"Apa lihat-lihat?!" Tanyaku garang pada Mas Abi yang sejak pagi tadi memperhatikan setiap gerakku, gatal untuk tidak menanyainya. Maklum saja dia seperti itu, setelah semalam aku memilih untuk tidur bersama ibu dan Narumi di kamar kami, Mas Abi tanpa membantah permintaanku dia memilih tidur di sofa ruang tengah kami yang lumayan besar, sehingga bisa menampung tubuh besarnya. "Galak banget sih Mamamu, Rum." Ujarnya memelas. Tak ku hiraukan, aku memilih memandang Narumi yang sedang minum s**u dari botol. Aku masih enggan berbicara dengannya semenjak kejadian durian kemarin. "Ya udah, Rumi Papa mau keluar dulu ya? Bilangin ke Mama kalau marah jangan lama-lama, nggak baik." Pamit Mas Abi lalu mencium kening Rumi. "Bilang ke Papamu ya Rum, kalau ngrasa salah tuh minta maaf, bukannya malah

