"Please be mine, Bie..." Batin gue berperang mendengar permintaan Pibi. Gue tau Pibi sedang sedih tak terkira, dia butuh rasa ingin dimiliki dan disayangi seseorang. Dia kesepian diatas tumpukan hartanya, miris, kan? Rasanya tak tega menolak permintaannya malam ini, sesaat gue membiarkannya mencumbu gue dengan tangannya bergerilya meraba tubuh gue hingga kemudian .... Pibi mengangkat jarinya yang lembap terkena sesuatu. "Apa ini?" tanyanya bingung. Tak sadar gue menghela napas lega. Gue tak tega menolak Pibi tapi Tuhan memperingatkan kami dengan menggunakan cara lain. "Oh, ternyata gue mens," ucap gue pelan. Pibi mendesah kecewa, ia bangkit dan duduk di tepian ranjang. "Bahkan Tuhan pun gak memihak gue," katanya sedih sambil meremas rambutnya kesal. Gue ikut duduk dan bersandar

