Renata sudah mulai membaik. ia membantu Pak Budi yang sudah menganggap nya anak. Pak Budi yang keseharian nya hanya sebagi supir angkutan umum. dan hidup sendiri karna istrinya telah lama meninggal dunia.
"om Rena boleh ikut narik angkot tidak?"
tanya Rena kepada Pak Budi.
"kamu tidak takut jika nanti bertemu ibu mu di jalan atau ibu mu naik angkot ku?"
Rena nampak berfikir.
"hmmm enggak apa om, yang penting ada om Rena tidak takut."
ungkap nya.
"Nak jika nanti ada ibu mu ingin mengambil mu om tidak bisa berbuat apa-apa."
Rena nampak sedih, tapi ia tak ingin selalu diam dirumah ia terbiasa bekerja. ia nekat mengikuti kegiatan Pak Budi, ia menjadi karnet.
"pasar sore, pasar sore!"
teriak Rena di pintu angkot.
para penumpang berlarian memasuki angkot Pak Budi. Namun ada seseorang yang menegur anak itu.
"Nak, kamu bukan nya yang biasa meminta di lampu merah spertigaan itu ya?"
tanya seorang ibu yang menaiki angkot itu.
Rena bingung dan mengangguk.
"Nak, kamu tinggal dimana? ada seseorang yang selalu marah-marah menacarimu."
"itu pasti ibu nya."
seru Pak Budi pada ibu-ibu itu.
"apakah bapak ini Ayah nya?"
tanya lagi ibu itu.
"bukan tapi sebaik nya ibu tak usah memberitahukan keberadaan anak ini pada ibu nya. karna ia kabur dari ibu nya yang sering menyiksa nya."
ucap Pak budi.
ibu itu nampak mengerti.
"kasian anak seusia nya harus disiksa dan mengemis di jalanan."
ucap Pak budi yang di anggukan kepala eh seorang ibu yang tak lain adalah penumpang nya.