Dalam perjalanan pulang Genta lebih banyak diam, dia pun masih syok mendengar kenyataan bahwa wanita yang begitu baik padanya adalah ibu kandungnya sendiri. Wanita yang sudah tega menelantarkan dirinya, hati Genta pun sakit jika mengingat kenangan pahit dulu. Bagaimana teman-temannya dulu mengejeknya karena tak memiliki seorang ibu. Ibunya masih hidup tapi dia seperti anak piatu, hatinya benar-benar terluka. Apalagi mengingat betapa besar pengorbanan ayahnya membesarkannya sampai sakit-sakitan pun beliau tetap bekerja, sedangkan ibunya lebih memilih laki-laki lain yang lebih kaya. “ Ta.” Panggil Haikal yang dari tadi melihat Genta terus-terusan merenung. “ Kenapa papa ngga kasih tahu dari awal kalau Ammara adalah wanita itu.” Tanya Genta. “ Bagaimana papa mau memberitahukan padamu ta, p

