Satu bulan kemudian.
"Ini di rumah kenapa rame-rame begini ya." ujar Aruna merasa khawatir. Aruna sangat takut jika sesuatu telah terjadi kepada keluarganya. Lebih buruknya lagi ada kabar dari salah satu keluarganya yang meninggal. Tapi kalau di lihat-lihat kembali tidak mungkin jika ada yang meninggal ada tenda dan riasan seperti orang yang mau hajatan pernikahan. Tapi siapa yang akan menikah? apa dari saudaranya tapi siapa? kakaknya? tapi gak ada yang mengabarinya. Apa mungkin Ayuna tapi apa iya bukannya ibunya tak menginginkan jika ada anaknya dilangkahi apalagi perempuan.
Sebaiknya Aruna segera bertanya kepada pekerja yang saat ini mendekor tenda.
"Pak, ini siapa yang mau nikah?
Pekerja yang mendekor tenda pun mengalihkan pandangannya kepada Aruna.
"Oh, ini anaknya pak Tardi."
"Iya, bapak tau siapa namanya?
"Oh kalau itu saya kurang tau neng," jawab pendekor itu.
Aruna yang sangat penasaran pun segera berjalan cepat kedalam rumah dan mencari ibunya.
Namun, langkanya terhenti ketika para tetangga Aruna yang saat ini membantu acara hajatan memanggil namanya.
"Loh, Runa kamu dari mana? kok penganten keluyuran," ucapnya dengan Suara cemprengnya. Yang membuat Aruna kaget.
"Penganten?" Raut wajah Aruna bingung namun, setelah Aruna mengontrol rasa kagetnya.
"Siapa?" tanya Aruna kembali.
Dan para wanita yang ada di sana bingung bagaimana Aruna tidak tau sedangkan orang yang akan menjadi pengantinnya adalah dirinya sendiri.
"Loh, Runa kamu ini bagaimana pernikahan sendiri aja gak apal." ujar para ibu-ibu di sana yang saat ini tengah menyiapkan bahan-bahan untuk memasak.
Berbeda dengan Runa yang masih diam mencerna apa kata para tetangga ibunya. Hingga setelah beberapa detik kemudian Aruna baru sadar, setelah seseorang menepuk pundaknya Aruna pun mengerejapkan matanya dan.
"APA!?" Aruna berteriak dengan kencang sehingga mengundang beberapa orang untuk menghampirinya.
"Ada apa Runa, kenapa berteriak?" tanya bibi Aruna adik dari ayahnya.
"Bibi .... " Aruna masih dengan keterkejutannya.
"Katakan siapa yang mau nikah?" tanya Aruna memastikan.
"Kamu," jawan bibi Runa yang bernama Wulan.
"Engga!! ini prank kan. Bukan Aruna yang mau nikah tapi Ikhsan kan bi? Aruna benar kan!" Aruna memegang bahu bibinya erat dan mengguncang erat.
"Aruna kamu ini ngaco deh, kalau ikhsan yang menikah. Gak mungkin kalau nikahnya di rumah bapak kamu, pasti nikahnya di rumah bibi lah," kata bibi Wulan. Melepaskan tangan Aruna dari pundak.
"IBU!!" Lagi Aruna berteriak dan segera mencari ibunya. Aruna ingin menanyakan beberapa pertanyaan. Siapa yang akan menikah. Dan jika memang Aruna yang menikah maka Aruna akan kabur saat ini juga. Aruna sungguh belum siap jika menikah sekarang. Ungkapnya dalam hati dengan perasaan yang sangat panik.
Sedangkan ibu Wainah ibu Aruna yang mendengar teriakkan anaknya sudah menduga akan seperti ini. Maka ibu wianah pun segera menghampiri Aruna yang sudah berada di dalam rumah bagian tengah. Kemudian menarik Aruna kedalam kamarnya dan menguncinya agar tidak ada orang yang mendengar pembicaraan mereka.
"Astaghfirullah. Kenapa teriak-teriak Aruna apa engga malu didengar orang ini lagi rame loh," omel ibu Aruna.
"Ibu gimana aku gak teriak coba. ketika aku pulang ke rumah udah rame, perasaan aku gak enak ketika aku kerja karena ibu bilang aku harus pulang. Kalau di rumah ada masalah, ibu ancam aku kalau aku gak pulang akan menyesal seumur hidup aku. Tapi pas aku pulang dapat kejutan ini Bu... aku harus apa." Aruna menyerukan perkataannya dengan emosi.
"Tapi tidak seharusnya kamu berteriak seperti itu! orang mengira bahwa kalau ibu maksa kamu." ucap ibu Aruna dengan pelan.
"Emang iya kan ibu maksa aku nikah," ucap Aruna dengan cepat sungguh Aruna tidak dapat mengontrol emosinya saat ini. Rasanya Aruna ingin balik lagi kerja jika tahu keadaannya seperti ini. Pantas saja ia melihat bibinya kemarin seperti menyiapkan sesuatu yang berkaitan dengan pernikahan tapi dirinya tidak menyadarinya.
Sedangkan Ibu Aruna yang tau bahwa putrinya tengah dilanda emosi segera memberikannya minum apalagi telah melalui perjalanan panjang. Ya memang ibu Aruna hanya mengatakan Aruna harus pulang hari ini kalau masih sayang kepadanya. Dan sedikit ancaman serta mengatakan sesuatu yang dramatis yang diberi tahu oleh Ayuna.
"Sebaiknya kamu istirahat dulu dan tenangkan pikiran. Besok kamu menikah jangan sampai sakit." Dan tanpa banyak kata ibu wianah meninggalkan Aruna yang saat ini terlihat stress.
Setelah kepergian ibunya Aruna sempat berpikir jika ia harus kabur saat ini juga bila perlu ia tak usah kembali. Namun, semua pikirannya buyar ketika suara pintu terbuka. Dan ternyata Ayuna lah yang datang.
"Jangan pernah berpikiran akan kabur Runa. Ibu sudah berpesan agar aku menemanimu kemanapun akan pergi samapi besok." tutur ayuna melangkah mendekati Aruna yang saat ini tengah duduk diatas kasur.
"Tau aja mau kabur. Lagian kamu kenapa gak ngasih tau aku sih yun jika aku pulang mau dinikahin mendadak gini," ucap Aruna. Saat ini jantungnya berdegup keras.
"Kata siapa ini ngedadak. Orang ini sudah direncanakan sejak sebulan yang lalu saat kamu pergi berangkat kerja." Beri tahu Ayuna.
"Tapi kenapa ibu gak bilang sama aku. Yang mau nikah itu kan aku harusnya meminta persetujuan aku dulu dong," protes Aruna tidak terima.
"Udah terima aja kali gak usah cemberut gitu harusnya kamu itu bahagia di hari menuju pernikahan besok," ucap Ayuna dengan gampang. Dan tidak memikirkan apa yang saat ini tengah di rasakan oleh Aruna. Takut, juga cemas semuanya menjadi satu. Bahkan saat ini pikiran buruk telah bersarang di otak Aruna.
"Yang bahagia itu pernikahan normal bukan dipaksa gini Yuna," balas Aruna sambil memejamkan matanya.
"Makanya jangan terpaksa! diikhlaskan saja supaya bahagia atau niatkan karena ibadah." Ceramahnya tau Ayuna.
Setelah mendengar itu Aruna diam bukan kehabisan kata melainkan ia berpikir bagaimana caranya agar pernikahan ini batal. Aruna tidak akan diam saja. Setelah lima kali gagal dengan calon pria yang di jodohkan. Tidak menutup kemungkinan pernikahannya juga bisa Aruna batalkan tapi bagaimana caranya Aruna tidak tahu.
Sedangkan Ayuna berpikir Aruna diam karena mencoba mencerna perkataannya tapi ternyata pemikirannya salah. Aruna masih memikirkan untuk membatalkan pernikahan ini.
"Yuna kamu gantiin aku nikah aja ya. Kaya di novel jadi calon pengganti." Aruna menyerukan idenya kepada adiknya. Tak salah dia membaca novel tentang pengantin pengganti ternyata ia juga sedang mengalami posisi ini dimana ia tidak ingin menikah tapi dipaksa menikah. Tapi jika akhirnya si cewek itu menyesal kemudian berbeda dengannya tidak ada penyesalan karena pria yang akan dinikahkan dengannya itu tidak ia kenal bahkan namanya sekalipun.
Sedangkan Ayuna yang mendengar ide konyol itu seketika memukul bahu Aruna dengan keras sehingga Aruna meringis kesakitan
Plak
"Ih Yuna kenapa main pukul pukul segala sih sakit tau." ucap Aruna sambil mengusap bahunya yang dipukul.
"Lagian pikirannya ngaco banget. Dengar ya Runa dia itu calon buat kamu. mau gak mau kamu terima dan besok kamu udah jadi istrinya. Emang kamu mau membuat ibu sama bapak malu dengan sikap kamu yang kabur. Dan pastinya ibu akan kecewa dan gak mau nganggap kamu anak lagi. Pikirin baik-baik," ucap Ayuna kesal karena pemikiran Aruna yang kurang dewasa. Inilah akibat jika terlalu banyak membaca novel.
"Tapi masalahnya aku gak kenal, bahkan namanya sekalipun dan sifatnya bagaimana? Terus gimana kalau yang nikah sama aku itu piskopat kaya di novel atau pemarah, dingin apalagi." Aruna pun menyebutkan karakter tokoh dalam novel yang sering ia baca. Dengan raut wajah yang heboh terlihat ketakutan.
"Udah deh Runa stop berpikiran seperti itu. Sepertinya kamu kebanyakan nonton sama baca novel. Nanti, aku bakal bilang sama ibu. Kalau kamu gak mau nikah gara-gara novel sama nonton film," ancam Ayuna
"Ih,Yuna kok jadi gini sih sebaiknya kamu bantuin gimana supaya aku gak jadi nikah besok. Kamu gantiin aja ya," mohon Aruna.
"Gak bisa!" tegas Ayuna. "Awas aja kalau Bernai kabur! bakal di coret dari daftar nama keluarga. Lagian kamu ini kenapa sih. Malah baca sama nonton yang kayak begituan. Mending baca Sirah para nabi daripada novel yang gak berguna itu."
Dan Aruna yang mendapat ceramah dari adiknya pun diam tidak bisa berkutik. Sungguh Aruna tidak biasa berpikir jernih, dalam otaknya hanya ada rencana kabur dan kabur. Katakan dia egois tidak memikirkan kehormatan orang tuanya hanya untuk dirinya. Karena ia juga ingin bahagia. Dan melupakan hal-hal yang berguna seperti yang Ayuna sebutkan.
Dan kenyataannya sampai besok hari menjelang akad atau pernikahan Aruna masih berada di rumah bahkan sudah dirias menggunakan baju pengantin serta make up. Terlihat jelas Aruna sangat cantik. semua orang yang melihat Aruna menjadi terkesima seolah-olah tidak mengenal Aruna. Tapi, raut wajah Aruna tidak bisa disembunyikan bahwa ia terpaksa menikah dengan pria yang belum ia ketahui namanya. Mau bagaimana lagi niat ia pergi dari rumah juga tak bisa karena Ayuna yang selalu bersamanya. Dan pernikahan paksa ini tidak bisa di elak lagi.