~>Telung puluh Pitu<~

1510 Kata

Jakarta seperti biasa jalan pagi yang sesak kendaraan. Para manusianya berlomba tiba di kantor tempat mereka mengais rezeki. Sama dengan Yogi yang kini menatap ke luar jendela. Perasannya makin tak karuan. Apalagi tadi ia meninggalkan Reina hanya bersama Bumi di rumah. Sesekali helaan napas terdengar, ia sebenarnya telah sadar jika hatinya menginginkan gadis yang dulu selalu tak bisa masuk dalam kategorinya. Siapa yang tak suka kecantikan atau ketampanan? Hanya saja jika hati sudah bicara tipe bukanlah jawabannya. "Bapak semenjak Ibu enggak ke kantor berubah." Ucapan Juki menarik atensinya. "Berubah gimana?" "Marahnya makin sering. Sering lupa makan siang juga. Untung Ibu setiap siang minta tolong saya intip Bapak sudah makan atau belum." "Reina?" Yogi meyakinkan lagi. "Iya istri Ba

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN