“Kita harus kembali ke markas secepatnya. Akan merepotkan jika bertemu iblis lainnya,” seru ketua pasukan yang bernama Zyan itu.
Raja Yelvan belum mengangkat Jendral Perang pengganti Jendral Zarek yang telah mengkhianatinya. Zyan yang selama dua puluh tahun berada di sisi Jendral Zarek sebagai tangan kanannya juga tak mengerti apa yang menyebabkan Sang Jendral itu berkhianat. Sementara waktu ia akan menggantikan posisi Zarek.
“Bagaimana dengan Komandan-Komandan lainnya?” tanya Vio di tengah perjalanan. Semua luka di tubuhnya sudah tertutup, tapi masih ada rasa nyeri di perutnya.
“Semua markas lama sudah ditutup karena pemberontakan,” Zyan menatap tajam Vio dari sudut matanya.
Vio tak menjawab jawaban ‘langsung’ dari Zyan, karena ia juga bagian dari pasukan pemberontak itu dulu. Kelompok pemberontak terpecah sat p*********n besar-besaran pasukan iblis, hingga banyak dari mereka yang tewas. Vio sempat menyelamatkan sekitar dua puluh orang. Sementara lainnya kemungkinan tewas. Termasuk Kapten Yogi.
“Tunggu! Aku harus menjemput orang-orangku!” seru Lugos.
“Mereka sudah dibwa dari tadi oleh tim lain,” jawab Zyan tanpa melihat Lugos.
Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga kilometer, mereka sampai di luar hutan dan di sana sudah ada dua mobil yang menunggu mereka. Tanpa perlu menunggu aba-aba selanjutnya, Vio menaiki mobil truk yang biasa membawa pasukan, diikuti oleh yang lainnya.
“Lama tak berjumpa.” Suara seseorang yang terdengar akrab menyapa saat Valrey naik.
Langit yang sudah gelap dan taka da pencahayaan di dalam sini membuat Vio dan yang lainnya mengerutkan kening. Raph terlihat biasa saja, karena bisa membedakan setiap aura iblis yang ada di dekatnya.
“Kalian tidak senang bertemu dengan kami?” ucap suara itu lagi.
“Cih!” Valrey mulai terganggu karena rasa penasaran.
“Hey! Hati-hati dengan apimu sobat!” Sargon mundur hingga Lucy berjengit karena terjepit di antaranya dan dinding truk.
“Sargon?!” Seru Valrey dan Vio serempak.
Raph hanya menghela napas melihat kelakuan manusia-manusia yang bersamanya sekarang. Bagaimana mereka masih belum bisa membedakan aura masing-masing. Itulah sebabnya mereka hanya tahu jika pasukan iblis sudah dekat. Raph sibuk memikirkan mencari cara untuk mengajarkan pada mereka bagaimana menghilangkan jejak dan membedakan tiap-tiap aura.
Di ujung sana, Sargon sedang berusaha melepaskan diri dari pelukkan konyol Valrey, sementara Lucy sedikit tersenyum melihat tingkah mereka berdua. Baru beberapabulan berpisah, tapi rasanya sudah lama sekali.
“Bagaimana kalian bisa di sini? Kalian dijemput oleh pasukan Yelvan juga?” tanya Valrey lantang. Zyan yang berada di dekat pintu menatap tajam pada Valrey yang menyebut nama Rajanya tanpa rasa hormat, lalu kembali melihat keadaan di luar mobil.
“Kami lebih tepatnya mendapat ‘undangan’ darimu.” Sargon meletakkan kedua tangannya di belakang kepala dan bersandar santai. Ia sangat lelah karena pertarungan dengan Jendral Murdock tadi.
“Kau terluka?” Vio menyela bertanya melihat baju Sargon yang kotoroleh darah yang mulai mongering, begitupun dengan Lucy.
“Tadinya, tapi sekarang kami sudah pulih. Untung saja pasukan Zyan datang tepat waktu.” Kerlingan mata Sargon pada Zyan masih tidak ingin terlibat dengan reuni mereka.
Sargon memang mengatakan yang sejujurnya. Ia hanya enggan mengucapkan kata ‘terima kasih’ secara langsung pada Zyan. Bagaimanapun mereka dulu sempat berbeda jalur, dan Zyan memimpin sayembara kepalanya dan Valrey.
Lucy masih seperti biasa, tak terlalu banyak bicara. Sepertinya ia masih berusaha memulihkan diri setelah pertarungan tadi. Mereka salah telah menganggap remeh Jendral Murdock. Jika tak ingin meladeni permainan mereka tadi, Lucy tak yakin dia dan Sargon akan selamat. Juga dengan bantuan dari manusia setengah iblis hasil penelitian di Kerajaan, Lucy tak yakin Jendral Murdock akan kewalahan menghadapi mereka semua.
“Kalian bisa beristirahat. Perjalanan kita masih sekitar lima jam lagi,” ujar Zyan.
Zyan menatap langit yang lebih gelap dari biasanya. Di kejauahn kilatan petir terlihat silih berganti. Ia hanya bisa berharap di dalam hati semoga taka da serangan baru menjelang mereka sampai ke markas kerejaan.
“Selamat datang, anak-anakku,” seru Raja Yelvan menyambut kedatangan mereka. kedua tangannya terbuka seolah mereka akan berlari ked lam pelukannya bagai anak-anak yang merindukan ayahnya.
Sang Raja yang selama ini memakai topeng penuh keramahan dan kebijaksanaan hingga dapat merebut hati semua rakyat. Bahkan mati-matian memberikan tempat perlindungan bagi mereka dan satu hal lagi, ia tak segan untuk turun langsung ke lapangan mengambil bagian demi melindungi rakyatnya.
“Yang Mulia,” Zyan membungkukkan badan sebagai bentuk hormat pada Raja Yelvan.
“Bagaimana keadaan orang-orangku?” tanya Lugos tak memperdulikan sabutan hangat Yelvan.
Pertanyaan itu sebenarnya membuat Yelvan tak suka, sama sekali tak menghargainya., dan bagaimana pemuda ini menyebut mereka sebagai ‘orang-orangnya’? Raja Yelvan memiliki kendali penuh pada setiap yang bernyawa di negeri ini. Namun itu semua ia sembunyikan dengan baik di balik topeng kebijaksanaannya.
“Salah satu orangku akan mengantarkan kalian padanya sebentar lagi.” Yelvan sengaja memberikan tekanan pada kata ‘orangku’ untuk memperlihatkan dialah yang berkuasa sebenarnya.
Mata Yelvan membelalak kagum saat menemukan sosok Raph yang berdiri paling belakang. Dia benar-benar tak bisa meyembunyikan kekagumannya. Ya, ia sudah mendengar jauh-jauh hari tentang dua sosok iblis pemberontak yang membantu kelompok Vio. Namun ia sama sekalitak mengira jika Raph dengan sukarela bergabung dengan teman-teman manusianya hingga saat ini.
“Lihat dia! Seperti pemuda yang menemukan cinta petamanya,” bisik Valrey di telinga Sargon. Sargon mengibaskan tangannya sebagai bentuk penolakkan kata-kata yang di dengarnya tadi.
“Kau adalah iblis tingkat tiga!” seru Yelvan lantang. Matanya nyaris tak berkedip memandang sosok Raph yang tak disembunyikan lagi. Biasanya Raph akan menggunakan baju seperti manusia pada umumnya dan menyembunyikan wajahnya dengan lilitan kain. Namun pertarungan tadi membuatnya terluka di beberapa bagian tubuh hingga bajunya rusak.
“Kau tak takut padanya?” tanya Valrey.
“Hei! Jaga bicaramu pada Yang Mulia!” hardik Zyan yang sudah muak dengan Valrey yang membicarakan rajanya dengan tidak hormat dari tadi.
“Memangnya kenapa?” Tantang Valrey.
“Cih! Kau…!”
Zyan hendak menghunuskan pedangnya pada Valrey, tapi belum sempat, Raph secepat kilat menyerangnya dan mencekik Zyan dengan entengnya. Hal ini memancing kewaspadaan semua bawahannya yang sekarang menghunuskan senjata pada ‘tamu’ Raja Yelvan.
Dengan sekali kibasan tangan, semuanya menurunkan senjata itu. Raja Yelvan benar-benar tak ingin rasa percaya para tamunya hilang karena kebodohan bawahannya. Ah, saying sekali susah menemukan pengganti Jendral Zarek, batin Yelvan.
“Raph,” sapa Vio pelan.
Raph mendengus dan melepaskan tangannya dari leher Zyan. Zyan jatuh menghantam tanah dengan bokongnya dan batuk sambil berusaha mengambil udara sebanyak-banyaknya. Raph mengedarkan tatapana mengancam pada pasukan ayng sekarang berada di sekeliling mereka.
“Aku hanya akan melindungi orangyang dipilih Tuan Vargas!” seru Raph lantang. Terakhir matanya tertuju pada Lucky. “dan teman-temannya,” tambah Raph.
Raja Yelvan benar-benar kagum dengan kesetiaan iblis yang telah mengkhianati kaumnya sendiri demi membantu manusia. Ia benar-benar salut. Namun satu hal pasti, takkan mudah untuk mengajak Raph bekerja sama setelah mendengar ucapannya tadi.
Senyum ramah kembali tergurat di wajah Yelvan, ataukah sebuah seringaian?