Pertemuan Itu

1661 Kata

Tangisan Haris masih tersisa di dalam mobil yang kini berhenti di bawah lampu jalan yang temaram. Waktu berjalan, tapi baginya... seolah semuanya berhenti di detik saat pintu rumah itu tertutup di belakangnya. Sementara di dalam rumah... Kesunyian berubah menjadi sesuatu yang menekan. Syafira masih duduk di lantai, memeluk tubuhnya sendiri. Leonel sudah tertidur di pangkuannya, lelah setelah menangis diam-diam. Nafas kecil anak itu terdengar pelan, kontras dengan kekacauan yang terjadi di hati ibunya. Syafira menatap wajah sang putera lama. Tangannya gemetar saat menyibak rambut anak itu. "Maafin Mama..." bisiknya lagi, entah untuk yang keberapa kali. “Mama yang udah ngehancurin semuanya dengan ego mama. Tapi, mama juga gak bisa menutupi kenyataan bahwa di hati ini dia memang bertahta

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN