“Semua akan lengkap ketika aku telah menyempurnakan Rulp ini,” ucap Eva saat memasuki ruangan Raja Melchoir. Ratu penyihir itu mengisi kekosongan singgasana lainnya yang bersebelahan dengan milik Sang Raja Iblis.
“Aku akan mempercayakan urusa itu padamu, Ratuku. Aku yakin tak ada yang bisa menyempurnakan batu itu selain kau.”
“Baiklah,” Eva dengan senyum khas yang selalu terlukis di wajahya yang panjang dan dagu runcuing, senyum itu tentu membuat dagunya semakin runcing.
Jari-jari panjang itu bergerak mengelilingi sebuah batu yang sekarang diletakkan di atas sebuah bantal beludru merah. Bibir tipis yang selalu berwarna merah menyala, bahkan sekilas seolah ia melukiskan darah di bibir itu, bergerak membaca suatu kalimat panjang yang tak dimengerti oleh siapapun. Di depan sana, Melchoir memperhatikan setiap pergerakan Ratunya, ia juga tak mengerti tentang ritual yang sedang terjadi. Namun satu hal yang pasti, seoggok batu di depan sana sebentar lagi akan menjadi sebuah benda yang akan menambah kekuatannya jauh berpuluh kali lipat.
Rulp bukan sekadar batu gelap yang memiliki daya magis bagi mata yang melihatnya. Semua itu berasalah dari jiwa iblis yang berkhianat pada masa lalu. Mereka yang tak mendukung Raja Melchoir di segel di dalam sebongkah batu dan takkan perah bisa keluar. Tentu iblis tingkat tinggi seperti Melchoir yang sanggup mengendalikan kumpulan kekuatan itu agar tak berbalik menjadi sesuatu yang mengancam nyawa pemakainya.
Ya, Melchoir memperlihatkan seringai ketertarikkannya saat baru itu perlahan terangkat dan seakan berusaha menyedot semua yang ada di ruangan itu. Namun itu pertanda baik, berarti batu itu merespon tambahan kekuatan yang diberikan oleh Eva.
Hari kedua perjalanan, mereka sampai du mulut goa yang ditutup oleh sebuah batu besar yang tingginya tiga kali tubuh Zyan.
“Bagaimana kita akan membuka pintu masuknya?” keluh Jeff.
Zyan berusaha mengingat sesuatu. Ia menaikkan telujuk sebagai tanda menyuruh Jeff untuk diam. Semua langsung menutup mulut dan memperhatikan pergerakkan Zyan.
“Aku yakin dulu di sekitar sini,” bisiknya.
Zyan menyentuh dan meraba sisi kiri batu, seakan di sana ada sebuah kuncu atau tuas rahasia yang disembunyikan. Keempat bawahannya hanya bisa saling menatap bergantian melihat Zyan. Tak sia-sia dua hari perjalanan yang mereka tempuh, Zyan tersenyum saat tangannya merasakan sebuah batukecil yang menojol di samping kiri. Zyan berusaha menekan batu kecil itu dengan kedua tangannya hingga batu itu terbenam menjadi rata dega batu besar tempatnya menempel.
“Kalian menjauhlah!” Zyan memperingati ke empat bawahannya yang melongo di depan pitu goa itu.
Zyan juga bergerak cepat menjauhi batu itu. Tak lama sebuah gempa bumi datang membuat mereka semua sedikit cemas. Sebuah retakan berawal dari bawah batu besar secara cepat menjalar ke atas dan bercabang hingga ke semua permukaan batu itu. Lalu denga suara yang sangat memekakkan telinga, batu itu seolah meledak dan semua berserakan menjadi serpihan kecil.
Zyan yang tahu semua proses ini seudah mengantisipasi dengan berlindung di balik sebuah pohon yang cukup besar da kuat untuk mencegah pecahan batu itu mengenainya. Sementara ke empat bawahannya hampir saja luka karena tak sigap mencari tempat berlindung. Mereka hanya mengalami luka goresan ringan karena beberapa serpihan kecil mengenai mereka.
“Jendral Zyan! Kenapa tidak memberi tahu jika kejadiannya seperti ini,” rengek Jeff sambil meniup luka yang ada di lengannya.
“Aku kan sudah mempertingatkan kalian untuk menjauh.” Zya hera kenapa ada prajurit cengeng seperti Jeff menjadi salah satu pasukannya. Apalagi dia bagian dari tim pejaga kurungan yang paling berbahaya di tempat penelitian.
Sekarang di depan mereka sebuah pintu goa yang sangat besar dan dipenuhi kegelapan di dalam sana seolah menyambut kedatangan mereka. Zyan tanpa ragu memulai langkah menjadi orang pertama yang masuk. Kemudian disusul oleh semua bawahannya yang saling dorong mendorong.
Perjalanan yang mereka tempuh semakin dalam memasuki goa itu hingga beberapa kali mengambil lorong yang bersimpang, membuat ke empat bawahannya bergidik. Bagaimana jika mereka tersesat dan tak menemukan jalan kembali. Jika diperhatikan, Zyan mengambil jalan yang pertama dilihatnya. Memunculkan keraguan di mata para bawahannya.
Rasanya mereka mungkin sudah menempuh hamper satu jam perjalanan menyusuri setiap lorong gelap goa ini. Perjalanan ini seakan tak memiliki ujung yang membuat perasaan semakin tak enak. Namun berbeda dengan para bawahannya, Zyan tetap melangkah dengan yakin. Ia mengandalkan ingatannya dua puluh tahun lalu saat mengantar seseorang yang sekarang akan ia jemput kembali.
“Kalian dengar itu?” bisik Levi membuat semua langkah disana berhenti dan mejamkan telinga.
Dari kejauhan terdengar suara yang pastinya lebih dari satu, entah itu inatang atau iblis, yang pasti mereka sangat tergesa dan denga cepat semakin jelas itu adalah kepakkan sayap dan suara yang tak henti keluar dari mulut si pemilik sayap.
“Semuanya tiarap!” Zyan juga melakukan hal yang sama.
Jeff dan yang lainnya juga mengikuti aba-aba dari pimpinannya dan langsung merespon lebih cepat dari pada sebelumnya. Ratusa atau bahkan ribuan kelelawar terbang persis kearah mereka. Aroma khas kelelawar yang membuat perut mereka bergejolak memenuhi rongga hidung tanpa ampun. Untug saja dipuggung mereka masih menyandang tas ransel, sehingga punggung itu terlindung dari cakaran kelelawar. Begitu juga dengan wajah yang mereka sembunyikan di balik kedua lengan sedalam mungkin. Selain untuk mencegah perut bergejolak di saat yang tak tepat, juga terhindar dari serngan tak sengaja rombongan kelelawar.
“Apa ini bukan jadwal mereka tidur siang?” Tanya Jeff dengan nada kesal yang sama sekali tak ia sembunyikan.
Tak ada yang berniat menjawab. Mereka semua semakin merasa tak enak, rasanya sesuatu yang lebih besar sedang menanti mereka di dalam sana.
“Ayo bergerak cepat! Kita sudah dekat.” Zyan bergegas kembali melanjutkan langkhnya. ia bisa merasakan seseorang yang dicari sudah dekat dan juga sedang menunggu kedatangannya.
Eva tersenyum lebar dan memejamkan mata. Ia menikmati teriakkan kemarahan dari jiwa mereka yang tersegel di dalam Rulp selamanya.
“Semakin banyak kemarahan, semakin bagus,”
“Semakin besar luapa emosi kalian, semakin mempercepat kesempuraan Rulp,” gumam Eva yang tak bisa melepaskan pandangannya pada Rulp yang sudah berbentuk sebuah cincin.
Keseluruhan fisik cincin itu sepenuhnya dari baru Rulp. Jangan bayangkan cincin pertunangan yang menggunakan gagang emas atau perak.
“Aku sudah membagi seoaruh jiwaku untukmu, Rajaku,” ucap Eva dengan tatapan penuh miat pada Melchoir.
Jemari panjangnya yenyerahkan Rulp pada Melchoir yang sekarang berdiri dan kedua matanya membualat melihat penunjang kekuatannya.
“Aku hanya perlu menambahkan beberapa inti core dan…. Sempura!” Gelegar tawa berat Melchoir si Raja Iblis menggema memenuhi ruangan. Tawa bahagianya selalu disambut oleh sahutan petir yang berusaha saling membalas.
“Jika aku memakainya sekarang, coba tebak apa yang terjadi setelahnya?”