Dia yang tak memiliki nama

1408 Kata
Pancaran aura gelap itu memncar jelas dari tubuh Valrey. Aura itu juga berusaha menembus langit yang tak berbatas di atas sana. Api hitam yang biasa disebut api neraka memancar kelaur dari tubuhnya, bahkan Raph dan yang lainnya masih bisa merasakan panasnya api itu dari jarak beberapa meter. Tanah tampat kakinya berpijak sekejap hangus tanpa ampun. Dua iblis tingkat empat tanpa perintah apapun dariJendral Hrozak sekejap merangsak maju menyerang Valrey. Namun hal mengejutkan dan tak sempat tersaksikan oleh mata mereka terjadi, mereka takkan percaya jika tak melihatnya sendiri, walau tak bisa menangkap setiap rinci kejadian. Dalam jarak beberapa meter, bahkan masih dengan seringai lebar, kedua tubuh iblis itu sekejap menguap, hanya dengan pancaran api hitam di tubuh Valrey. “Wah, kau naik tingkat rupanya,” ejek Jendral Hrozak, tak merasa kehilangan atas kemusnahan dua anak buahnya. Raph yang merasa waspada, mengajak Vio dan dua oenjaga lainnya untuk sedikit lagi menjauhi Valrey. “Ia takkan melukai kita, kan?” tanya Vio ragu. “Aku rasa dia takkan menyadari kehadiran temna-temannya untuk saat ini. Dia tak bisa mengendalikan diri,” jawab Raph tanpa mengalihkan pandangan dari Valrey. Jendral Hrozak yang merasakan hal sama dengan Raph juga mundur dan memperhatikan Valrey,berusaha menganalisa kelemahannya dari kejauahan. Pupil matanya berubah merah dan menajam, bertanda ia sedang memfokuskan pindaian pada tubuh Valrey. Hanya beberapa detik, matanya kembali seperti semua. “Aku tak bisa menganalisa tubuhnya saat ini. Ia benar-benar dilindungi oleh api itu. Seolah mengenakan baju zirah tanpa sehalai rambutpun yang keluar.” Ucapnya pada dua bawahannya yang juga tak mengalihkan pandangan sedari tadi. Saat ini di dalam sana, Valrey sedang berbicara dengan iblis di dalam tubuhnya. jika biasanya ia hanya mendengar suaranya saja atau melihat wujudnya yang tidak terlalu jelas, kali ini iblis itu benar-benar berdiri di hadapan Valrey. Mata mereka sama-sama waspada, merasa jika sedikit saja mengalihkan perhatian maka salah satu dari mereka akan diserang oelh sosok didepannya. “Kau tak takut padaku, manusia?” Iblis itu membuka suara, nada biacaranya meremehkan. “Takut? Ini bukan pertama kali aku berjumpa dengan iblis. Bahkan aku sudah membunuh banyak di antara mereka.” Valrey terkekeh ringan menanggapi pertanyaan itu, menurutnya lucu iblis yang ‘menumpang’ di dalam tubuhnya ini baru sekarang bertanya. Lelucon yang sangat buruk. “Benar juga. Kita bahkan sering berkomunikasi selama ini. Hanya saja baru ini kita berdekatan, kau bisa melihat wujudku secara jelas.” “Ya. Apa kau sudah ingat namamu, Iblis?” tanya Valrey. “Nama? Aku belum ingat sampai sekarang, atau…” Ia ragu melanjutkan. “Kau tidak memiliki nama?” tebak Valrey. Iblis itu diam, ia menggeram entah kenapa. “Baiklah, kau membutuhkanku kali ini, bukan?” Iblis itu mengubah topic pembicaraan. “…” “Aku akan memberimu kekuatan lebih kali ini, dua kali lipat.” Nadanya semakin serius. “Kau akan meminta bayaran apa kali ini?” tanya Valrey. “Waktu kehidupanmu―lagi.” Wajah hitam itu menyeringai, menyenangkan baginya mendapatkan mangsa setelah sekian lama kelaparan. “Baiklah!” tegas Valrey, tak ingin lagi berbasa-basi. Tanpa peringatan Iblis tak bernama itu menyentuh d**a Valrey dan menyalurkan api hitam dari tubuhnya. Rasa panas yang mendadak menyerang d**a hingga menjalar ke sekujur tubuhnya membuat Valrey berteriak dan tak mengingat lagi kejadian setelahnya. Kekuatan itulah yang telah membinasakan dua iblis yang tadi menyerangnya. “Apa rencana kita selanjutnya?” tanya Vio, ia benar-benarkehabisan akal saat ini. “Aku akan mengambil tubuh Lucky, sebelum ikut hancur karena ledakan kekuatan Valrey.” Tanpa menunggu respon dari Vio, Raph sudah berlari sekuat tenaga menuju tubuh Lucky yang tergeletak. Ia tak menyadari bahwa aksinya akan memancing Jendral Hrozak untuk menyerangnya kembali. Terjangan dari api yang menghujam tanah di depannya sontak membuat Raph berhenti agar tak terkena serangan. Ia menggeram, pikirannya terbagi karena serangan ini. Lontaran api hitam semakin meluas, tak lama lagi akan menyentuh tubuh Lucky. Raph terpaksa meladeni serangan dari tiga iblis yang setara dengannya terlebih dahulu. Mereka semua tahu bahwa Lucky belum tewas dan hanya menunggu waktu lebih untuk meregenerasi semua luka di tubuhnya untuk kembali pulih. Bagaimanapun Jendral Hrozak harus memusnahkan Lucky sebelum ia yang dimusnahkan oleh Raja Melchoir. Serangan bertubi-tubi dari tiga iblis itu membuat Raph kewalahan, bahkan dua penjaga yang ikut membantunya berakhir tewas dengan kepala terpenggal oleh kuku-kuku tajam Jendral Hrozak. Vio yang sudah berubah menjadi setengah iblis tak berguna sama sekali ketika ia menerima serangan berupa hantaman bola api yang membuatnya terpental jauh. “Ukh!” Vio tak sanggup bergerak setelah menerima serangan tadi. Darah segar mengalir melalui sela-sela mulutnya, menandakan betapa besar luka yang ia alami setelah serangan. Di sisi lain, Raph mulai melambat karena serangan dari Jendral Hrozak yang tanpa ampun menyerangnya. “Ha ha! Akhir darimu gadis manis,” ejek seorang iblis yang kini memamerkan kuku-kuku tajamnya di hadapan Vio. Vio yang terluka parah hanya menatap tajam, berusaha mengintimidasi lewat matanya walau itu takkan berpengaruh. Iblis itu mengangkat tangannya dan bersiap menebas leher Vio untuk menyelesaikannya. Vio pasrah, menutup mata membayangkan satu persatu keluarganya sebelum iblis menyerang tanah ini. Viomerasakan hawa panas semakin kuat dan ia membuka mata. Ia masih sempat menyaksikan kedua bawahan Jendral Hrozak yang dalam hitungan detik menguap hancur ketika Valrey menyerang mereka degan sekali tebasan kukunya. Ya, Valrey dalam wujud iblis sudah berhasil mengendalikan dirinya kembali. Ia kembali di waktu yang tepat. “Raph!” sorak Valrey yang sama-sama menarik perhatian Raph dan Jendral Hrozak. Raph mundur dan berusaha menata napasnya yang mulai kelaelahan karena serangan Jendral Hrozak tanpa ampun. Ia terlukadi beberapa bagian tubuh meski tak parah, hanya ia sedikit lambat beregenerasi karena kehabisan tenaga. Di sisi lain, Jendral Hrozak memasang seringai mengerikan, mungkin saja ia baru menyadari bahwa kedua anggota terakhirnya tadi sudah kehilangan nyawa. Tak ada kesempatan abginya untuk mundur lagi. Resiko yang ia terima hanya satu, kematian melalui tanga Raja Melchoir. Sementara jika ia maju, masih ada kemungkinan kedua, ia bisa hidup dan hanya perlu mengalahkan mereka bertiga. “Baiklah!” serunya lantang. “ Aku akan mulai darimu, anak muda!” tambahnya. Sepersekian detik iasudah berdiri di hadapan Valrey dan bersiap menghunuskan kuku tajamnya ke leher Valrey. Senyum kemenangan terlukis di wajahnya. “Terlalu lambat,” ucap Valrey santai. “Akkhh!!!” Jendral Hrozak terpental mengantam sebongkah batu besar hingga batu itu hancur. Seringai kemenangan tadi berganti masam. Ia meremehkan manusia ini. Kekuatannya jauh bertambah, bahkan ia bisa merasakan aurayang terpancar melebihi dirinya sendiri. Lewat kesempatan ini, Raph mengangkat tubuh Lucky dan membaringkannya di samping Vio yang juga terluka parah. Vio sudah kembali ke dalam wujud manusia. “Raph! Bawalah mereka menjauh dari tempat ini,” ucap Valrey dengan nada dingin. Tak perlu menunggu lama, Raph membopong kedua teman manusianya itu di bahu dan membawa mereka menjauh,ke tempat yang lebih aman. Raph bisa membayangkan apa yangakan terjadi jika Valrey benar-benar telah memiliki kekuatan iblis tingkat dua. “Kau tak ingin mereka menyaksikanku membantaimu?” cela Jendral Hrozak, walau ia mulaimeragukan dirinya sendiri. “Aku hanya ingin bermain sedikit denganmu, Jendral. Menguji kekuatan baruku, kekuatan yangbaru saja dihadiahkan oleh teman baruku.” Nada Valrey mulai terdengar santai. Tak menunggu lama, Jendral Hrozak mulai maju dan mulai menghujamkan ratusan duri api dari tubuhnya. Semua menghujam tepat ke tubuh Valrey dan beberapa diantaranya menciptakan ledakan, membuat kabut asap menghalangi tubuh Valrey. “Begitu saja?” Seringai kemenangan kembali terukir di wajah Jendral Hrozak. Setelah kabut asap perlahan menipis dan menghilang, sosok Valrey sama sekali tak ada di sana. Seharusnya tubuh itu tergeletak tak bersaya setelah menerima serangan sebanyak itu dari Jendral Hrozak. “Mustahil! Seranganku bahkan bisa menghabisi satu desa hanya dengan sekali saja!” geram Jendral Hrozak pada dirinya sendiri. “Sayangnya itu bukan aku!” Nada dingin muncul dari belakang Jendral Hrozak. Belum sempat berbalik menuju sumber suara, kaki Jendral Hrozak sudah tak menyentuh tanah lagi. Valrey mencengkeram lehernya dengan kuat, taka da kata-kata meremehka lagi yang bisa keluar dari mulut itu. “Aku bosan bermain denganmu,” kata Valrey santai. Dengan sekali cegkraman kuat, ia bisa mendengar gemeretak tulang leher Jendral Hrozak yang patah. Ya, Valrey melakuka hal yang sama seperti apa yang Lucky terima dari iblis di hadapannya sekarang ini. Namun ia memberikan lebih agar iblis ini benar-benar musnah. Hawa panas mulai menjalar dari d**a Valrey menuju tangan yagn sedang mencengkeram leher musuhnya. Tak butuh wajtu lama, tubuh itu menguap seperti debu sisa pembakaran yang tertiup angin. “Aku suka kekuatan baruku,” ucap Valrey yang perlahan kembali ke wujud manusianya. Raph memandang tak percaya dari kejauhan. Bagaimana bisa Valrey dalam waktu singkat meningkatkan kekuatannya dari tingkat tiga menuju tingkat dua. Benar-benar mengerikan!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN