Seano kini tengah berdiri di hadapan sebuah stand makanan dengan Willy yang berada di sebelahnya. Mata tajam terus memperhatikan sang ibu kantin yang kini tengah memasak pesanan mereka dengan serius untuk menjamin kebersihan juga tidak adanya bahan aneh yang menyatu dengan pesanannya. Namun, ia merasakan pergerakan kecil dari sebelah kiri dan hal itu membuat Seano menatap ke arah Willy dengan lembut. "Kenapa, Sayang?" "Ily pengen ke kamar mandi, Kak." Jawab Ily dengan suara lirihnya karena ia malu telah menjadi pusat perhatian. "Yaudah, Kakak antar ke—" ucapannya terpotong kala Willy menariknya. "Ayo, Kak." Willy tak bisa menolak ucapan Seano. Lagi pula, ia memang merekomendasikan untuk meminta maaf antar oleh abangnya karena masih merasa asing dengan tempat yang ia kunjungi saat ini.

