1b) Salim Tangan

1414 Kata
“Sebelumnya Ibu sama Bapak ini siapa ya?” walau Pak Buno bersyukur ada yang mau membantu tapi dirinya tidak mau gegabah, bisa jadi kedua orang di depannya adalah orang jahat yang mau menculik Aden kesayangannya. Walau suka jail begitu, Gasdan sebenarnya anak yang baik tapi entah mengapa paling anti disuruh pergi ke sekolah, dan kejadian ini merupakan peluang besar bagi Gasdan untuk membolos. “Perkenalkan saya Risman. Saya yang menemani adik kecil ini menunggu Bapak karena kebetulan saya juga lagi menunggu atasan saya yang tadi sempat ke minimarket sedangkan di samping saya Mbak Amadea yang adalah atasan saya” jelas Pak Risman yang disambut anggukan paham dari Pak Buno. “Saya Buno, terima kasih Pak sudah membantu saya menjaga den Gasdan.” “Sama-sama, Pak. Jadi Bapak mau menerima tawaran atasan saya tidak?” Amadea berterima kasih dalam hati pada Pak Risman karena telah mengulang tawarannya, entah apa yang membuat dirinya mencetuskan tawaran teresebut, namun ada rasa lega yang mendera hatinya bila anak kecil di hadapannya mau diantar olehnya. “Saya sebenarnya berterima kasih atas tawaran Mbak Amadea, tapi sewajarnya orang pada umumnya yang perlu waspada...” Pak Buno merasa sungkan melanjutkan maksudnya. “Saya mengerti maksud Bapak, itu wajar” Amadea akhirnya bersuara menengahi pembicaraan keduanya. “Pak Risman coba telepon bengkel langgan kita biar mobil ini di derek, kemudian tolong Bapak urus mobilnya sampai selesai sedangkan Pak Buno yang membawa mobil saya sampai mengantar anak atasan Bapak ke sekolah, setelahnya Pak Buno saya arahkan ke bengkel untuk mengambil mobil atasan Bapak.” Penjelasan Amadea membuat Pak Buno terpana sesaat karena mendengar usulan cerdas dari wanita cantik di depannya sedangkan Pak Risman mengangguk paham, lagi-lagi berbeda dengan Gasdan yang tambah memperlihatkan raut wajah tak senang. -_- = -_- “Jadi siapa nama kamu?” Amadea akhirnya memecah keheningan di dalam mobil, mencoba mengajak berbicara anak kecil di sampingnya, bukannya dia tidak mendengar percakapan di depan parkiran minimarket tadi mengenai nama anak di sampingnya. Hanya saja, dirinya perlu suatu hal yang dijadikan awal pembicaran, entah karena apa. “Gasdan Safiy Kawirya” Gasdan menjawab singkat masih dengan wajah cemberut. “Panggilannya apa?” tanya Amadea entah mengapa tidak ingin pembicaraannya dengan Gasdan sesingkat itu. “Terserah yang panggil.” “Kalau dipanggil Gas-Gas-Gas mau?” Gasdan menoleh yang membuat Amadea kembali melihat kedua pasang mata coklat jernihnya, namun sekarang lebih dekat, dan desiran singkat kembali dirasakannya. “Nggak begitu juga, Ihhhhhhhhhhhhh” akhirnya wajah cemberut Gasdan berubah, walau berubah menjadi kesal namun entah mengapa perubahan ekspresinya sangat Amadea nikmati. “Oke, dipanggil Gasdan aja ya?” ucapan Amadea hanya dijawab anggukan singkat oleh Gasdan yang kembali memasang raut cemberut. ‘Kalau panggilannya masih Gasdan ngapain nanya-nanya’ batin Gasdan. “Jadi kenapa dari tadi wajahnya cemberut?” tanya Amadea yang cukup penasaran kenapa anak kecil yang bernama Gasdan ini menampakkan wajah tak bersahabatnya sedari tadi. “Kenapa Gasdan ditawarin pergi naik mobil ini? kalau Gasdan nggak ditawarin, pasti Gasdan nggak akan masuk sekolah” penjelasan Gasdan diakhiri dengan mengerucutkan bibir. Amadea tersenyum akan tingkahnya namun setelahnya berpikir, memang apa salahnya jika mengantar Gasdan? Bukannya bagus, dia jadi tidak membolos dan sopirnya terhindar dari amukan orangtuanya. “Memang kenapa?” “Gasdan nggak mau sekolahhhhhhh!!!” seru Gasdan kesal dengan suara melengking, Amadea terkejut sesaat sedangkan Pak Buno yang memperhatikan kedua orang dengan umur yang berjarak jauh itu -sedari tadi- hanya mengambil napas tak enak hati. `Oalah Den, bukannya sing anteng wae, malah teriak sama orang yang baik hati mau tolong kita` batinnya. “Maaf Mbak, den Gasdan memang suka susah diajak pergi ke sekolah” Pak Buno memilih mengambil tindakan daripada dirinya dianggap tidak tahu diuntung. “Iya, tidak masalah” Amadea memilih diam setelahnya, tidak tahu harus bersikap seperti apa sedangkan Pak Buno bersyukur dalam hati dan kalau boleh jujur, wanita cantik di belakangnya memang terlihat angkuh dari raut wajahnya namun setelah bersuara terdengar seperti alunan musik campur sari, adem tenan. “Sudah sampai, Den” Gasdan segera bersiap membuka pintu mobil karena dirinya tidak suka apabila ada yang membukakannya. Katanya sih, `Gasdan udah besar, bisa buka sendiri.` Amadea yang melihat Gasdan keluar mobil hanya menghela napas pelan, tidak ingin berkomentar apa pun sedangkan Pak Buno lagi-lagi tersenyum maklum dan mengikuti Gasdan keluar mobil. -_- = -_- “Oalah Den, kok bisa lupa” ucapan yang diakhiri helaan napas membuat Amadea yang baru menyadari bila Pak Buno sudah kembali duduk di belakang kemudi, megikuti tatapan Pak Buno dari kaca dashboard yang menuju ke sebelah tempat duduknya. Amadea mengambil sebuah bungkusan yang melikuk di beberapa sisinya, dia baru menyadari adanya bungkusan tersebut, sepertinya tertutup ketika Gasdan duduk tadi sehingga dia tidak melihat bungkusannya. “Ini apa, Pak?” “Tugas kerajinan Aden, Mbak. Punten Mbak, mau Bapak antarkan, kasihan Aden kalau ditegur gurunya” Pak Buno mengulurkan tangan hendak mengambil bungkusan dari Amadea, namun deringan ponsel di saku kirinya membuat pergerakannya terhenti. Matanya membulat sesaat ketika melihat contact person yang memanggilnya, lalu dengan memberi kode –permisi- pada Amadea untuk menjawab panggilan itu, Pak Buno memutuskan keluar mobil, lupa akan bungkusan yang seharusnya diberikan pada Gasdan. Amadea memperhatikan jarum jam yang melingkar di bagian dalam pergelangan tangan kanannya, memang posisi jam tangan yang dirinya pilih adalah posisi yang jarang orang pilih, biasanya orang akan mengenakan jam dengan posisi penunjuk waktu itu dibagian luar pergelangan tangan sedangkan dirinya sebaliknya. Menghela napas, akhirnya Amadea memilih turun dari mobil tak lupa dengan bungkusan di tangan kirinya. -_- = -_- Amadea memasuki area playgroup masih dengan sandal jepit, pandangannya mengedar, mencoba mencari keberadaan anak kecil yang sempat membuat perasaan berdesir nyaman muncul di hatinya. “Gasdan!!!!” seruannya membuat beberapa pasang mata melihat ke arahnya, yang terlihat mendominasi adalah anak-anak. Jelas saja, memang tempat ini tempatnya anak-anak. Gasdan yang mendengar namanya dipanggil seketika membalikkan badan, tidak jauh dari tempatnya berdiri terdapat sosok wanita cantik yang tadi satu mobil dengannya sedang tersenyum kaku -karena merasa beberapa pasang mata memandangnya penasaran- seraya mengangkat bungkusan yang sempat dilupakannya. Gasdan pun memutuskan berlari mendekati Amadea, melihat Gasdan yang berlari mendekatinya membuat dirinya merasakan desiran singkat lagi, entah perasaan apa ini yang pasti sulit dia mengerti. “Kok kerajinan Gasdan di mmmmmm?” Amadea baru tersadar bahwa sedari awal Gasdan belum pernah memanggil namanya. “Panggil Tante Ama aja ya?” Amadea akhirnya mencetuskan panggilan yang menurutnya cukup tepat untuk Gasdan memanggil dirinya. “Iya” balas Gasdan sambil mengangguk namun tidak memanggilnya seperti yang diputuskannya tadi, menyadari raut wajah Gasdan yang masih tampak bertanya akhirnya Amadea kembali menjelaskan. “Tadi ketinggalan di mobil” Amadea menyejajarkan tubuhnnya dengan Gasdan setelah Gasdan mengambil bungkusannya. “Terima kasih” ucap Gasdan sedikit ragu pasalnya dirinya sempat berbuat tidak sopan saat di mobil tadi. “Sama-sama Gasdan” entah mengapa Amadea merasa betah melihat sepasang mata coklat jernit di depannya. Namun mengingat waktu, akhirnya dia pamit membuat Gasdan memandangnya dengan pandangan yang entah dirinya sendiri pun tak tahu. “Maaf tadi di mobil Gasdan berteriak, dan terima kasih sudah mengantar Gasdan ke sekolah” Amadea yang mendengar seketika memperlihatkan senyum simpul, tidak terpikir sebelumnya bila Gasdan akan bersikap manis seperti ini. Ya, menurutnya manis karena sedari tadi dirinya hanya mendapati raut wajah tidak bersahabat dari Gasdan. Tapi sekarang, ketika melihat anak kecil di hadapannya menunduk malu, Amadea tidak bisa menahan senyumannya. “Nggak apa-apa, belajar yang rajin ya” ucapan yang diiringi oleh sapuan halus di puncak kepala membuat anak kecil yang masih menunduk itu segera mengangkat wajahnya. Entah mengapa tangan kecilnya terulur ke depan membuat Amadea mengeryitkan kening bingung sesaat, namun setelahnya dengan ragu menarik tangan kanannya dari puncak kepala Gasdan dan mengulurkannya ke depan, dalam hati berdoa semoga dirinya tidak salah mengartikan maksud anak tampan di depannya ini. “Gasdan masuk dulu, assalamualaikum” ucap Gasdan sambil menampakkan senyum giginya setelah mencium tangan Amadea, membuat wanita tersebut memandangnya terkejut. Walau sempat terpikir Gasdan memang ingin salam ketika mengulurkan tangannya, tapi ketika yang terpikirkan terjadi entah mengapa membuat desiran singkat kembali terasa, bahkan beberapa saat lebih lama. Sedangkan Pak Buno yang ternyata memperhatikan sedari tadi langsung menampakkan wajah melogo, tak habis pikir. Bagaimana bisa anak majikannya bersikap sesopan tadi pada seseorang yang baru dikenalnya? Pak Buno memang menyusul masuk ke area playgroup ketika tidak menemukan Amadea dan kerajinan Gasdan di dalam mobil sehingga pemandangan langka ini bisa dia lihat. “Wa`alaikumussalam” balas Amadea setelahnya memberikan senyum lembut, melihat Gasdan yang berlari menjauh seraya melambaikan tangan kanannya, Amadea pun membalas walau awalnya terlihat ragu. To Be Continued...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN