5. TTAS

2201 Kata
Seperti yang Genta ucapkan kemarin pada Syfa. Genta pun kembali lagi menemui Syfa. Dia semakin kesal dengan Genta, akibat kejadian kemarin Syfa di marahi habis-habisan oleh papa dan mamanya. Dan semua itu pun atas pengaduan Minah kepada mereka. Berulang kali Syfa sudah memperingati Minah untuk diam, tapi ternyata desakan orang tua Syfa lebih ampuh untuk membuat Minah bicara yang sebenarnya. “ Assalamualaikum cantik.” Salam Genta yang menghampiri Syfa saat dirinya sedang di taman untuk membaca buku. Dia pun menyodorkan bunga tepat didepan wajah Syfa “ WAALAIKUMSALAM.” Balas Syfa dengan ketus. Dia pun menyingkirkan bunga dari Genta. “ Lagi baca apa sih Syf serius banget.” Tanya Genta yang langsung duduk didepan Syfa tanpa persetujuan Syfa. Dengan keras Syfa menutup bukunya, kemudian dia menghela nafas panjang sebelum mengatakan sesuatu pada Genta. “ Aku kira kalau aku itu orang yang keras kepala, tapi ternyata ada orang yang jauh lebih keras kepala ya dari aku. Apalagi dia ngga tahu malu banget.” Genta justru tersenyum mendengar ucapan Syfa, dia tahu kalau Syfa sedang menyindir dirinya. Tapi Genta tetap tak menghiraukannya. “ Syf, hari ini aku bawain kamu bunga mawar putih. Aku belum tahu kamu sukanya bunga apa, jadi aku bawa bunga sembarangan. Karena biasanya cewek itu suka sama bunga mawar.” Ucap Genta. Syfa meletakkan bukunya di meja dengan keras “ BRAK” “ Kamu fikir aku ini sama kaya cewek-cewek di luar sana yang gampang banget di gombalin dengan di kasih bunga seperti ini. Jangan pernah samain aku dengan mereka ya. Dan aku paling ngga suka sama cowok yang buaya macam kamu. Karena bagi aku semua laki-laki itu sama. Ngga bisa di pegang ucapannya.” Balas Syfa. Genta sedikit terkejut dengan bentakan Syfa, tapi dia mencoba menahan dirinya agar tak terpancing oleh Syfa. “ Aku juga ngga suka kok sama cewek-cewek yang gampangan di luar sana. Liat cowok ganteng sedikit langsung naksir. Aku tuh sukanya sama cewek yang punya pendirian, cewek yang tegas, cewek yang ngga mudah di rayu. Karena semakin sulit cewek itu di rayu maka semakin membuat si pria itu penasaran. Contohya kamu.” Ucap Genta. “ Kamu tuh ya bisa ngga sih kalau sebentar aja buat aku ngga marah-marah.” Balas Syfa. “ Aku ngga pernah berniat buat kamu marah Syf, justru aku selalu ingin membuat kamu bahagia. Aku mau bilang ke kamu. Mungkin kamu memang pernah tersakiti oleh seorang laki-laki. Tapi semua yang terjadi padamu ngga bisa dong membuat kamu berfikir kalau semua laki-laki itu sama. Kalau kamu bicara seperti itu berarti kamu pun sama aja menganggap papa kamu sama dengan laki-laki yang menyakitimu dong.” Syfa langsung berdiri, dan dia langsung mengambil gelas yang ada didepannya. Syfa sudah siap untuk menyiram air tersebut ke wajah Genta. Tapi semua itu ia urungkan, karena papanya tiba-tiba datang. “ Udah lama ta.” Sapa papa Syfa yang berjalan mendekat. Genta pun menyalami papa Syfa. “ Baru sampai kok om.” Jawab Genta. “ Pasti sibuk banget ya kamu ta, udah hampir maghrib begini baru pulang.” “ Ngga juga sih om, tadi gara-gara baru selesai di pengadilan aja jadi pulangnya sore begini. Dan karena melewati rumah om, jadi sekalian deh mampir.” Jawab Genta, tapi kemudian dia tersenyum saat melihat reaksi yang Syfa perlihatkan. “ Syfa wajah kamu kenapa sayang.” “ Ngga papa kok pa, Syfa mau masuk dulu ya pa.” Pamitnya. “ Syf.” “ Iya pa.” “ Kok bunganya ngga dibawa.” Tanya papanya. “ Syfa ngga tahu itu bunga siapa. Paling orang salah kirim kali pa” Jawabnya dengan ketus, papanya hanya geleng-geleng kepala mendengar ucapan Syfa. Genta pun langsung mengambil bunga tersebut dan memberikannya ke Syfa. “ Ini kan buat kamu Syf.” Ucapnya. “ OH BUAT AKU, MAKASIH.” Ucap Syfa sambil melototi Genta. Syfa kesal karena Genta bersikap manis di depan papanya. Dengan terpaksa Syfa menerima bunga tersebut, karena ia tak ingin membuat papanya marah padanya. Setelah menerima bunga itu Syfa pun masuk kedalam. “ Sabar ya ta, Syfa memang anaknya seperti itu. Untuk masalah kemarin om minta maaf ke kamu ya, sikap Syfa benar-benar ngga baik ke kamu.” Ucap Haziq “ Iya om tenang aja Genta ngga papa kok om. Genta kan tangguh jadi Genta nggga akan mundur. Untuk masalah kemarin om tenang aja, ngga Genta masukin ke hati kok om Justru Genta suka kalau ngledekin Syfa. Genta yakin kalau sebenarnya hati Syfa itu lembut. Dia seperti itu karena dia ingin menutupi kekurangannya aja om.” Balas Genta. “ Kamu benar ta. Oh iya udah mau maghrib ta, sekalian aja kamu shalat disini dan juga makan malam disini ya.” Tawar papanya “ Apa ngga ngerepotin om.” Tanyanya. “ Ya nggalah ta, justru om seneng kamu sering datang kesini. Om jadi punya teman ngobrol. Dirumah teman ngobrolnya tante kalau ngga pembatu rumah.” Jawab papanya yang langsung mengajak Genta untuk masuk. Kebiasaan yang terjadi dalam rumah ini yaitu setiap keluarga berkumpul maka usahakanlah untuk shalat berjamaah. Ammaralah yang memulainya, dialah yang lebih banyak mengingatkan suaminya dan Syfa tentang agama terutama shalat. Sebelum menikah dengan Ammara, papa Syfa seseorang yang jauh dari agama. Dan Syfa pun tak pernah diajari tentang agama oleh orang tuanya. Maka dari itu mama kandung Syfa bahagia saat ia memperkejakan Ammara, putrinya pun menjadi banyak belajar agama dengannya. Sedikit demi sedikit Haziq dan Syfa pun mulai terbiasa dengan segala ilmu agama yang Ammara ajarkan. Semua pun sudah berkumpul di mushola rumah, termasuk para pembantunya yang ikut berjamaah. Dari kejauhan Genta terpana melihat Syfa yang mengenakkan mukena. Dia jauh lerlihat cantik saat menutupi auratnya. “ cantik.” Ucap Genta yang tak menyadari kalau ucapannya itu di dengar oleh semua orang. Dan semuanya pun tersenyum mendengarkan itu. Sedangkan Syfa kesal karena masih sempat-sempatnya Genta meledeknya disaat akan shalat. “ Udah ta, ngliatinnya nanti lagi nanti keburu waktunya habis, sekarang kamu ya yang jadi imam.” Suruh papa Syfa. Genta pun terkejut dengan permintaan tersebut. “ Om beneran nyuruh Genta buat jadi imam.” Tanyanya untuk meyakinkan permintaan itu. Haziq pun mengangguk. “ Tapi om, Genta kan….” “ Om percaya Genta mampu nak.” Balas papa Syfa dengan menepuk pundak Genta. Genta pun maju di tempat imam. Suasana pun menjadi lebih khusyuk dantak ada suara apappun. “ BISMILLAHIROHMANIROHIM.” Ucap Genta sebelum mengimami shalat maghrib. “ ALLAHUAKBAR……..” Shalat maghrib pun selesai di kerjakan oleh semuanya. Selesai shalat Genta pun memimpin doa. Mata Syfa pun berkaca-kaca saat Genta sedang berdoa. Hatinya bergetar dan bicara. “ Apa aku ngga salah dengar, kalau suara itu benar-benar miliknya. Aku tak menyangka bahwa suaranya saat melantunkan ayat suci al Quran begitu indah dan benar dalam melafalkannya. Ya Allah laki-laki macam apa dia, kenapa laki-laki sesempurna ini mau mendekatiku. Apa sebenarnya tujuanMu mendatangkan dia di sekitarku ya Allah. Tunjukanlah semuanya padaku Ya Allah, aku tak ingin tersesat dengan semua ini.” “ Syfa.” Panggil mamanya saat sudah selesai berdoa. Karena dia melihat Syfa termenung. “ Iya ma.” “ Apa yang Syfa fikirkan nak.” Tanya mamanya. “ Syfa ngga memikirkan apapun kok ma.” Elaknya yang kemudian menyalami mamanya. Sesudah itu dirinya pun masuk ke dalam kamarnya. Syfa yang sedang tadarus dengan mendengarkan murotal dari al Quran digital pun menghentikannya karena ada yang mengetuk pintu kamarnya. “ Non.” Panggil Minah. “ Ada apa mba Minah.” Tanya Syfa. “ Nyonya sama tuan nyuruh non Syfa keluar untuk makan malam.” Ucapnya. “ Syfa masih kenyang, bilangin ke papa sama mama kalau Syfa makan malamnya nanti aja.” Jawabnya. “ Oh gitu ya non, ya udah Minah keluar dulu ya non.” “ Eh tunggu mba Minah.” “ Ada apa non.” “ Aku mau minta tolong buangin itu bunga, kalau ngga buat mba Minah aja.” “ Non Syfa beneran nyuruh Minah buang bunga sebagus ini. Pasti ini kan mahal non, apalagi ini bunga dari mas Genta. Mubazir non kalau di buang. Mendingan disimpan aja non. Kalau ngga bibi taruh di vas ya non.” Tanya Minah. “ Ya benerlah, masa aku bercanda, terserah kamu mau diapain tuh bunga yang jelas jangan di taruh di kamarku lagi.” Jawabnya. Minah pun langsung mengambil bunga tersebut. “ Non ada ucapannya non, biar mba Minah bacain ya non.” “Ngga perlu.”Ucap Syfa. “ Tapi non ini kata-katanya bagus banget lho non, bibi bacain aja ya non. Takutnya non nyesel ngga tahu isinya.” Balas mba Minah yang tetap membacakan ucapan dari kartu yang ada di bunga tersebut. “ Allah memutuskan apa yang dikehendaki-Nya. Ujian datang karena kasih sayang-Nya pun telah datang padamu. Lebih berat ujian itu datang, maka kasih sayang Allah padamu pun lebih besar. Karena Allah menghendaki umat-Nya yang mendapatkan ujian itu mempunyai derajat yang lebih tinggi di sisi-Nya.” From        : Laki-laki yang akan memperjuangkanmu. Hati Syfa tersentil mendengar mba Minah membacakan kata-kata yang ada di bunga tersebut. Tanpa menjawab Minah bicara, Syfa hanya diam. Dia tak menyangka kalau ucapan Genta membuat hatinya sakit. Karena ia merasa kalau dirinya berada dalam situasi seperti yang di ucapkan Genta. *** Hari-hari yang Syfa jalani sekarang benar-benar tak setenang yang dulu. Disetiap harinya pasti ada saja ulah Genta untuk mengusik kehidupan Syfa. Genta pun tak pernah absen untuk mengirimi Syfa bunga. Dan banyak kata-kata mutiara dalam karangan bunga tersebut. Walaupun Syfa tak suka dengan bunga, tapi dia merasa senang saat Minah selalu membacakan kata-kata mutiara yang Genta tuliskan di kartu ucapan tersebut. Dan hamir setiap hari pula setelah pulang dari kantor, dia akan mampir ke rumah Syfa. Saat sedang makan malam bersama keluarganya, Syfa terlihat lebih banyak diam. Papa dan mamanya pun merasa heran dengan putrinya. Tapi memang setelah sebulan lebih Genta selalu datang kemari mereka merasa putrinya sedikit berubah. Walaupun masih terus menolak dan marah-marah dengan kedatangan Genta, tapi Haziq dan Ammara merasa kalau Syfa mulai terbiasa dengan adanya Genta. “ Syf.” Panggil mamanya. Namun Syfa belum juga menyahut mamanya.” Syfa.” Panggil mamanya lagi dengan memegang tangan Syfa. “ Oh iya ma, kenapa ma.” Tanya Syfa yang terkejut dengan panggilan mamanya. “ Syfa ngalamunin apa sih sayang, kenapa dari tadi mama panggil Syfa diam aja sayang.” Tanya mamanya. “ Ngga kenapa-napa kok ma, mungkin telinga Syfa lagi eror kali.” Jawabnya. “ Masa sih eror, terus kenapa itu makanan Cuma di aduk-aduk ngga dimakan.” Tanya papanya. “ Owh Syfa udah kenyang pa.” Jawab Syfa. “ Udah kenyang atau lagi rindu.” Ledek sang papa. Dan Syfa langsung terlihat salah tingkah. Dia pun tak terima dengan ucapan papanya. “ Papa aneh deh, Syfa itu beneran ngga laper. Siapa juga yang lagi rindu. Emangnya kalau Syfa rindu, rindu sama siapa. Kan papa sama mama udah ada disini.” Balas Syfa. “ Siapa juga yang bilang rindu ke mama sama papa. Maksud papa Syfa lagi rindu sama Genta.” Ledek papanya. Syfa yang sedang makan pun tersedak saat papanya menyebutkan nama Genta.  Ammara pun langsung membantu mengambilkan minum. “ Siapa juga yang kangen sama Genta. Ihhh ngga baget kali buat Syfa, ngga penting banget buat nginget-nginget laki-laki macam dia itu. Apa yang Syfa katakan bener kan pa, laki-laki seperti dia itu ngga mungkin bisa serius sama cewek. Dia itu laki-laki buaya, liat aja buktinya dia sekarang udah nyerah. Syfa justru senang akhirnya dia menyerah. Buktinya beberapa hari ini dia ngga datang ke sini.” Ucapnya. Papa dan mamanya pun hanya geleng-geleng kepala mendengar kesombongan putrinya yang masih memungkiri perasaannya sendiri.    “ Dia ngga datang kemari bukan karena dia udah nyerah Syfa sayang. Beberapa hari ini Genta ngga datang karena dia lagi menyelesaikan khasus kliennya di luar kota Syf. Papa denger khasus yang lagi ia tangani sekarang sih lumayan membutuhkan waktu yang cukup lama. Jadi mungkin bakalan lama dia disana.” Ucap papanya. Tak tahu mengapa perasaan Syfa merasa lega setelah mendengar ucapan papanya. Tapi walau begitu tetap saja Syfa masih gengsi, dia belum menyadari akan perasaannya sendiri. “ Syfa kan ngga tanya ke papa kemana dia pergi. Akan jauh lebih baik lagi kalau dia ngga usah kesini.” Balas Syfa dengan senyuman yang sinis. “ Tapi kok papa merasa berbeda ya. Justru kalau papa liat wajah Syfa merautkan wajah berbeda. Wajah Syfa lebih terlihat menginginkan Genta datang kan sayang.” Ledek papanya. “ Papa.” Jawab Syfa yang kesal karena terus-terusan di ledek papanya. Dia pun beranjak dari kursinya dan masuk ke kamarnya. “ Kamu mau kemana sayang.” Tanya mamanya. “ Sya mau ke kamar, malas disini terus-terusan di bully sama papa.” Jawabnya. Setibanya di kamar, Syfa berdiri di balik pintu. Dia memegangi jantungnya yang berdetak lebih cepat. “ Aduh kenapa sih, kok aku jadi aneh begini.” Ucap Syfa sendiri. Belum selesai dengan berbagai spekulasi dalam fikirannya, tiba-tiba telfon di kamarnya berdering. Syfa pun berjalan mendekati telfon tersebut dan akan mengangkatnya. “ Halo Assalamualaikum.” Salam seseorang diseberang. “ Waalaikumsalam.” Balas Syfa dengan sedikit bingung. Suara itu sangat tak asing baginya. Dia pun memikirkan siapa orang ini. “ Alhamdulillah, akhirnya kamu ngangkat juga Syf.” Ucap Genta. Syfa pun langsung sadar saat kembali mendengar suara Genta. “ Ngapain kamu telfon malam-malam begini.” Tany Syfa dengan ketus. “ Aku seneng banget kamu maungangkat telfon dari aku. Abisnya aku khawatir tahu, dari tadi aku nelfon ke ponsel kamu tapi ngga kamu angkat-angkat. Ya udah aku telfon kerumah kamu aja.” Jawab Genta. “ Aku ngga tanya masalah itu, ngapain sih kamu nelfonin aku ngga penting banget malam-malam begini.” Balas Syfa. “ Aku Cuma pingin denger suara kamu aja Fa.” Jawabnya. Syfa pun diam sekejap. Dia kembali di buat bingung dengan jantungnya yang berdetak lagi. “ Syf… Syfa.” “ Apa.” “ Kok kamu diam sih, kamu marah ya ke aku gara-gara aku ngga ngasih tahu kamu kalau aku bisa datang ke rumah. Aku minta maaf ya ngga ngabari kamu dulu kalau aku lagi di luar kota.” Ucap Genta. Syfa tersenyum tipis, tapi dia kembali muram. “ Ihhhh geer banget siapa juga yang mau tahu urusan kamu. Aku sih masa bodo kamu mau ngapain. Justru aku seneng kamu ngga kesini lagi. Dan kamu ngga perlu ngasih tahu ke aku semua kegiatan kamu, ngga penting juga buat aku, emangnya kamu siapaku.” Ucap Syfa dengan ketus. “ Masa kamu lupa sih Syf, kalau aku ini calon imammu.” Balas Genta dengan penuh percaya diri. Tanpa membalas ucapan Genta, Syfa langsung menutup telfonnya. Dia tak ingin Genta mengetahui apa yang ia rasakan saat ini. “ Dasar laki-laki gila.” Ucapnya sendiri dengan tersenyum simpul lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN