Bilang kangen dulu, nanti berhenti."
"Nggak."
"Makin semangat gilikitik nih." Tidak main-main dia malah menyerang ku dan aku pun menyerah, "Iyaa-iya ampun, udah dong."
"Bilang kangen."
"Iyaa Mas Abi, Ghania kangen." Akhirnya aku menyerahkan dan dia pun menghentikan aksi jahilnya, entah lah terkadang aku dan Mas Abi kalau sedang berdua di apartemen suka bertingkah seperti anak-anak, saling mengejek dan jahil satu sama lain.
"Kemarin aku ada hal penting yang harus aku urus, makanya nggak bisa pulang tepat waktu." Ujarnya dengan wajah yang serius.
"Kenapa nggak mau aku telepon atau video call? Biasanya tiap mau tidur kamu dulu yang telepon."
"Ya capek Yang dan nggak enak juga, kalau habis telepon bawaanya makin kangen sama kamu."
"Ck, gombal muluk."
"Haha.. gimana acara tahun barunya jadi?" Tanyanya lalu beranjak dari sofa dan berjalan ke dapur.
"Ibu sama Bapak minta aku pulang, nggak tau kenapa tiba-tiba banget. Aku harus gimana coba? Padahal kan rencananya kita mau rayain berdua, masak gagal lagi." Keluh ku lalu mengikuti Mas Abi yang sedang mencomot puding dari kulkas, aku pun duduk di kursi pantry sebelahnya, "Ya udah, gapapa. Kita bisa rayakan lain kali." Jawabnya enteng.
"Kamu kok santai banget sih? Emang nggak ada niatan buat rayain sama aku ya Mas?"
Mungkin bagi orang lain ini adalah hal yang sepele dan sangat tidak penting, namun momen seperti ini adalah momen yang aku tunggu, menunggu saatnya pergantian tahun dimana dapat merayakan bersama someone special, menutup semua jurnal yang telah terangkum selama satu tahun dan bersiap diri dengan harapan-harapan serta impian-impian yang akan kita susun kembali dengan jurnal yang baru setelah memetik apa yang telah dilewati dalam satu tahun ini.
"Lho, kok gitu? Ya mau gimana, kan yang minta kamu pulang Bapak sama Ibu. Mungkin mereka kangen sama kamu, mau kumpul sama keluarga juga kan? Ya udah, kita bisa lain kali, Sayang. Dibawa santai aja." Jelasnya lalu menyodorkan sendok berisi potongan puding ke bibir ku tanpa disuruh pun aku menerima suapannya, "Oke, aku pulang besok sore."
"Kereta kan?"
"Kok tau?"
"Nebak aja."
"Kamu nggak mau ikut aku pulang gitu?"
"Nggak dulu deh kayaknya, gapapa kan? Oiya, besok kalau ke stasiun aku minta tolong Sabil buat antar kamu ya? Soalnya besok aku ada jadwal basket sama club." Baiklah Mas Abi dan dunia perbasketannya tidak bisa diganggu gugat, "It's okay. Aku pakai taksi online juga nggak masalah."
"Jangan. Biar nanti aku minta tolong ke Sabil, udah beli tiket?"
Aku menggeleng, mengamati punggung tegapnya serta tangannya yang saling membasuh dibawah pancuran air, aku pun menjawab, "Belum."
"Ya udah nanti aku yang pesan, terus aku kirim ke kamu. Aku pulang ya?"
"Udah? Setelah menghabiskan amunisiku malam ini, kamu melarikan diri gitu?" Dia terkekeh geli tanpa merasa bersalah, terkadang ditengah malam aku suka terbangun karena perutku lapar jadi setidaknya di kulkas selalu sedia entah puding, buah, atau pun jus buah harus ada persediaan untuk ku.
"Aku ganti pakai tiket kereta aja ya? Nggak-nggak, nanti aku go food kebab kesukaan kamu, udah ya? good night, calon istri." Ujarnya sebelum mencium keningku, mau tidak salah tingkah juga nggak bisa, mau terang-terangan salah tingkah pun juga gengsi.
"Kok nggak jawab?" Protes Mas Abi saat membuka pintu akan keluar
"Oh iya, selamat malam juga." Jawab ku dengan senyuman terbaik dan menular pada Mas Abi yang juga tersenyum geli menatap ku.
"Makasih udah dianterin. Hati-hati ya, Om Abi, Sayang." Tambahku lalu menutup pintu sebelum dia memberikan tatapan tajamnya, setiap ku panggil dia dengan panggilan 'Om'.
oOo