7

1588 Kata
Tiga minggu selang pertunangan kami, aku mulai mempersiapkan segala perlengkapan pernikahan tentu saja dibantu oleh kerabat dekat. Untuk acara di Semarang semua akan diurus oleh Mbak Caca dan Sabila sedangkan untuk di rumah Bapak Ibu akan diurus Mama Dinda dan juga Tante Qila sebagai ketua panitia pernikahan kami. Aku senang mereka sangat bersemangat untuk mempersiapkan semua, walaupun sejauh ini aku masih belum bisa meyakinkan diri, bagaimana bisa dalam waktu dua bulan kami bisa menyelesaikan segala persiapan yang serba mendadak ini. "Udah deh Dek, kamu fokus aja sama gaun kamu dan Mas Abi, untuk seragam yang lainnya kamu bisa percayakan sama aku, nanti aku minta bantuan teman-teman penjahit kita untuk kerja lebih maksimal." Mbak Gendhis berulang kali meyakinkan aku untuk tidak terlalu khawatir. "Mbak, Mbak Gendhis emang yakin? Sebentar lagi Mbak Gendhis juga mendekati HPL lho." "Kamu cukup percayakan sama aku,  aku sudah bicarakan ini juga sama Mbak Caca." Jawab Mbak Gendhis lalu pamit untuk makan siang bersama Mas Vian. Kini aku hanya terdiam di ruangan ku dan bingung juga mau kemana, cari makan siang pun tidak nafsu rasanya. Mas Abi calling... "Hmm?" "Kok hmm? Begitu ya caranya jawab telepon?" "Assalamualaikum.." "Waalaikumsallam, kenapa kok lesu gitu? Udah makan siang?" Aku membuang nafas berat dan memejamkan mata sejenak. "Bisa ketemu nggak?" "Kamu dimana? Mas jemput, ini Mas habis dari kantor Mas Vian." "Di toko. Mas belum makan siang?" "Belum. Makanya mau ajak kamu makan siang sekalian." "Nggak usah keluar ya? Aku order aja. Lagi malas keluar." "Hmm, oke. Sebentar lagi Mas sampai." Mas Abi masuk ruanganku selang beberapa menit menutup telepon kami, hari ini dia mengenakan kemeja hitam lengan pendek dan celana chino warna cream. Mungkin orang yang tidak mengenalnya tidak akan mengira kalau umur dia sudah menginjak kepala tiga. "Kenapa kok lesu?" Aku hanya menggeleng dan menghampiri dia yang sudah duduk di sofa sudut ruanganku. "Tadi nggak sarapan ya?" "Sarapan kok. Tuh, tadi pagi aku drive thru." Jawabku lalu menunjuk tempat sampah yang terlihat bungkus bekas sarapanku. Mas Abi mengangguk lalu memintaku untuk duduk di sampingnya, aku pun mengiyakan dan memeluk lengannya. "Aku takut." ujarku padanya. "Takut kenapa?" "Takut kalau nikahan kita nggak sesuai dengan ekspektasi." Jawabku lirih. "Kenapa mikirnya gitu? Apa yang kamu khawatirkan?" "Waktu. Menurut aku semua ini terlalu cepat, Mas." Mas Abi menatapku tersenyum lalu merangkul lenganku dengan memberikan usapan lembut. "Ghania, kan kita sudah bicarakan sebelumnya dan kamu setuju kan? kita pakai jasa WO, banyak saudara juga yang bakal bantuin, toh buat urusan baju kamu dan aku temannya Tante Nada udah menyanggupi kan? Apalagi yang harus kamu khawatirkan? Kamu nggak lagi ragu sama diri kamu sendirikan?" Aku terdiam, apa benar yang ditebak Mas Abi? Apa aku sedang meragukan diriku sendiri? Apa aku belum siap? Kenapa aku jadi bimbang seperti ini? "Ghan? Apa yang kamu rasakan?" Entah mengapa aku merasa sedih, harusnya kan aku bahagia karena sebentar lagi akan menjadi istri Mas Abi, kami akan menikah dan membangun rumah tangga bersama seperti yang aku dambakan selama ini. "Aku nggak tau, aku bimbang, harusnya kan aku bahagia tapi entah kenapa aku merasa sedih dan nggak tau alasan sedihku ini kenapa." Ku ungkapkan apa yang ku rasa pada Mas Abi. "Nangis aja kalau mau nangis." Bisiknya menarikku kedalam dekapannya. Tok tok tok .. "Mbak Ghania, pesanannya udah datang." Suara Nana membuatku melepas pelukan kami dan segera ku ambil tisu di meja. "Udah aku aja yang ambil." Mas Abi lebih dulu berdiri dan mengambil makan siang kami . "Kamu kasih uangnya sekalian Mas? soalnya aku belum isi saldo ovo lagi." "Udah kok, tadi pakai uang Nana dulu tapi udah aku ganti. Sini makan dulu."  "Bentar, mau cuci muka dulu." Aku pun keluar untuk mencuci muka dan berharap mataku tidak sembab.                                                                                        oOo Setelah drama singkatku tadi Mas Abi mengajakku keluar untuk membelikan kado Chika, anak Mbak Caca yang akan berulang tahun besok. Aku yang awalnya enggan untuk pergi seketika bersemangat untuk mencarikan hadiah mainan untuk Chika.  "Yang ini kayaknya lucu deh Mas, si Chika kan centil tuh, pasti suka sama make up - make up an gini." Tunjukku saat melihat satu set dresser table play yang sudah dilengkapi dengan make up dan aksesoris lainnya dengan karakter frozen . "Ya udah ambil aja, kamu kalau mau juga gapapa ambil aja." Ejek Mas Abi sembari menertawakanku. "Kok kamu ketawa sih? Ada yang lucu ya?" "Hm? Nggak, cuma aku senang aja lihat kamu kayak gini, semangat banget kalau diajak beli mainan anak-anak." "Ngajak aku berasa kayak bawa anak kecil ya?"  "Nggak lah, masak anak kecil mau aku nikahin, p*****l apa aku." Jawabnya lalu mengambil mainan yang aku pilih, seketika aku terbayang kalau nantinya aku dan Mas Abi punya anak sudah bisa dipastikan mainannya akan memenuhi rumah kami, mungkin. "Kayaknya aku harus lebih semangat buat cari uang, ternyata mainan anak-anak makin aneh makin mahal juga harganya, belum lagi dijamannya anak kita nanti ya, Yang?" Bisik Mas Abi saat membayar pesanan kami di kasir dan dia sukses membuatku malu seolah dia tahu apa yang sedang aku  pikirkan. "Makanya makin semangat cari cuannya, katanya mau punya banyak anak." Bisik ku balik lalu berjalan lebih dulu meninggalkannya. Apa sih Ghan, bisa-bisanya bilang gitu, malu woy! Setelah membelikan kado untuk Chika, Mas Abi mengajakku ke rumah Bunda sembari mengambil berkas milik Mas Abi yang akan kami kirimkan ke KUA tempat kami mendaftar pernikahan nanti. "Sabil dimana Bunda? Masih di cafe ya?" Tanya ku pada Bunda. "Nggak kok Mbak, baru aja dia pulang, hari ini nggak ke cafe dia habis dari bengkel tadi mobilnya mogok, masih ganti baju deh kayaknya." Jawab Bunda lalu memberikan segelas jus jeruk untukku. "Makasih Bunda, Alhamdulillah segar banget rasanya."  "Haha.. Iya Bunda tau, pasti habis diajak muter-muter sama Mas Abi ya?"  "Iyaa cuma cari kado aja sih Nda buat Chika. Bunda lagi apa tadi?" "Ini habis buat list undangan teman-teman Ayah sama Bunda, udah ditagih sama Ibu ketua panitia kalian. Semangat banget itu si adik kalau suruh ngurus-ngurus beginian." Jelas Bunda dengan tertawa kecil. "Nah berhubung Ghania sama Mas Abi disini, sekalian aja aku mau kasih laporan." Sabila ikut bergabung denganku, Bunda dan Mas Abi yang baru turun juga beberapa menit sebelum Sabil. "Laporan apa?" "Kemarin aku udah survey sama Mbak Caca dan WO kita, beberapa gedung dan hotel, nah ini semua rangkumannya, mulai dari budget, fasilitas dan lainnya. Kalian bisa lihat itu juga sudah aku cantumkan beberapa detail fotonya, sengaja sih kita belum ngajak kalian soalnya kita sengaja mau lihat-lihat dulu buat penelusuran sebelum kalian nanti bingung milihnya." Jelas Sabila memperlihatkan tablet miliknya. Aku mengamati setiap detail yang ada di rangkuman Sabil. "Gimana Mas?" Tanyaku pada Mas Abi yang hanya memperhatikan kami. "Ya terserah kamu, cocoknya yang mana." Jawabnya membuatku menatapnya datar. Aku paling tidak suka kalau dia seperti ini, menyerahkan semua hal padaku dan sesuai kesukaanku, padahal aku tau kalau juga punya selera sendiri. Melihat Mas Abi yang memberikan keputusannya padaku, aku pun beralih meminta pendapat Bunda, "Kalau menurut Bunda dan Sabil gimana? Kali aja, bisa bantu aku memikirkan ini." "Kalau Bunda saran, mending ambil yang hotel deh Nduk, biar keluarga kamu nantinya sekalian juga menginap disana dan nggak perlu lagi cari tempat menginap." Saran Bunda. "Nah, kalau hotel aku saranin antara dua hotel itu Ghan, menurut aku antara dua hotel itu yang terbaik." Aku memperhatikan setiap sudut foto yang ditampilkan oleh Sabila, disana sudah tertera biaya sewa dan segala fasilitasnya. "Tapi mahal banget ini, Bil." Ujarku mengingat belum lagi biaya yang lainnya.  "Ya emang imbang sih Ghan dengan semua fasilitasnya." "Ya kalau seimbang nggak masalah. Seberapa pun biaya kalau emang kualitas bagus ya gapapa." Ujar Mas Abi menyahuti kami. "Mas, habis nikahan ini kita masih punya kebutuhan lainnya lho, nggak udah nikahan ya udah, aku rasa budget kita nggak harus disini semua." "Iya aku tau itu, dan kamu tenang aja, itu semua sudah aku pikirkan, Sabil sama Caca juga pasti sudah memikirkan semua, mereka juga akan memastikan sesuai budget yang kita berikan." Jawab Mas Abi dengan tenang, namun tidak denganku. Bunda Kinan menggenggam tanganku yang terasa dingin. "Ghania khawatir ya?" Aku hanya menatap Bunda dengan mengangguk pelan. "Ghania tenang aja, Ghania nggak sendiri disini, Bunda tau kok yang dipikirkan Ghania. Jangan khawatir, Insya Allah semua akan berjalan dengan baik dan lancar, asalkan kita bisa bekerja sama dengan baik dan Mas Abi, disini yang mau nikah nggak cuma Ghania, meskipun Mas Abi ikut dengan keinginannya Ghania bukan berarti Mas Abi menyerahkan semua urusan pada Ghania, jangan membuat Ghania merasa terbebani sendiri dengan mengambil keputusan apa-apa itu sendiri. Kalian nikah berdua, jadi apa pun keputusan juga harus diputuskan berdua. Bunda rasa Bunda tidak harus mengajarkan ini pada kalian kan? Kalian sudah sama-sama dewasa untuk mengambil keputusan." "Ujian setiap pasangan akan menikah itu banyak sekali, ada saja ujiannya yang membuat setiap pasangan merasakan ragu dan terkesan labil, tapi percaya itu hanya godaan saja, kalau kalian sudah punya niat baik tetapkan niat baik itu dan jangan sampai tergoda dengan bujukan setan. Bunda dulu juga gitu kok sama Ayah, malah senggang waktu menikah dengan pertunangan hanya berjarak satu bulan, masih mending Mas Abi dan Mbak Ghania masih ada banyak waktu untuk menyiapkan semua, toh untuk resepsi di sini masih ada waktu satu minggu kan setelah akad nikah." Aku mengangguk dan sedikit tenang setelah mendapatkan penuturan dari Bunda. "Jangan khawatir lagi, Insya Allah semua berjalan dengan lancar. Persiapkan pernikahan kalian sesuai dengan apa yang kalian inginkan, momen sekali seumur hidup jadikan momen yang paling berkesan dan tidak terlupakan." Pesan Bunda Kinan yang akan selalu ku simpan dalam ingatanku. Mulai hari ini aku meyakinkan diri untuk tidak ragu dan mengkhawatirkan apa pun itu, pikiranku lebih terbuka setelah penuturan Mas Abi dan Bunda Kinan hari ini.                                                                                                 oOo
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN