Sang Jendral

1288 Kata
Jendral Murdock kembali dipanggil oleh Raja Melchoir kali ini. Ia bisa menebak apa yang akan menjadi permasalahan kali ini. Kegagalan Jendral Hyozak dalam membunuh manusia yang menerima kekautan Vargas. “Hamba menghadap, Yang Mulia.” Jendral Murdock berusaha terdengar tegas seperti biasa, walau ia tahu akibat kemaran Iblis tingkat satu ini seperti apa. “Kau Jendral Iblis terburuk yang pernah mendampingiku selama ini, Murdock!” Suara dingin itu menghantam pendengaran Jendral Murdock yang msih berlutut di hadapan Raja Iblis yang duduk dengan angkuh di singgasananya. “Semua di luar dugaan, Yang Mulia. Manusia keturunan iblis itu mengamuk dan membunuh Hyozak dalam sekejap,” “Begitukah?” Tak ada suara yang keluar dari mulut Jendral Murdock. Ia tak berani mengangkat kepala, tetap memandangi lantai tempatnya berlutut dengan sebelah lutunya. Sang Raja kembali membuka suara. “Jadi kaum kita bisa terancam tewas oleh manusia setengah iblis?” “Bukan seperti itu, Yang Mulia,” jawab Jendral Murdoc. Ia merasa salah menjawab dan itu bisa membuatnya kembali menerima hukuman seperti beberapa saat lalu. Raja Melchoir memandang langit di luar kerajaannya, sekarang semakin gelap dan petir saling bersahutan menggelegar memekakkan telinga, tapi suara itu bagaikan alunan music yang indah di telinga Raja Melchoir. Petir takkan menymbar tanpa izin darinya. Ia menimbang-nimbang apa langkah berikutnya yang harus diambil untuk melenyapkan semua manusia setengah iblis yang kini mulai bermunculan. “Satu lagi, Yang Mulia. Kerajaan Yelvan akan menyerang kita dalam beberapa waktu lagi. Dia sudah menciptakan pasukan pemburu iblis,” Jendral Murdock memecah kesunyian, selain bunyi petir dan Guntur yang masih bersahutan. “Pasukan pemburu iblis? Ha ha ha!” Raja Murdock tertawa sinis mendengar informasi ini dari Sang Jendral. Ia tak habis pikir manusia itu akan sampai ke tahap ini untuk menentang mereka. “Kau bereskan! Aku tak menerima kegagalan untuk ketiga kalinya. Menimbang kau adalah jendral pertama dan aku belum menemukan penggantimu. Tapi jika kali ini gagal! Aku yakin akan banyak Jendral lain yang dengan senang hati berada di sisiku sebagai Jendral Pertama.” Ancaman ini terdengar nyata. Murdock tahu ini kesempatan terakhirnya, sebelum Raja Melchoir mengeksekusinya. ***** Beberapa kilometer dari pusar kerajaan, Jendral Zarek dan ratusan pasukannya sedang menuju ke arah Selatan untuk menyerang pasukan iblis di sana. Dua puluh truk pengangkut pasukan berjalan teratur dalam iring-iringan. Puluhan desa mereka lalui, atau lebih pantas disebut dengan ‘puing’ karena sudah hancur oleh serangan pasukan iblis tingkat lima dan empat dalam beberapa bulan belakangan. Pemandangan itu membuat semua pasukan memandang pilu, bahkan beberapa di antara mereka berasal dari salah satu desa yang di lalui itu. Kejadian inijuga semakin mengobarkan semangat semua pasukan untuk mengalahkan semua pasukan iblis dan merebut tanah mereka kembali. “Apa sudah ada laporan dari Tim Pengintai?” Jendral Zarek bertanya pada bawahannya. “Belum, Jendral! Mereka akan memberi laporan menjelang matahari terbenam,” jawabnya tegas. “Hm.” Jendral Zarek dengan ratusan pasukannya ditambah dengan manusia setengah iblis yang berhasil menerima suntikan darah iblis tingkat lima memiliki keyakinan akan bisa memenangkan p*********n kali ini. Masih sekitar empat puluh kilometer lagi perjalanan yang harus mereka tempuh untuk sampai ke markas utama p*********n. Hingga malam tiba, masih belum ada kabar dari Tim Pengintai. Tanpa kabar dari mereka, Jendral Zarek belum bisa menentukan langkah p*********n apa yang akan ia ambil. Jika ia gegabah memutuskan dan bergegas menyerang bisa-bisa ia akan kehilangan sebagian besar pasukannya. Terkahir berita yang diterimanya sebelum keberangkatan ke markas utama, pasukan iblis sekarang selalu menempatkan perbandingan satu banding dua puluh antara iblis tingkat empat dengan lima. Biasanya mereka hanya berisikan iblis tingkat lima. Berarti pasukan iblis menyadari perkembangan kekuatan manusia sehingga menurunkan lebih banyak iblis tingkat empat sekarang. “Jendral! Sudah ada laporan dari Tim Pengintai!” Bawahannya bergegas masuk ke dalam tenda tanpa memperdulikan Jendral Zarek yang sedang berbincang menyusun taktik p*********n dengan beberapa orang yang akan memimpin kelompok nanti. “Laporkan!” Suara beratnya memerintah. “Masih sesuai dengan laporan terakhir, dengan perbandingan satu banding dua puluh. Jumlah mereka sekitar tiga ratus dan penjagaannya tak terlalu maksimal sejak dua malam ini. Mereka juga berada di satu tempat dan tidak ada laporang p*********n ke desa atau daerah lain dalam beberapa hari belakangan ini, Jendral!” Sang bawahan menyelesaikan laporan yang ia terima dari Tim Pengintai. Jendral Zarek merasa ini sebuah anginsegar bagi mereka. Renggangnya kewaspadaan pasukan iblis mungkin saja karena sudah banyak desa yang hancur. Mereka pasti merasa di atas angin. “Baiklah! Tim penyerang gelombang pertama terdiri dari tiga kelompok. Lalu tim penyerang gelombang kedua berada dalam enam kelompok. Zyan! Atur pembagiannya malam ini juga. Besok kota akan melakukan p*********n sebelum pagi datang. Jangan berimereka kesempatan untuk bersembunyo saat matahari muncul.” Wajah tegas dan serius Jendral Zarek berlanjut saat ia menerangkan bagaimana rencana penyerangannya. Sesuai rencana, pasukan pemburu iblis sampai di titik awal p*********n sekitar pukul dua malam. Sebagian dari mereka sudah berubah ke dalam wujud setengah iblis karena emosi yang memuncah, membayangkan keluarga dan desa mereka hancur di serang oleh pasukan iblis. Kenangan menyakitkan kehilangan orang-orang tercinta hingga harus bersembunyi dari harike hari untuk menyelamatkan nyawa membayangi mereka. Rya, salah satu bawahan Jendral Zarek yang memimpin p*********n gelombang pertama mengingatkan pasukannya untuk tidak gegabah. Kekuatan yang mereka miliki sekarang, belum akan sanggung untuk membunuh iblis tingkat empat jika hanya sendiri. “Masing-masing ketua tim penyerang memimpin pasukan kecilnya menuju titik yang telah di tentukan.” Ryan memberikan perintah pada merekayang langsung bergerak dlam diam. Rencana awalnya adalah menyerang pada satu titik hingga membuat pasukan iblis berkumpul di sana, lalu pasukan penyerang kedua yang lebih banyak akan menyerang merka dari arah belakang. Ya, merka akan melakukan cara apapun untuk memusnahkan para iblis, jika memang harus menyerang dari belakang. “Kita harus mengulur waktu hingga matahari terbit. Sesuai dengan yang kita ketahui, iblis magic akan lemah pada sinar matahari jika mengenai tubuh mereka langsung, tapi tidak dengan iblis penyerang.” Jendral Zarek memberikan info tambahan pada pasukannya. ***** Jendral Zarek percaya diri pada rencananya kali ini. Puluhan tahun memimpin perang, tak ada satupun rencananya yang gagal. Semua telah ia pikirkan matang-matang dengan segala kemungkinan. Ia seperti dewa perang dengan kemapuan meramal masa depan yang bisa mengetahui apa langkah yang akan diambil oleh musuh. Setelah mendapat kabar dari tim penyerang pertama, saatnya tim penyerang kedua maju. Pasukan pemburu iblis dari kerajaan dengan semangat berkobar menyerang dan membantai iblis tingkat lima tanpa ampun. Mereka juga berusaha mengulur waktu hingga matahari muncul dan melemahkan kekuatan iblis magic. Kedua kubu ini sama-sama kehilangan banyak nyawa. Namun, kali ini pihak iblis-lah yang banyak kehilangan pasukan, semua karena serangan fajar ini. Sekarang takada pasukan iblis magic yang tersisa, hanya ada puluhan pasukan iblis penyerang dan sekitar dua puluh iblis tingkat empat. “Cih!” dengus salah satu iblis tingkat empat yang bernama Tako, rupanya seperti gurita dengan dua belas tentakel yang selalu bergerak di kepalanya. Ia sangat harus akan darah manusia. Dulu, Tako sempat menyerang sebuah kamp pengungsian hanya berdua dengan rekannya. Banyak manusia yang tewas dan itu tak membutuhkan waktu lama. Kali ini ia berada di situasi berbeda. BRUAKK!!! Sebuah benda jatuh dari langit dengan keras di tengah medan pertempuran, menyebabkan sura yang keras karena tanah dan batu yang retak. Kabut dari psair berterbangan dan beberapa saat setelahnya mereda. “Jendral Keempat!” Tako menyeringai saat tahu siapa yang datang. “Dia iblis tingkat tiga!” dengus Zyan dari seberang. “Aku tak suka basa-basi. Setelah mengurus kalian, aku masih harus menyelesaikan perintah Raja Melchoir yang lainnya.” Jendral Gaviork yang berada di urutan keempat sedang memandangi ratusan manusia setengah iblis yang baru saja meluluh lantahkan tempatnya. “Jendral Zarek! Apa aku termasuk dalam perhitunganmu?” cemooh Gaviork dari jauh. Taka da jawaban, tapi mereka semua tahu bahwa Jendral Zarek sama sekali tak memperkirakan ini. Otaknya sedang berpikir cepat langkah yang harus diambil sebelum mereka semua habis dibantai dalam p*********n ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN