Bab 12

1041 Kata
Thalia panik, mencari permata di semua sakunya, sayangnya dia sama sekali tidak menemukannya. Dia menatap Eric panik. "BAGAIMANA INI? ASTAGA! HILANG!!" teriak Thalia. Eric menepuk lengan Thalia, menyuruh gadis itu tenang, dia mencoba mengecek ke lautan dalam lagi, tidak ada dimanapun. "Bagaimana ini?" ucap Thalia panik. Eric memilih memejamkan matanya untuk kembali fokus, dia mencari letak keberadaan batu permata itu. Sungguh Eric terkejut saat melihat batu permata itu ada di dalam perut penyu tua besar di depannya. "Tuan Penyu, apa kau menelan sebuah batu permata?" tanya Eric. "Batu permata? Ah iya, tadi aku tidak sengaja menelannya, tapi jangan khawatir, aku terbiasa memakan benda asing."   “Ja-jadi benar? Batu permata merah itu ada di perut tuan penyu?” tanya Thalia panik, dia menggigit ujung jemarinya. “Iya, benar tapi tidak sengaja. Aku menelannya ketika mengikutimu dari belakang, ada batu yang jatuh saat aku memanggilmu.” Thalia membulatkan matanya, dia mengusap tengkuknya yang tidak gatal, bagaimana caranya membuat tuan penyu memuntahkan isi perutnya? “Aduh masalahnya itu pecahan batu permata trisula Poseidon,” ucap Eric gemas. Dia memegang cangkang tuan penyu sembari menatapnya. “Kumohon, segera keluarkan batu itu, kita harus menyatukan batu permata itu, jika tidak semua akan hancur, bahkan lautan akan menjadi hitam.” “APA? INI BATU PERMATA TRISULA AGUNG?” ucap tuan penyu terkejut, dia sampai membalikkan tubuhnya karena pusing. Thalia memejamkan matanya sejenak, memikirkan bagaimana caranya agar tuan penyu bisa memuntahkan isi perutnya. Sesuatu yang beracun tapi tidak membahayakan bagi penyu. Seketika ide terlintas di kepala Thalia, dia berniat membawa tuan penyu ke pinggir air terjun. Di sana terdapat mawar ungu, mawar beracun tapi tidak membuat penyu mati. Hanya membuat sedikit pusing. Thalia menceritakan idenya, mereka lalu berenang menuju pinggir air terjun. Waktu mereka tidak banyak, tapi menemukan satu pecahan batu saja sangat sulit. Saat Eric hendak keluar menuju air terjun, dia lalu ditahan, kepalanya yang semula sudah muncul di permukaan, seketika kembali lagi ke dalam air karena kaki Eric ada yang menarik. Thalia terkejut dan ikut menyelam kembali. Sedangkan tuan penyu lebih memilih langsung menuju pinggir bebatuan air terjun dan memakan mawar ungu. “ERIC!” teriak Thalia. Dia mencoba menarik tangan Eric lalu Thalia menghadap kepada Alrez. “Apa yang kamu lakukan Alrez!” teriak Thalia sembari melotot kepadanya. Dia sungguh kesal dengan perilaku Alrez. Belum lagi kawanan pasukannya di belakang, sekitar dua puluh orang. “Apalagi? Dia itu manusia, tidak seharusnya ada di sini, apalagi ini situasi genting, kenapa kamu malah membawanya kemari untuk bersenang-senang?” tanya Alrez dengan menatap Thalia tajam. “Ya Tuhan, kau tidak tau siapa dia?” teriak Thalia gemas. Thalia menarik tangan Eric lalu membalikkan tubuh Eric, menunjukkan bentuk Trisula di sana, ada gambar trisula menempel di punggung Eric. Seketika Alrez dengan pasukannya menunduk seraya berkata, “Ampuni kami tuan.” Eric seketika bingung kenapa tiba-tiba seperti ini, dia lalu memegang pundak Alrez. “Sudah, jangan seperti ini, kita tidak punya waktu banyak untuk menemukan pecahan batu permata,” ucap Eric. Alrez mengangguk lalu berniat memecah pasukannya. Dia menyebar luaskan pasukannya untuk mencari batu permata itu. Thalia dan Eric kembali ke pinggir air terjun, mereka terkejut ketika tuan penyu terlihat lemas. Thalia segera mempercepat gerakan sirip duyungnya, meraih tuan penyu dan membawanya ke pinggir dekat bebatuan. “Aku pusing dan mual, tapi aku tidak bisa mengeluarkan batu permata ini. Bedah saja perutku, kalau kematian aku bermanfaat untuk menyelamatkan lautan, aku rela untuk mati.” Eric menggeleng, dia berpikir keras, pasti ada cara lain untuk membuat batu permata itu keluar dari perut tuan penyu. Eric mencoba menekan-nekan perut tuan penyu dengan lembut, dengan tangannya, dia bisa merasakan energi kuat di batu permata di perut tuan penyu. “Di sini, aku yakin letak permatanya ada di sini. Thalia, coba keluarkan mantramu untuk mengendalikan batunya keluar.” Thalia menghela nafas, dia tau ada mantra untuk menggerakkan suatu benda, tapi sejujurnya sulit dilakukan karena kekuatan Thalia juga memiliki batas. Thalia juga masih lemah untuk menggunakan energinya. Anehnya Thalia selalu bingung, kenapa dia tidak bisa menggunakan mantranya terlalu banyak, selalu terbatas, dia memiliki kemampuan sihir yang sama bahkan melebihi dari ratu duyung, tapi kenapa dia selalu merasa lemah ketika telah menggunakan sihirnya. “Cobalah Thalia, jangan ragu. Setidaknya kita harus mencoba, kalau orang lain mengetahui hal ini pasti sudah membunuh tuan penyu, tapi kita tidak. Kita tidak akan membunuh makhluk hidup,” ucap Eric. Dengan penuh keyakinan, Eric mencoba membantu Thalia, mencoba untuk memberikan kekuatan kepada Thalia. “Ayo Thalia kamu pasti bisa, konsentrasi, temukan batu itu dan keluarkan.” Thalia mengangguk, dia memejamkan matanya dan kembali fokus. Eist Le Ebanta Tangan Thalia gemetar, keringat mulai keluar dari pelipisnya, darah dalam tubuhnya mengalir deras, Thalia menggunakan kekuatannya di luar batas, perlahan dia merasakan pusing, lautan seolah berputar, Thalia berusaha keras untuk fokus mengeluarkan batu permata itu. Detik selanjutnya batu permata itu ada di tangan Thalia, namun Thalia tak sanggup membuka mata lagi. Thalia pingsan, untungnya ada Eric yang menahan tubuhnya. Eric segera menyimpan dengan baik batu permata itu. Dia dengan tuan penyu berniat membawa Thalia menuju kerajaan duyung untuk disembuhkan. Keduanya kembali berenang menuju dasar laut menuju kastil para duyung tinggal. “Woah, kastilnya sangat besar,” ucap Eric. Dia lalu membuka pintu besar kerajaan, namun dua duyung penjaga menghadangnya. “Siren dari bangsa apa?” tanya salah satu penjaga. Dia tak tau harus menjawab apa, bahkan dia saja baru tau jika duyung memiliki bangsa, sama halnya dengan manusia. “E ... aku hanya membawa Thalia, dia sedang sakit.” Salah satu penjaga mendekat, menatap wajah Thalia dengan seksama, mereka lalu mempersilahkan Eric untuk masuk ke dalam dan membawa Thalia menuju ruang perawatan. Ruangan besar ini sangat penuh, banyak duyung yang sedang sakit. Beberapa diantara mereka luka-luka akibat gigitan kraken. Beberapa lainnya pingsan karena racun yang dibawa kraken. Suasana di ruang perawatan begitu ramai, desas desus tentang kraken terdengar jelas. Mereka sangat sibuk dengan urusan kraken sampai tidak menyadari jika ada pendatang baru. Eric meletakkan Thalia diatas ranjang. Eric bahkan tidak menyangka dunia duyung hampir sama dengan manusia, di bawah lautan ini mereka memiliki kehidupan tersendiri. “Ada apa dengannya?” tanya seorang dokter kepada Eric. Dokter itu mengeluarkan mutiara putih, menggamnya dan seketika hancur lalu membuka mulut Thalia, menyuapkan mutiara putih yang telah menjadi serbuk itu. “Mungkin dia kelelahan dok,” ucap Eric. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN